Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِ يْدُوْنَ وَجْهَهٗ ۗ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَا بِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّمَا مِنْ حِسَا بِكَ عَلَيْهِمْ مِّنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُوْنَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
“Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 52)
Menyampaikan dakwah tidak boleh membeda-bedakan dan bersikap diskriminatif terhadap objek dakwah berdasarkan status sosialnya
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi Muhammad sedang bersama para sahabat dari golongan kurang mampu seperti Bilal bin Rabah dan kawan-kawan, maka datang para tokoh musyrik yang katanya mau mendengar dakwah Nabi dengan syarat beliau mengusir orang-orang miskin tersebut. Allah mengingatkan Nabi untuk tidak melakukan itu. Janganlah engkau, wahai Nabi, mengusir orang-orang miskin yang menyeru Tuhannya, yaitu beribadah dengan sungguh-sungguh, pada pagi dan petang hari.
Mereka hanya mengharapkan keridaan-Nya. Sedangkan atas para tokoh musyrik tersebut engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu. Karena itu, wahai Nabi, engkau tidak perlu khawatir yang menyebabkan engkau mengusir mereka. Jika itu engkau lakukan, maka engkau termasuk orang-orang yang zalim. Pelajaran utama ayat ini adalah dalam menyampaikan dakwah tidak boleh membeda-bedakan dan bersikap diskriminatif terhadap objek dakwah berdasarkan status sosialnya.
Berdakwah, beribadah, beramal dan bersedekah semata-mata karena Allah, tidak menginginkan pujian dari manusia.
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (al-Insan/76: 9)
“Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna). (al-Lail/92: 19-21)
Ibadahnya hanya mengharapkan ridha Allah SWT, oleh sebab itu setiap muslim harus selalu memperkuat kadar keikhlasan dalam hidupnya.
Saking pentingnya ikhlas, juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw bahwa Allah ta’ala akan memberi pertolongan bagi siapa saja yang ikhlas.
Nabi saw bersabda, “Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena doa orang miskin tersebut, karena salat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.” (HR. Nasa’i)
Terdapat sebuah doa yang diajarkan Rasulullah saw berkaitan dengan ikhlas agar amal ibadah kita dapat diterima Allah Swt.
Allahumma inni a’udzubika an usryrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima la a’lam
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku pun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui. (HR.Ahmad)