Rujukan Waktu-Waktu Shalat dalam Sehari

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاَ قِمِ  الصَّلٰوةَ  طَرَفَيِ  النَّهَا رِ  وَزُلَـفًا  مِّنَ  الَّيْلِ  ۗ اِنَّ  الْحَسَنٰتِ  يُذْهِبْنَ  السَّيِّاٰتِ  ۗ ذٰلِكَ  ذِكْرٰ ى  لِلذّٰكِرِ يْنَ
“Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud 11: Ayat 114)
Rujukan waktu waktu sholat dalam sehari
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah diperintahkan untuk istikamah dalam melaksanakan ajaran agama dan memiliki pendirian teguh, maka ayat berikut ini diperintahkan melaksanakan salat serta beramal saleh, karena amaliah tersebut dapat menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana firman-Nya: Dan laksanakanlah salat dengan teratur dan benar sesuai dengan ketentuan agama, baik syarat, rukun, dan sunah-sunahnya pada kedua ujung siang, yakni pagi dan petang atau salat Subuh, Zuhur dan Asar dan pada bagian permulaan malam yaitu salat Magrib, Isya, dan salat sunah seperti tahajud dan witir.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu seperti salat sebagaimana disebutkan di atas, zakat, sedekah, zikir, istigfar, dan amal ibadah lainnya dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan dosadosa kecil yang telah dilakukan, lantaran perbuatan itu tidak mudah dihindari. Adapun dosa besar, harus disertai dengan tobat yang tulus. Itulah peringatan yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan selalu mengingat Allah. Secara isyarat, Hud 114 dianggap sebagai salah satu dasar Al-Qur’an yang mengindikasikan adanya shalat lima waktu.
1. Dalil lain dari Al-Qur’an; Selain Hud 114, ada beberapa ayat lain yang juga menjadi dasar rujukan untuk shalat lima waktu, di antaranya:
a. Surah Al-Isra’ ayat 78–79; 
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” Menunjuk pada waktu: Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh.
b. Surah Thaha ayat 130
“Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari supaya kamu merasa senang.” Ini juga memberi isyarat waktu-waktu shalat wajib.
c. Surah An-Nur ayat 58
“… sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan sesudah shalat Isya.” Menunjukkan adanya shalat Subuh, Zhuhur (tengah hari), dan Isya.
2. Penetapan jumlah 5 waktu secara pasti; Jumlah lima kali sehari semalam ditetapkan secara tegas melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda: “Ditetapkan atas umatku shalat lima puluh kali, lalu aku meminta keringanan hingga Allah menjadikannya lima, namun pahalanya tetap lima puluh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beberapa sumber hadits tentang shalat lima waktu
a. Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim
Peristiwa Isra’ Mi’raj: “Allah mewajibkan atas umatku shalat lima puluh kali sehari semalam, lalu aku terus memohon keringanan hingga Allah menjadikannya lima kali, namun tetap bernilai lima puluh.”(HR. Bukhari no. 349, Muslim no.162)
Hadits ini sahih dan paling terkenal.
b. Sunan Abu Dawud
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:  “Sesungguhnya Allah mewajibkan atas kalian shalat lima kali sehari semalam.” (HR. Abu Dawud no. 425)
c. Sunan an-Nasa’i
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, bahwa seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apa saja yang diwajibkan Allah kepadaku dalam shalat?” Beliau menjawab: “Shalat lima waktu dalam sehari semalam.”(HR. an-Nasa’i no. 463)
d. Juga terdapat dalam:
•Jami’ at-Tirmidzi (no. 2609)
•Musnad Ahmad (no. 9373, 10386, dan lainnya)
•Sunan Ibnu Majah (no. 1401)
Semua meriwayatkan dengan makna yang sama: Shalat wajib adalah lima kali dalam sehari semalam.
3. Riwayat dengan konteks berbeda
Selain peristiwa Isra’ Mi’raj, ada juga hadits-hadits praktis saat Nabi menjelaskan kewajiban Islam kepada orang awam: “Islam dibangun atas lima perkara: bersyahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan haji.” (HR. Bukhari no. 8, Muslim no. 16)
Hadits ini menunjukkan shalat lima kali sebagai rukun utama Islam, walau tidak menyebut / Nabi.
Sholat adalah amalan pertama yang akan dihisab, dan jika shalatnya baik maka seluruh amal lainnya akan ikut baik.
Hadits tentang shalat sebagai amalan pertama yang dihisab
“Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia akan beruntung dan selamat. Tetapi jika shalatnya rusak, maka ia akan kecewa dan merugi. Jika ada kekurangan dari shalat wajibnya, Allah akan berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Maka akan disempurnakan shalat wajibnya dengan shalat sunnah. Kemudian seluruh amal lainnya akan dihisab seperti itu.” — (HR. At-Tirmidzi no. 413, Abu Dawud no. 864, An-Nasa’i no. 465, Ibnu Majah no. 1425; hadits ini hasan shahih)
Doa supaya anak keturunan menyukai dan mendirikan sholat ;
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Quran Surah Ibrahim ayat 40)