Syukur bukan untuk Allah, tapi untuk Kebaikan Manusia Sendiri

Allah subhanahu wata’aala berfirman;
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَقَا لَ  مُوْسٰۤى  اِنْ  تَكْفُرُوْۤا  اَنْـتُمْ  وَمَنْ  فِى  الْاَ رْضِ  جَمِيْعًا  ۙ فَاِ نَّ  اللّٰهَ  لَـغَنِيٌّ  حَمِيْدٌ

“Dan Musa berkata, Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 8).

Syukur bukan untuk Allah, tapi untuk kebaikan manusia sendiri

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan Musa berkata untuk mengingatkan kaumnya bahwa mensyukuri nikmat Allah bukanlah untuk kepentingan Allah, “Jika kamu dan orang yang ada di bumi ini semuanya mengingkari nikmat Allah, maka sesungguhnya Allah Mahakaya sehingga keingkaran mereka tidak akan sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya, Maha Terpuji atas segala hal yang terjadi di alam semesta.”

Dari QS Ibrahim ayat 8, ada beberapa tadabur (renungan) yang bisa diambil:

  1. Allah Maha Kaya, tidak butuh manusia; Allah tidak bertambah mulia karena syukur kita, dan tidak berkurang sedikit pun karena kufurnya manusia. Ini menanamkan rasa tawadhu (rendah hati).
  2. Syukur kembali kepada diri sendiri; Setiap bentuk syukur (lisan, hati, perbuatan) manfaatnya kembali ke kita: hati lebih tenang, hidup lebih berkah, dan nikmat terasa cukup.
  3. Kufur nikmat merugikan diri sendiri; Mengeluh, tidak menghargai nikmat, atau menggunakan nikmat untuk maksiat, semua itu dampaknya kembali ke manusia, bukan kepada Allah.
  4. Allah tetap terpuji dalam segala keadaan; Walaupun seluruh manusia kufur, Allah tetap Maha Terpuji. Artinya, kemuliaan Allah tidak bergantung pada makhluk.
  5. Ujian nikmat dan ujian kekurangan sama-sama penting; Ayat ini mengingatkan bahwa nikmat bukan sekadar pemberian, tapi ujian: apakah kita bersyukur atau justru lalai.

Bersyukur, lalai atau kufur nikmat.

1. “Bersyukur atau lalai”, fokus pada sikap hati & kesadaran

  • Bersyukur: sadar bahwa nikmat dari Allah, diingat, dihargai.
  • Lalai: tidak sadar atau tidak memikirkan nikmat, hidup seakan-akan semua biasa saja (cuek, tidak ingat Allah).

Ini lebih ke pasif (tidak ingat, tidak peduli).

2. “Bersyukur atau kufur nikmat”, fokus pada sikap, tindakan

  • Bersyukur: mengakui, memuji, dan menggunakan nikmat sesuai ridha Allah.
  • Kufur nikmat: mengingkari, tidak menghargai, atau menggunakan nikmat untuk hal yang salah.

Ini bisa aktif (menyalahgunakan nikmat, bahkan menentang).

Perbedaan intinya:

  • Lalai = tidak sadar / tidak peduli (level lebih ringan, tapi berbahaya kalau dibiarkan)
  • Kufur nikmat = mengingkari / menyalahgunakan nikmat (lebih berat)

Contoh sederhana:

  • Punya rezeki:
  • Bersyukur: sadar itu dari Allah, dipakai untuk kebaikan
  • Lalai: menikmati saja, tidak ingat Allah
  • Kufur nikmat: dipakai untuk maksiat atau sombong

Lalai adalah pintu menuju kufur nikmat; jika tidak segera disadari, bisa naik tingkat menjadi pengingkaran. Allah tidak membutuhkan syukur manusia; kitalah yang membutuhkan syukur untuk kebaikan dan keselamatan diri kita sendiri

Doa utama dari hadits Nabi Muhammad SAW; Rasulullah SAW mengajarkan kepada Mu’adz bin Jabal:

اللّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Allohuma Aa‘inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika”

“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”