Tiga Alasan Orang Kafir Quraisy Membunuh Anak Perempuannya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَذٰلِكَ  زَ يَّنَ  لِكَثِيْرٍ  مِّنَ  الْمُشْرِكِيْنَ  قَـتْلَ  اَوْلَا دِهِمْ  شُرَكَآ ؤُهُمْ  لِيُرْدُوْهُمْ  وَلِيَلْبِسُوْا  عَلَيْهِمْ  دِيْنَهُمْ  ۚ وَلَوْ  شَآءَ  اللّٰهُ  مَا  فَعَلُوْهُ  ۗ فَذَرْهُمْ  وَمَا  يَفْتَرُوْنَ

“Dan demikianlah berhala-berhala mereka (setan) menjadikan terasa indah bagi banyak orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 137)

Membunuh anak perempuan dengan alasan yang tidak jelas dan sulit dimengerti
Melakukan sesuatu harusnya dengan alasan yang jelas dan dapat dimengerti, membuat pertanyaan, apakah yang dilakukan, Allah ridha/tidak ?

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana sewenang-wenangnya para pemimpin dan pemuka agama kaum musyrik Mekah, dengan menganjurkan kepada pengikut-pengikutnya agar tidak segan membunuh anak-anak perempuan mereka sendiri dengan alasan yang tidak jelas dan sulit dimengerti. Padahal membunuh anak perempuan sendiri itu bertentangan dengan naluri manusia, dan bertentangan pula dengan cita-cita pembinaan keluarga yang harmonis. Dengan sendirinya bertentangan dengan pembinaan umat yang kukuh dan kuat karena kukuh dan kuatnya suatu umat tergantung kepada kuat dan kukuhnya keluarga-keluarga yang membentuk umat tersebut. Anjuran mereka itu hanya berdasarkan tiga hal:

Pertama: Karena kemiskinan atau takut akan ditimpa kemiskinan. Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya:
Janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (al-An’am/6: 151)
Dalam firman-Nya yang lain:
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar. (al-Isra’/17: 31).

Kedua: Karena takut akan mendapat malu di belakang hari. Mereka membunuh anak-anak mereka yang perempuan dengan menguburnya hidup-hidup, karena anak-anak itu apabila mereka besar nanti mungkin melakukan perbuatan keji dan tercela, atau dirampas menjadi tawanan dan diperbudak, atau kawin dengan laki-laki yang tidak sekufu atau lebih rendah derajatnya dari derajat bapaknya.

Dalam hal ini Allah berfirman:
Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu. (an-Nahl/16: 58-59)

Ketiga: Karena mereka nazar kepada berhala, bahwa mereka akan mengorbankan anak mereka untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhala itu. Atau karena alasan lain misalnya kebiasaan mereka bila mereka telah mendapat sejumlah anak akan mengorbankan seorang diantara mereka seperti yang pernah dilakukan Abdul Muththalib kakek Nabi Muhammad ketika dia bersumpah akan mengorbankan Abdullah ayah Nabi Muhammad, apabila ia diberi sepuluh orang anak. Demikianlah anjuran kaum musyrikin yang merusak tabiat dan naluri mereka sebagai manusia yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang kepada anak, sifat yang mulia ini berbalik menjadi kejam. Ia tidak segan-segan membunuh anaknya darah daging sendiri.

Demikianlah mereka mengelabui kaumnya sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan mana peraturan agama yang sebenarnya yang harus diikuti dan dilaksanakan. Jika Allah menghendaki, tentulah Allah dapat menahan mereka dari perbuatan yang merusak itu dan mereka tidak akan melakukannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar membiarkan mereka membuat peraturan yang merusak dengan sekehendak hati mereka, karena dengan demikian mereka akan menjadi lemah dan kehilangan kepercayaan terhadap diri mereka sendiri.

Melakukan sesuatu atau beramal merupakan bagian terpenting dalam hidup manusia dalam hakikatnya sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT.

Umat Islam dianjurkan beramal sebanyak mungkin. Menebarkan kebaikan kepada sesama maupun alam.

Tetapi, hal yang terpenting bagi seorang Muslim saat beramal adalah mendapatkan ridha Ilahi.

Agar mendapatkan ridha dari Allah, dianjurkan mengucap doa ini. Doa ini merupakan doa putri Rasulullah Muhammad SAW, Fatimah Az Zahra.

Allahumma inni as’aluka huda wattuqa wal ‘afafa wa ghina wal ‘amala bima tuhibbu watardha, allahumma inni as’aluka min quwwatika lidha’fina wa min ghinaka lifaqrina wa faqatina, wamin hilmika wa ‘ilmika li jahlina, allahumma shalli ‘ala muhammadin wa ‘ali muhammadin, wa a’inna ‘ala syukrika wa dzikrika, wa tha’atika wa ‘ibadatika, birahmatika ya arhamar rahimin.

“Ya Allah, aku memohon petunjuk pada-Mu dan kehormatan dan kekayaan serta beramal sesuai dengan apa yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah, aku memohon kekuatan dari-Mu karena kelemahan kami, kekayaan dari-Mu karena kefakiran dan kepapaan kami, dan kearifan dan ilmu dari-Mu karena kejahilan kami. Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya dan bantulah kami supaya dapat bersyukur dan berzikir pada-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi