Sudah Ada Keterangan yang Jelas, Tapi Tetap Saja Mendustakan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ثُمَّ  بَعَثْنَا  مِنْۢ  بَعْدِهٖ  رُسُلًا  اِلٰى  قَوْمِهِمْ  فَجَآءُوْهُمْ  بِا لْبَيِّنٰتِ  فَمَا  كَا نُوْا  لِيُؤْمِنُوْا  بِمَا  كَذَّبُوْا  بِهٖ  مِنْ  قَبْلُ  ۗ كَذٰلِكَ  نَطْبَعُ  عَلٰى  قُلُوْبِ  الْمُعْتَدِيْنَ
“Kemudian setelahnya (Nuh), Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan yang jelas, tetapi mereka tidak mau beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci hati orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus 10:  74)
Sudah ada keterangan yang jelas, tapi tetap saja mendustakan
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Kemudian setelahnya Yakni Nabi Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka masing-masing, seperti Nabi Hud, Saleh, Ibrahim, Lut, dan Syu’aib, maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan yang jelas, agar mereka beriman kepada Allah, tetapi mereka tidak mau beriman karena mereka dahulu, yakni sebelum datangnya keterangan yang nyata, telah biasa mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci hati orang-orang yang melampaui batas, karena mereka telah memilih tidak mau menerima kebenaran
Meski umat Nabi Nuh berasal dari “keturunan yang diselamatkan” (umat pilihan), tetap saja generasi berikutnya banyak yang menyimpang.
1. Petunjuk Allah Bukan Warisan Biologis
  • Hidayah (petunjuk) tidak otomatis diwariskan melalui keturunan. Setiap individu tetap diberi kebebasan memilih (free will).
  • Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qasas: 56)
2. Manusia Cenderung Lupa dan Lalai
  • Seiring waktu, manusia cenderung:
  • Melupakan pesan-pesan kebenaran
  • Lebih mengikuti hawa nafsu, budaya, atau tekanan sosial.
  • Bahkan anak seorang nabi bisa menyimpang (seperti anak Nabi Nuh sendiri yang menolak naik kapal dan tenggelam)
3. Setiap Umat Diuji dengan Konteksnya Masing-Masing
  • Umat setelah Nabi Nuh hidup di zaman yang berbeda, dengan ujian yang berbeda.
  • Allah mengutus nabi-nabi setelah Nuh karena kerusakan dan penyimpangan itu terus muncul lagi, sebagai bentuk rahmat dan peringatan ulang.
4. Keturunan Terpilih Bukan Jaminan Keselamatan
  • Dalam Islam, keselamatan ditentukan oleh iman dan amal, bukan oleh nasab atau keturunan.
  • Seperti dalam firman Allah: ”…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13)
5. Pelajaran Moral: Jangan Mengandalkan Keturunan
  • Kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengajarkan bahwa iman harus diperjuangkan, bukan hanya diandalkan karena “lahir dari keluarga baik”.
  • Ini juga menjadi peringatan bagi umat sekarang agar terus menjaga nilai-nilai kebenaran, tidak lengah seperti generasi sebelumnya.
“Ya Allah, berilah kami dan keturunan kami petunjuk-Mu. Jangan Engkau biarkan kami bergantung pada diri kami sendiri. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan kebenaran dan mengikuti yang terbaik darinya. Anugerahkan kepada kami keteguhan dalam petunjuk, dan ketakwaan yang menyelamatkan kami pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali mereka yang datang kepada-Mu dengan hati yang bersih”