أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْظُرُ اِلَيْكَ ۗ اَفَاَ نْتَ تَهْدِى الْعُمْيَ وَ لَوْ كَا نُوْا لَا يُبْصِرُوْنَ
“Dan di antara mereka ada yang melihat kepada engkau. Tetapi apakah engkau dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta walaupun mereka tidak memperhatikan?” (QS. Yunus 10: Ayat 43)
Sebagian manusia dapat melihat kebenaran, tetapi sebagian lainnya tetap berada dalam kegelapan meskipun tanda-tanda telah jelas di hadapan mereka.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sesudah itu Allah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ada pula kelompok orang yang benar-benar memperhatikan Nabi Muhammad saw pada saat membacakan Al-Qur’an. Akan tetapi, perhatian mereka itu hanya lahiriyah semata dan hanya melihat gerakan lidah Nabi pada saat mengucapkan lafaz dan susunannya, bukan merupakan perhatian yang murni yang dapat memahami dan memikirkan makna yang terkandung di dalam kata yang tersusun dalam kalimat itu. Itulah sebabnya maka cahaya iman dalam hati mereka tidak dapat memancar karena tertutup noda-noda kemusyrikan.
Mereka tidak dapat melihat tanda-tanda kebenaran dan petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an. Padahal pandangan batin inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Seharusnya dengan perhatian itu manusia dapat memahami dan memikirkan apa yang dilihatnya, karena Allah menyamakan mereka itu dengan orang buta.
Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan tidaklah mampu membuat mereka itu melihat tanda-tanda kebenaran yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Karena mereka memang tidak akan mampu mengindera tanda-tanda kebenaran ayatnya apalagi mereka tidak mempunyai niat untuk mempergunakan indera batinnya untuk memahami kandungan isi ayat-ayat Al-Qur’an itu selama-lamanya.
Tadabbur dari ayat ini:
1. Petunjuk bukan soal penglihatan fisik, tapi kesiapan hati; Meskipun seseorang melihat dengan mata kepala, jika hatinya tertutup, ia tetap tidak akan menangkap kebenaran. Ini mengajarkan bahwa hidayah adalah urusan hati dan kehendak Allah.
2. Nabi hanyalah penyampai, bukan pemberi hidayah; Rasulullah saw. tidak bisa memaksa orang untuk beriman; tugas beliau adalah menyampaikan. Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Ini pelajaran tentang batas peran manusia dalam dakwah.
3. Ada orang yang melihat tapi tetap buta secara spiritual; Ini menjadi peringatan agar kita tidak hanya melihat kebenaran secara lahir, tapi juga membuka hati untuk menerimanya, agar tidak menjadi seperti orang-orang yang Allah sebut “melihat tapi buta”.
4. Pentingnya keikhlasan dan ketulusan dalam mencari kebenaran; Jika seseorang mendekati agama dengan prasangka dan penolakan batin, maka sejelas apa pun tanda-tanda kebenaran, ia tidak akan mendapat manfaat darinya.
Doa agar Allah membuka penglihatan hati dan memberi hidayah agar tidak termasuk orang yang “melihat tapi buta”.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan, dan anugerahkan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya