Toleransi tidak Berarti Mengorbankan Akidah, Tetapi Perwujudan Akhlak Mulia

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يُرِ يْدُوْنَ  اَنْ  يُّطْفِـئُــوْا  نُوْرَ  اللّٰهِ  بِاَ  فْوَاهِهِمْ  وَيَأْبَى  اللّٰهُ  اِلَّاۤ  اَنْ  يُّتِمَّ  نُوْرَهٗ  وَلَوْ  كَرِهَ  الْـكٰفِرُوْنَ
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 32)
Disuruh toleransi, padahal nasrani dan yahudi ingin melenyapkan agama tauhid yang dibawa nabi Muhammad  SAW
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan keinginan jahat Ahli Kitab. Mereka ingin melenyapkan agama tauhid, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, agama yang penuh dengan bukti-bukti yang menunjukkan keesaan Allah swt, agama yang mensucikan-Nya dari hal-hal yang tidak wajar bagi-Nya. Umat Islam yakin bahwa ajaran Islam tinggi, seperti sabda Nabi saw: Islam itu tinggi dan tidak ada (agama) yang melebihi ketinggiannya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Segala macam usaha dan ikhtiar dilakukan oleh mereka, baik dengan jalan halus maupun dengan jalan kasar, berupa kekerasan, penganiayaan, peperangan dan lain sebagainya, untuk menghancurkan agama Allah, yang diumpamakan nur atau cahaya yang menyinari alam semesta ini. Tetapi Allah tidak merestui maksud jahat itu. Semua usaha mereka tidak berhasil, sedang agama Islam hari demi hari semakin meluas sampai ke pelosok-pelosok, sehingga dunia mengakui kemurniannya, sekalipun belum semua umat manusia memeluknya.
Meskipun bukti-bukti telah cukup dan kenyataan-kenyataan telah jelas menunjukkan kebenaran agama Islam, namun mereka tetap memungkirinya. Mereka bekerja keras dengan segala macam usaha dan cara, agar kaum Muslimin rela meninggalkan agamanya atau memeluk agama mereka.
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. (al-Baqarah/2: 120)
Dan firman-Nya: Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. (Ali ‘Imran/3: 118)
Disuruh toleransi, padahal nasrani dan yahudi ingin melenyapkan agama tauhid yang dibawa nabi Muhammad  SAW.
“Sebagian besar dari Ahli Kitab ingin kalau mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Baqarah: 109).
Seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga akidahnya, tetapi tidak berarti kita harus bermusuhan dengan semua pihak. Sikap waspada terhadap musuh agama itu penting, namun jangan sampai melampaui batas atau menciptakan permusuhan yang tidak diperlukan. Keteladanan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW selalu berinteraksi dengan non-Muslim dengan cara yang baik, bahkan terhadap mereka yang memusuhi beliau. Rasulullah tidak pernah melanggar prinsip keadilan, bahkan dalam keadaan perang. Ini menunjukkan bahwa Islam mempromosikan perdamaian sejauh mungkin.
Toleransi tidak berarti mengorbankan akidah, tetapi merupakan perwujudan akhlak mulia Islam. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjaga iman kita sambil tetap adil dan damai dengan sesama manusia, tanpa mengabaikan kewaspadaan terhadap pihak yang memusuhi agama kita. Dengan meneladani Rasulullah SAW, kita dapat hidup harmonis di tengah perbedaan tanpa kehilangan identitas sebagai Muslim.
Toleransi dalam Islam bukan berarti mengorbankan akidah, tetapi bersikap adil dan damai dengan siapa saja yang tidak memusuhi kita.
Doa memohon perlindungan kepada Allah SWT, dalam menhadapi orang orang kafir.
ۗ رَبَّنَا  لَا  تُؤَاخِذْنَاۤ  اِنْ  نَّسِيْنَاۤ  اَوْ  اَخْطَأْنَا  ۚ رَبَّنَا  وَلَا  تَحْمِلْ  عَلَيْنَاۤ  اِصْرًا  كَمَا  حَمَلْتَهٗ  عَلَى  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِنَا  ۚ رَبَّنَا  وَلَا  تُحَمِّلْنَا  مَا  لَا  طَا قَةَ  لَنَا  بِهٖ  ۚ وَا عْفُ  عَنَّا  ۗ وَا غْفِرْ  لَنَا  ۗ وَا رْحَمْنَا  ۗ اَنْتَ  مَوْلٰٮنَا  فَا نْصُرْنَا  عَلَى  الْقَوْمِ  الْكٰفِرِ يْنَ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)