Ucapan yang Buruk: Seperti Pohon Tanpa Akar, Mudah Tercabut dan Tidak Bertahan

Allah Subhnahau wa Ta’ala berfirman;

وَمَثَلُ  كَلِمَةٍ  خَبِيْثَةٍ  كَشَجَرَةٍ  خَبِيْثَةِ  ٱِجْتُثَّتْ  مِنْ  فَوْقِ  الْاَ رْضِ  مَا  لَهَا  مِنْ  قَرَا رٍ

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 26)

Perkataan buruk diibaratkan seperti pohon yang jelek, tercabut dari akarnya

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Dan perumpamaan kalimat yang buruk (kalimat kufur) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dengan sangat mudah dari permukaan bumi. Akar pohon itu tercerabut sehingga tidak lagi dapat menopangnya supaya dapat tetap tegak berdiri sedikit pun seperti sedia kala. Demikianlah, orang kafir tidak mempunyai keyakinan yang kuat dalam hati dan tidak ada amal darinya yang akan diterima oleh Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghadirkan sebuah perumpamaan yang sangat dalam tentang ucapan manusia dalam QS Ibrahim ayat 24–26. Bukan sekadar indah secara bahasa, tetapi juga tajam dalam menilai kualitas iman dan dampaknya dalam kehidupan.

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Ayat ini tidak sekadar membahas baik dan buruknya ucapan secara lahiriah, tetapi menyingkap sumber kehidupan di balik ucapan itu sendiri: apakah ia berakar kuat atau justru tercerabut dari dasar kebenaran.

Perumpamaan yang Tidak Sederhana. Dalam rangkaian ayatnya, Al-Qur’an menggambarkan dua jenis “kalimah” (ucapan):

Kalimah thayyibah (ucapan baik), seperti pohon yang:

  • Berakar kokoh
  • Menjulang tinggi
  • Berbuah terus-menerus

Kalimah khabitsah (ucapan buruk). seperti pohon yang:

  • Tercabut dari akarnya
  • Tidak memiliki keteguhan
  • Tidak bisa bertahan, apalagi berbuah

Perbandingan ini ternyata bukan sekadar “berbuah atau tidak”, tetapi tentang kehidupan, keberlanjutan, dan sumber kekuatan. Tiga Tingkatan Kehidupan dan Manfaat

Dari perumpamaan ini, kita bisa memahami tingkatan yang lebih luas dalam kehidupan manusia:

1. Pohon yang baik:

Hidup, kokoh, dan terus berbuah → menggambarkan iman yang kuat dan amal yang terus memberi manfaat

2. Pohon yang tidak berbuah
Masih hidup, tapi terbatas manfaatnya → seperti orang yang memiliki iman, namun belum produktif dalam amal. Meski tidak berbuah, ia masih memberi: naungan, perlindungan dan oksigen.

3. Pohon yang tercabut dari akar
Tidak hidup dan tidak bermanfaat → menggambarkan ketiadaan dasar kebenaran. Tidak tumbuh, tidak bertahan, dan tidak memberi manfaat sama sekali

Di sini terlihat jelas: kebatilan bukan hanya tidak produktif, tapi juga tidak memiliki fondasi untuk bertahan dan tidak memberikan mamfaat.

Menguatkan dengan Ciri Orang Beriman. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Mu’minun ayat 3: “…orang-orang yang menjauh dari (perkataan dan perbuatan) yang sia-sia (laghw)…”

Kata laghw memberi kita satu lapisan penting:

  • Bukan buruk secara terang-terangan
  • Tetapi tidak memberi manfaat

Artinya, Al-Qur’an tidak hanya mengajak meninggalkan yang haram atau buruk, tetapi juga: meninggalkan yang tidak bernilai menuju yang bermanfaat. Tingkatan Ucapan: Dari Merusak hingga Membangun. Jika disusun menjadi satu benang merah, maka kualitas ucapan manusia dapat dilihat dalam tiga level:

  • Level bawah: ucapan buruk → merusak, menyesatkan, tidak punya dasar (seperti pohon tercabut)
  • Level tengah: ucapan sia-sia (laghw) → tidak merusak, tapi juga tidak membangun
  • Level tinggi: ucapan baik (thayyibah) → memberi manfaat, menguatkan, dan berbuah kebaikan

Inilah perjalanan seorang mukmin: dari meninggalkan yang buruk, naik meninggalkan yang sia-sia, hingga mencapai ucapan yang memberi manfaat. Pesan besar dari perumpamaan ini adalah :

  • Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk “hidup”, tetapi: hidup yang berakar kuat dan memberi manfaat yang terus mengalir.
  • Ucapan bukan sekadar suara yang keluar dari lisan, tetapi: cerminan iman, sumber pengaruh dan penentu kebermanfaatan hidup.

Renungan Penutup: Setiap hari kita berbicara, setiap kata yang keluar membawa nilai. Maka pertanyaannya sederhana ;

  • Ucapan kita berada pada level yang mana?
  • Merusak… sia-sia… atau memberi manfaat?

Karena pada akhirnya, bukan banyaknya kata yang akan bernilai, tetapi akar dan buah dari setiap ucapan yang kita keluarkan. Doa menjaga lisan dari yang sia-sia dan buruk

اللَّهُمَّ احْفَظْ لِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَاللَّغْوِ

“Allahumma ihfaẓ lisānī minal-kadhib wal-ghībah wal-laghw”

“Ya Allah, jagalah lisanku dari dusta, ghibah, dan perkataan yang sia-sia.”