Watak Manusia; Kalau Bencananya Dicabut, Merasa Gembira dan Bangga

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَئِنْ  اَذَقْنٰهُ  نَـعْمَآءَ  بَعْدَ  ضَرَّآءَ  مَسَّتْهُ  لَيَـقُوْلَنَّ  ذَهَبَ  السَّيِّاٰتُ  عَنِّيْ    ۗ اِنَّهٗ  لَـفَرِحٌ  فَخُوْرٌ
“Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, Telah hilang bencana itu dariku. Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga,”(QS. Hud 11: Ayat 10)
Kalau bencananya dicabut, merasa gembira dan bangga
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Jika Allah menghindarkan manusia dari kemudaratan yang telah menimpa dirinya, dan menggantinya dengan beberapa kenikmatan seperti sembuh dari sakit, bertambah tenaga dan kekuatan, terlepas dari kesulitan, selamat dari ketakutan, maka ia berkata, “Telah hilang dariku musibah dan penderitaan yang tidak akan kembali lagi.”
Musibah dan penderitaan itu tidak lain hanya seperti awan di musim kemarau yang akan segera hilang. Mereka mengucapkan kata-kata yang demikian itu dengan penuh kesombongan dan kebanggaan. Mereka merasa lebih berbahagia dari semua orang yang berada di sekitarnya. Pada dasarnya mereka tidak menerima nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur bahkan sebaliknya mereka bersikap sombong dan takabur.
فَاَ مَّا  الْاِ نْسَا نُ  اِذَا  مَا  ابْتَلٰٮهُ  رَبُّهٗ  فَاَ كْرَمَهٗ  وَنَعَّمَهٗ  ۙ فَيَقُوْلُ  رَبِّيْۤ  اَكْرَمَنِ
“Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 15)
وَاَ مَّاۤ  اِذَا  مَا  ابْتَلٰٮهُ  فَقَدَرَ  عَلَيْهِ  رِزْقَهٗ    ۙ فَيَقُوْلُ  رَبِّيْۤ  اَهَا نَنِ
“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 16)
Inti Hud 8 dan 9
  • Saat nikmat hilang → putus asa dan ingkar.
  • Saat nikmat datang setelah susah → sombong dan merasa aman.
Surah Al-Fajr: 15–16 “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.”
  • Saat dilapangkan rezeki → merasa dimuliakan.
  • Saat disempitkan rezeki → merasa dihina.
Persamaan Kandungan:
1. Keduanya menyoroti kesalahan manusia dalam menilai ujian dan nikmat.
  • Mereka menyangka kelapangan = kemuliaan.
  • Mereka menyangka kesempitan = kehinaan.
2. Manusia dinilai cepat menyimpulkan tanpa memahami hikmah ilahi.
3. Kedua ayat menunjukkan bahwa ujian bisa berupa kesenangan maupun kesempitan.
Allah mengingatkan bahwa manusia, jika tidak berhati-hati, bisa lupa diri saat menerima kenikmatan setelah kesusahan. Ia merasa semua keburukan telah pergi, lalu jadi terlalu bangga dan sombong, padahal seharusnya ia bersyukur dan sadar bahwa semua datang dari Allah.
Untuk  sekalu menjaga hati agar tidak sombong dan tetap rendah hati ketika diberi nikmat setelah kesusahan:
Doa Agar Tidak Sombong Saat Dapat Nikmat
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْفَرِحِينَ الْفَخُورِينَ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersyukur, teguhkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu, dan jangan jadikan aku termasuk orang-orang yang terlalu bergembira dan membanggakan diri.”