Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بَلْ اِيَّاهُ تَدْعُوْنَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُوْنَ اِلَيْهِ اِنْ شَآءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُوْنَ
“(Tidak), hanya kepada-Nya kamu minta tolong. Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 41)
Pada saat dalam keadaan bahaya orang ingat Allah, pada saat bahaya hilang orang kembali berpaling dari Allah
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir menjelaskan maksudnya, dalam keadaan darurat kalian tidak menyeru siapa pun selain Allah, dan lenyaplah dari pikiran kalian berhala-berhala dan sembahan-sembahan kalian. Ayat ini semakna dengan firman Allah Swt.:
وَاِ ذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُوْنَ اِلَّاۤ اِيَّاهُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰٮكُمْ اِلَى الْبَرِّ اَعْرَضْتُمْ ۗ وَكَا نَ الْاِ نْسَا نُ كَفُوْرًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur).” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 67)
Setiap manusia pasti mengalami ujian dalam hidupnya. Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika ditimpa ujian semisal wabah, meninggalnya kerabat, hilangnya harta, adalah akan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Manusia akan mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa agar musibah atau keburukan yang menimpanya segera sirna. Baik dalam kondisi berbaring, berdiri, atau pun duduk, manusia akan segera berdoa meminta keburukan yang menimpanya segera berakhir.
Akan tetapi ketika Allah SWT mengakhiri keburukan, musibah atau kemalangan yang dialami seorang manusia dan menggantinya dengan kenikmatan, sebagian manusia justru melupakan Allah SWT yang telah menyelamatkan dan menolongnya keluar dari kesulitan. Lebih parah lagi, setelah kemalangan berganti menjadi kenikmatan, hamba tersebut justru tenggelam dalam perbuatan maksiat penuh dosa dan melupakan Allah.
Karakter manusia semacam ini diterangkan juga dalam Alquran surat Yunus ayat 12.
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.
“Ini sebenarnya karakter dasar manusia. Memperoleh nikmat (setelah hilangnya kemalangan) justru dia lalai dengan nikmat yang diberikan. Tapi tidak semua seperti itu, orang yang terselamatkan dari sifat keburukan itu adalah yang memperbanyak berzikir kepada Allah dan kesadaran eksistensinya dia munculkan sehingga dia tidak terpengaruh sifat buruk tersebut.
Seorang Muslim ketika ditimpa musibah seharusnya bersabar, dan mengingat-ingat nikmat yang telah Allah SWT berikan. Memperbanyak berzikir kepada Allah. Dam setelah hilangnya musibah dan kemalangan, tetap memelihara rasa bersyukur dan zikir.
Doa supaya selalu mendapatkan hidayah Nya;
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)