Segala Sesuatu Adalah Milik Allah dan Tunduk kepada-Nya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لُوْا  اتَّخَذَ  اللّٰهُ  وَلَدًا  سُبْحٰنَهٗ  ۗ هُوَ  الْـغَنِيُّ  ۗ لَهٗ  مَا  فِى  السَّمٰوٰتِ  وَمَا  فِى  الْاَ رْضِ  ۗ اِنْ  عِنْدَكُمْ  مِّنْ  سُلْطٰنٍ  بِۢهٰذَا  ۗ اَتَقُوْلُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  مَا  لَا  تَعْلَمُوْنَ
“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia, Dialah Yang Maha Kaya; milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di Bumi. Kamu tidak mempunyai alasan kuat tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa yang kamu tidak ketahui?” (QS. Yunus : 68)
Segala sesuatu adalah milik Allah dan tunduk kepada-Nya
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Pada ayat yang lalu dijelaskan tentang orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dengan menyembah selain Allah, lalu pada ayat ini dijelaskan tentang bentuk lain dari kemusyrikan, yaitu mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Ayat ini membantah siapa pun yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, sebagaimana mereka orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Allah mempunyai anak.” Orang Yahudi mengatakan, “Uzair putra Allah”, dan orang Nasrani mengatakan, “Isa putra Allah” (Lihat: Surah at-Taubah/9: 30). Mahasuci Dia dari prasangka mereka, Dialah Yang Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dan siapa pun dalam segala urusan; milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu, yang mengatakan Tuhan punya anak, sama sekali tidak mempunyai alasan kuat bahkan tidak punya bukti sedikit pun tentang kebohongan ini. Pantaskah kamu mengatakan kepalsuan tentang Allah apa yang kamu tidak ketahui kebenarannya? Sama sekali tidak pantas.
Tadabbur Ayat Yunus 68:
  1. Penyucian Allah dari segala kekurangan; Ayat ini menegaskan bahwa Allah Mahasuci dari tuduhan memiliki anak. Ini adalah bentuk pemurnian tauhid—Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya dan tidak membutuhkan keturunan seperti manusia.
  2. Allah Maha Kaya, tidak butuh apa pun; Allah tidak memerlukan anak atau sekutu karena Dia tidak memiliki kebutuhan. Kekayaan-Nya sempurna dalam segala aspek: zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
  3. Kepemilikan mutlak Allah atas alam semesta; Semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan dan milik-Nya. Ini mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya dan harus tunduk kepada aturan-Nya.
  4. Peringatan terhadap ucapan tanpa ilmu; Allah mengecam keras orang yang berkata tentang-Nya tanpa dasar ilmu. Ini pelajaran penting agar kita tidak berbicara tentang agama—terutama tentang sifat-sifat Allah—tanpa ilmu yang benar.
  5. Akidah yang benar harus berdasarkan dalil, bukan dugaan; Ayat ini mengajarkan bahwa keyakinan tidak boleh dibangun di atas tradisi, kebiasaan, atau anggapan, tetapi harus didasarkan pada wahyu dan ilmu yang sahih.
  6. Bahaya syirik dan penyimpangan dalam konsep ketuhanan; Mengatakan Allah punya anak adalah bentuk syirik besar yang mengingkari keesaan-Nya dan meniru pola pikir manusia dalam memahami Tuhan.
Tadabbur ayat ini menguatkan tauhid, menyucikan Allah dari kekurangan, dan memberi peringatan agar tidak berbicara sembarangan tentang agama. Ia membangun rasa tunduk, hormat, dan takut kepada Allah yang memiliki dan menguasai segalanya.
Doa:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الشِّرْكِ، وَارْزُقْنِي فَهْمًا صَحِيحًا عَنْكَ، وَثَبِّتْنِي عَلَى التَّوْحِيدِ حَتَّى أَلْقَاكَ.
Allāhumma ṭahhir qalbī minash-shirk, warzuqnī fahman ṣaḥīḥan ’anka, wathabbitnī ’alat-tawḥīdi ḥattā alqāka.
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari segala bentuk syirik, anugerahkan kepadaku pemahaman yang benar tentang-Mu, dan teguhkanlah aku di atas tauhid hingga aku bertemu dengan-Mu.”