Takut kepada Sekutu Allah atau Takut kepada Allah SWT

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَيْفَ  اَخَا فُ  مَاۤ  اَشْرَكْتُمْ  وَلَا  تَخَا فُوْنَ  اَنَّكُمْ  اَشْرَكْتُمْ  بِا للّٰهِ  مَا  لَمْ  يُنَزِّلْ  بِهٖ  عَلَيْكُمْ  سُلْطٰنًا  ۗ فَاَ يُّ  الْفَرِ يْقَيْنِ  اَحَقُّ  بِا لْاَ مْنِ  ۚ اِنْ كُنْتُمْ  تَعْلَمُوْنَ

“Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut dengan apa yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan kepadamu untuk menyekutukan-Nya. Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (QS. Al-An’am 6: Ayat 81)

Takut kepada sekutu Allah SWT atau Takut kepada Allah SWT

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menegaskan bahwa ia tidak takut kepada sesembahan mereka, akan tetapi hanya takut kepada Allah. Sikap Ibrahim yang demikian itu menarik perhatian mereka. Nabi Ibrahim mengatakan bahwa mengapa ia harus takut kepada sembahan-sembahan yang mereka persekutukan dengan Allah dan dijadikan perantara yang dianggap dapat memberikan manfaat dan menolak madarat? Sedang mereka itu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan ciptaan mereka sendiri.

Seharusnya yang ditakuti adalah pembangkangan mereka terhadap Allah dan dugaan mereka yang salah, yaitu menganggap patung-patung dan bintang-bintang sebagai Tuhan. Itulah sebabnya Allah mencela sikap mereka. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa agama yang dapat diterima ialah agama yang mempunyai alasan-alasan yang kuat dan bukti-bukti yang dapat diterima, apalagi mereka hanya memeluk agama dengan jalan taklid saja kepada nenek moyang mereka. Perbuatan demikian tidak didasarkan pada hidayah dan ilmu. Kemudian mereka dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memeluk agama tauhid atau kemusyrikan.

Sedangkan mereka sudah mengetahui bahwa Allah mempunyai kekuasaan menciptakan dan memusnahkan, menghidupkan dan mematikan, sedangkan patung-patung itu tidak dapat memberikan manfaat dan madarat sedikit pun. Di akhir ayat ini Allah menyuruh Nabi Ibrahim agar meminta jawaban kepada mereka apabila mereka sanggup menjawabnya…

Muhasabah/introspeksi diri;
Takut kepada sesuatu yang tidak memberikan mamfaat dan sesuatu yang tidak memberikan mudharat atau
Takut kepada sesuatu yang banyak memberikan mamfaat atau takut kepada sesuatu yang akan mendatangkan mudharat ?

Hasbunalloh wanikmal wakil ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung

اَلَمْ  تَعْلَمْ  اَنَّ  اللّٰهَ  لَهٗ  مُلْكُ  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  ۗ وَمَا  لَـکُمْ  مِّنْ  دُوْنِ  اللّٰهِ  مِنْ  وَّلِيٍّ  وَّلَا  نَصِيْرٍ

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 107)

Harus menjadi keyakinan utama bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pelindung sejati. Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menegaskan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak dan hanya kepada-Nya kita harus bergantung untuk meminta perlindungan, keselamatan dan perlindungan sejati hanya dapat ditemukan dalam iman dan ketaatan kepada Allah SWT.

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW supaya terhidar dari musyrik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Allahumma innii a’uudzubika annusyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).