أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوْلٰٮنَا ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 51)
Hal yang menimpa kaum mukminin telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, yaitu hal-hal yang telah tercatat di Lauh Mahfudh sesuai dengan sunatullah yang berlaku pada hamba-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini memerintahkan kepada Rasulullah agar menjawab tantangan orang munafik yang merasa senang ketika Rasulullah dan para sahabatnya ditimpa kesulitan dan merasa sesak dada ketika Rasulullah dan para sahabatnya memperoleh kenikmatan dengan ucapan, “Apa yang menimpa diri kami dan apa yang kami peroleh dan kami alami adalah hal-hal yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, yaitu hal-hal yang telah tercatat di Lauh Mahfudh sesuai dengan sunatullah yang berlaku pada hamba-Nya, baik kenikmatan kemenangan maupun bencana kekalahan, segala sesuatunya terjadi sesuai dengan qadza dan qadar dari Allah dan bukanlah menurut kemauan dan kehendak manusia mana pun. Allah pelindung kami satu-satunya, dan kepada Dialah kami bertawakal dan berserah diri, dengan demikian kami tidak pernah merasa putus asa di kala ditimpa sesuatu yang tidak menggembirakan dan tidak merasa sombong dan angkuh di kala memperoleh nikmat dan hal-hal yang menjadi cita-cita dan idaman.”
Firman Allah:
Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (Ath-thalaq/65: 3)
Dan firman Allah:
Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu. Yang demikian itu karena Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman; sedang orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka. (Muhammad/47: 10 dan 11).
Keyakinan seorang mukmin apapun yang menimpa dirinya itu sudah menjadi ketetapan Allah SWT dan tercatat di loh mahfudz,
keimanan kepada takdir (qadha dan qadar). Dalam Islam, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik besar maupun kecil, telah ditetapkan oleh Allah SWT dan tercatat di Lauh Mahfuzh. Ini sesuai dengan firman Allah:
“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Keyakinan ini memiliki beberapa poin penting:
1. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu
Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
2. Ketetapan Tertulis di Lauh Mahfuzh
Semua takdir makhluk telah ditulis di Lauh Mahfuzh sejak sebelum penciptaan alam semesta. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah telah menulis takdir segala makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)
3. Takdir Terdiri dari Dua Jenis
Takdir Mubram (tidak bisa diubah) : Ketetapan yang pasti terjadi, seperti waktu kematian.
Takdir Mu’allaq (bergantung pada usaha manusia): Takdir yang bisa berubah dengan doa, ikhtiar, dan perbuatan, seperti rezeki.
4. Hikmah di Balik Keyakinan kepada Takdir
Menenangkan hati: Mukmin yang yakin kepada takdir tidak akan merasa terlalu bersedih atas musibah atau terlalu sombong atas nikmat.
- Menguatkan tawakal: Keyakinan bahwa semua urusan ada di tangan Allah membuat seseorang berserah diri sepenuhnya kepada-Nya setelah berusaha.
- Menghindari rasa iri dan dengki: Karena rezeki, jodoh, dan takdir setiap orang sudah ditetapkan oleh Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin! Sesungguhnya segala urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kebaikan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, dan itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)
Keyakinan ini membantu seorang mukmin untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang sabar, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersyukur. Karuniakanlah kepadaku hati yang ridha dan jiwa yang tenang”