Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Memilih antara SD reguler dan SD International Class sering menjadi dilema bagi orang tua. Keduanya sama-sama dapat menjadi pilihan pendidikan dasar yang baik, tetapi memiliki karakteristik program yang berbeda. Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “mana yang lebih bagus?”, melainkan “mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan anak?”
SD Al Ma’soem memiliki program Full Day reguler dan International Class dengan pendekatan yang berbeda. Program reguler menekankan integrasi kurikulum DIKNAS 100% dengan kurikulum sekolah serta penguatan IMTAK dan IPTEK. Sementara itu, International Class memberikan penekanan lebih besar pada Cambridge curriculum, Bahasa Inggris, pembelajaran bilingual, teknologi, dan pengalaman internasional.
Dengan memahami perbedaannya, orang tua dapat membuat keputusan yang lebih rasional.
Pada program reguler, SD Al Ma’soem memadukan kurikulum DIKNAS 100% dengan kurikulum Al Ma’soem. Ada tambahan pembelajaran Bahasa Arab, Tahfidz, Bahasa Inggris, serta pengenalan dan praktik komputer.
Pendekatan ini cocok bagi keluarga yang ingin anak mendapatkan dasar kurikulum nasional sekaligus penguatan agama, bahasa, dan teknologi.
Sementara International Class menggunakan Cambridge curriculum dan integrated syllabus dengan interactive and purposeful learning activities. Program juga berfokus pada pengembangan core language skills serta penggunaan topik yang relevan.
Dengan demikian, pilihan kurikulum perlu dikaitkan dengan tujuan pendidikan keluarga.
Perbedaan paling mudah terlihat adalah intensitas Bahasa Inggris. International Class menerapkan bilingual instruction, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta mengintegrasikan Intensive English Course atau IEC dengan Cambridge Standards. Program tersebut juga mencantumkan Extended English Learning Hours.
Selain itu, tersedia Native English Teacher.
Hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi orang tua yang ingin anak mendapatkan paparan Bahasa Inggris lebih banyak sejak sekolah dasar.
Namun, bukan berarti siswa reguler tidak belajar Bahasa Inggris. Program reguler juga mencantumkan Bahasa Inggris sebagai salah satu tambahan pembelajaran.
Perbedaannya terutama terletak pada intensitas dan lingkungan penggunaan bahasa.
Program reguler memiliki fasilitas seperti laboratorium komputer, lapangan mini soccer sintetis, lapangan basket, panggung kreasi, perpustakaan, reading corner, mini zoo, klinik kesehatan, kantin representatif, dan kolam renang.
International Class memiliki fasilitas khusus yang lebih berorientasi pada lingkungan pembelajaran internasional, seperti Air-Conditioned Classrooms, Smart TV, Integrated E-Learning Network, multimedia, In-Class Computers, student lockers, class bulletin board, ergonomic student desks, dan Native English Teacher.
Jadi, perbandingan fasilitas sebaiknya tidak hanya berdasarkan jumlah. Yang lebih penting adalah fungsi fasilitas tersebut terhadap kebutuhan belajar anak.
Jika anak membutuhkan ruang olahraga, aktivitas kreatif, literasi, dan teknologi dasar, program reguler memiliki banyak fasilitas pendukung. Jika orang tua mengutamakan lingkungan kelas dengan teknologi pembelajaran dan paparan Bahasa Inggris lebih intensif, International Class dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.
International Class mempunyai Smart Package yang mencakup interactive learning with Smart TV, bilingual instruction, integrasi IEC dan Cambridge Standards, Native English Teacher, Extended English Learning Hours, field trip, dan Free Annual Overseas Study Tour.
Ini menjadi pembeda penting.
Pengalaman internasional tidak hanya bermanfaat untuk kemampuan bahasa. Anak juga dapat memperoleh kesempatan mengenal lingkungan dan budaya yang berbeda.
Bagi keluarga yang memiliki rencana pendidikan jangka panjang dengan orientasi global, aspek ini dapat menjadi salah satu pertimbangan utama.
Orang tua tentu perlu melihat kemampuan finansial keluarga. Struktur biaya kedua program berbeda.
Pada program International Class, informasi biaya mencantumkan registrasi Rp730.000, KPAM Rp150.000, student equipment Rp1.140.000, Education Development Fee berdasarkan batch, serta monthly tuition fee Rp3.100.000. Total pada Batch 1 tercantum Rp15.670.000, sedangkan Extra Batch tercantum Rp18.490.000. Biaya tersebut belum mencakup seragam dan buku teks, sementara biaya bulanan disebut flat sampai lulus.
Program reguler mempunyai struktur biaya yang berbeda sehingga tidak tepat jika dibandingkan hanya dari satu angka.
Karena itu, orang tua sebaiknya menghitung total kebutuhan pendidikan berdasarkan program yang dipilih.
International Class dapat menjadi pilihan menarik bagi anak yang memiliki ketertarikan terhadap Bahasa Inggris, nyaman dengan pembelajaran bilingual, senang menggunakan teknologi, dan siap mengikuti aktivitas dengan perspektif internasional.
Namun, kesiapan anak tetap menjadi faktor penting.
Anak tidak harus sudah fasih Bahasa Inggris sebelum masuk. Yang lebih penting adalah memiliki kesiapan belajar, kemauan berkomunikasi, dan kemampuan mengikuti proses pembelajaran.
Program reguler dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin pendidikan dasar dengan fondasi kurikulum nasional, penguatan keagamaan, Bahasa Inggris, teknologi, serta banyak pilihan ekstrakurikuler.
Program tersebut juga menyediakan berbagai kegiatan seperti Tahfidz, English Club, Math Club, Sains Club, Futsal, Taekwondo, Catur, Hockey, Basket, Panahan, Robotik, Bola Volly, dan Paduan Suara.
Keragaman ini memberikan ruang bagi anak untuk menemukan bakat tanpa harus berada dalam program internasional.
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua anak.
Jika prioritas keluarga adalah kurikulum nasional dengan penguatan IMTAK-IPTEK dan pilihan kegiatan yang beragam, SD reguler dapat menjadi pilihan rasional.
Jika prioritasnya adalah Bahasa Inggris yang lebih intensif, Cambridge curriculum, lingkungan bilingual, teknologi pembelajaran, Native English Teacher, dan pengalaman internasional, International Class lebih relevan untuk dipertimbangkan.
Kuncinya adalah menyesuaikan program dengan karakter anak, tujuan keluarga, kesiapan belajar, serta anggaran pendidikan. Dengan cara tersebut, keputusan memilih SD tidak dibuat hanya karena label “reguler” atau “internasional”, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata anak untuk berkembang secara optimal.