Kegiatan al Masoem (2)

5 Faktor Eksternal Penyebab Santri Tidak Betah di Pesantren

Banyak sekali faktor penyebab kenapa santri tidak betah dipesantren, salah satu faktor utama santri tidak betah adalah karena faktor dari pesantren itu sendiri seperti : 

  1. Minimnya pengawasan dari guru, ustadz atau wali santri pesantren
  2. Adanya ketidakadilan dari pengasuh kepada santri
  3. Kurang profesionalnya lembaga dalam membangun kurikulum pesantren
  4. Program yang monoton
  5. Peraturan yang ketat tidak disertai dengan apresiasi yang layak

Selain faktor internal atau faktor dari pondok pesantren itu sendiri juga ada 5 faktor eksternal yaitu faktor dari siswa itu sendiri. Dari berbagai macam pengalaman kami dalam mengatasi santri yang memang tidak betah berada di pesantren, dan beberapa santri yang belum genap 1 tahun berada di pondok tapi sudah memiliki mutasi keluar atau mengundurkan diri sebagai santri adalah karena beberapa faktor eksternal berikut seperti : 

  1. Mondok karena paksaan orang tua
  2. Tidak betah karena rindu rumah 
  3. Sering dikunjungi orang tua
  4. Tidak bisa bersosialisasi
  5. Korban Bully di pesantren

Mondok karena paksaan orang tua

Betul orang tua tahu apa yang terbaik untuk putra putrinya, kami tidak pernah menyalahkan itu karena mau bagaimanapun tidak ada orang tua yang ingin memberikan yang kurang baik bagi putra putrinya. Segala sesuatu pasti yang terbaik bagi anak anaknya, pesantren merupakan pilihan sekolah yang baik bahkan terbaik karena disini anak akan mendapatkan ilmu agama dan juga ilmu umum. Ingat ilmu agama adalah ilmu utama yang harus dimiliki setiap muslim, dan ilmu umum adalah ilmu tambahan untuk menjalani kehidupan santri di dunia masyarakat. 

Yang menjadi masalah adalah banyak orang tua yang memaksa tanpa memberikan pemahaman yang baik kepada putra putrinya, contoh memaksa anak ke pesantren padahal anak belum siap. Disini dibutuhkan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua agar anak bisa memahami maksud dan tujuan mereka di pesantrenkan, bukan karena orang tua tidak sayang,  justru karena orang tua sangat sayang sehingga mereka juga mengorbankan waktu yang akan lebih sedikit bertemu dengan putra putrinya demi masa depan anak anaknya. Kadang komunikasi ini yang menyebabkan anak seperti dipaksakan, yang akan berujung anak tidak betah di pesantren. Yuk moms, beri komunikasi yang baik kepada anak agar anak betah di pesantren.

Tidak betah karena rindu rumah 

Memang secara umum faktor rumah adalah faktor yang menyebabkan anak tidak betah dipesantren. Kebiasaan dirumah yang enak, tinggal menyuruh orang tua, orang tua buatkan, di rumah anak tinggal duduk didepan televisi orang tua melayani, di pesantren tidak begitu, anak harus mandiri, membersihkan kamarnya sendiri, nyuci sendiri meskipun ada pesantren yang menyediakan laundry tapi tetap saja celana dalam dan pakaian dalam harus dicuci sendiri, selain itu juga pesantren yang jauh dari orang tua membuat anak rindu, kangen sama orang tua, ya hal yang umum terjadi pada anak anak pesantren. Jika memang ini faktor yang menyebabkan anak tidak betah dipesantren, alangkah baiknya bagi orang tua untuk tidak melepas langsung anak ketika di pondok, tapi lepaslah perlahan lahan, berikan jeda waktu untuk mulai melepaskannya hingga mereka benar benar betah di pesantren. Percayalah 1 hingga 3 bulan pertama anak akan cengeng, nangis di pojokan kamar, tapi lama lama anak malah lebih betah di pesantren dan jarang ingin pulang ke rumah. So, kuat kuat diri saja bagi orang tua untuk tidak terlalu memperlihatkan ekspresi sedih jika anak sedang kangen rumah.

Sering dikunjungi orang tua

Faktor eksternal selanjutnya yang membuat santri tidak betah di pesantren adalah seringnya orang tua berkunjung. Oke berkunjung selayaknya saja tidak apa, seperti setiap 1 bulan sekali atau 2 minggu sekali itu masih normal, tapi jika setiap minggu berkunjung itu akan membuat anak galau. Maka tidak aneh jika ada beberapa pondok pesantren yang mengisolasi anak anak pesantren untuk tidak bertemu orang tuanya selama 1 semester pertama, kami tidak termasuk yang seperti itu, justru kami memiliki konsep yang berbeda, emangnya kami tidak merekomendasikan orang tua untuk berkunjung setiap minggu apa lagi diawal anak mesantren, tapi kami tidak melarang juga bagi orang tua untuk bertemu putra putrinya setiap weekend apalagi bagi anak yang baru mesantren, karena memiliki konsep untuk perlahan melepaskan anak. Tidak langsung dibatasi begitu saja, selain orang tua memiliki hak untuk bertemu dengan putra putrinya, kami juga anti membuat santri stress, karena stressnya santri akan berpengaruh kepada pembelajaran mereka di pondok juga.

Tidak bisa bersosialisasi

Faktor keempat adalah ketidakmampuan anak atau santri untuk bersosialisasi, ini yang menyebabkan anak tidak betah mesantren. Memang sulit juga jika anak tidak pandai bersosialisasi dengan lingkungan yang baru, hal seperti ini butuh penanganan khusus dan perhatian khusus baik dari wali santri di pesantren dan juga dari pihak pesantren seperti konselor pesantren. Jika karena memang faktor kepribadian mungkin bisa dirubah dengan waktu yang lama tapi jika karena faktor lain seperti faktor teman yang memang tidak ingin berteman dengan santri tersebut ini akan diusut secara tuntas dan mencari jalan keluar lainnya agar santri bisa betah di pesantren, bisa dengan mengganti wali santri, pindah kamar dengan santri yang lebih bisa berbaur dengan dia dan beberapa hal lainnya.

Korban Bully di pesantren

Ini faktor pamungkas yang memang rawan sekali di pesantren adalah pembullyan yang terjadi kepada santri. Santri yang menjadi korban bully biasanya tidak akan betah di pesantren, itu pasti. Langkah bijaksana jika memang anda tidak betah karena pembully, lebih baik anda melaporkannya kepada pengelola pesantren, jangan sampai anda mengundurkan diri karena tidak betah menjadi korban bully. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang harus bisa melindungi santrinya, jika bully menjadi alasan kenapa santri tidak betah di pesantren, maka pesantren harus berbenah dan mengatur ulang dan mengganti manajemen untuk mampu mengatasi hal ini agar tidak terulang kembali kepada santri lainnya.