Pertemanan Terbaik adalah dengan Teman Seiman

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَمْ  حَسِبْتُمْ  اَنْ  تُتْرَكُوْا  وَلَـمَّا  يَعْلَمِ  اللّٰهُ  الَّذِيْنَ  جَاهَدُوْا  مِنْكُمْ  وَلَمْ  يَتَّخِذُوْا  مِنْ  دُوْنِ  اللّٰهِ  وَلَا  رَسُوْلِهٖ  وَلَا  الْمُؤْمِنِيْنَ  وَلِيْجَةً  ۗ وَا للّٰهُ  خَبِيْرٌ  بِۢمَا  تَعْمَلُوْنَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 16)

Pertemanan terbaik adalah dengan teman seiman

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini memberikan peringatan yang sangat penting kepada kaum Muslimin untuk memerangi kaum musyrik. Allah juga mengajak mereka agar introspeksi diri berpikir dengan penuh kesadaran tentang hal-hal berikut:

  1. Apakah selama ini mereka sudah sungguh-sungguh melaksanakan jihad sebagaimana mestinya?
  2. Apakah orang musyrik tidak akan memerangi mereka lagi dan tidak akan melanggar perjanjian sebagaimana yang biasa mereka lakukan?
  3. Apakah orang musyrik tidak akan mencerca agama Islam lagi dan menghalang-halangi orang untuk menganutnya, seperti yang mereka lakukan semenjak lahirnya agama Islam.
  4. Apakah kaum Muslimin sudah lupa tingkah laku orang-orang munafik yang menikam Nabi dan kaum Muslimin dari belakang
  5. Apakah Muslimin dibiarkan saja tanpa mendapat cobaan dan ujian sehingga diketahui siapa yang benar-benar beriman dan berjihad di jalan Allah dan tidak mengambil orang musyrikin menjadi teman kepercayaan dan siapa yang berbuat sebaliknya?

Kaum Muslimin harus tabah menghadapi segala macam cobaan dan ujian, tidak boleh merasa cepat puas dengan hasil yang sudah dicapai dan tidak boleh pula malas dan bosan untuk meneruskan jihad. Mereka juga harus mengetahui kewajiban menjaga diri dan waspada terhadap segala tipu daya musuh, dan tidak boleh menjadikan mereka teman akrab. Hal ini sudah banyak diperingatkan di dalam Al-Qur’an, antara lain firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. (Ali ‘Imran /3: 118). Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan kaum Muslimin dalam melaksanakan perintah berjihad dan apa yang tersimpan dalam hati mereka, oleh karena itu diperintahkan agar mereka mematuhi petunjuk dan perintah Allah sebaik-baiknya

Pertemanan terbaik adalah dengan teman seiman. Teman seiman biasanya memiliki nilai-nilai dan prinsip yang sama. Hal ini mempermudah dalam membangun hubungan yang saling mendukung dalam kebaikan. Teman seiman dapat saling mengingatkan dan mendorong untuk menjalankan ibadah, seperti shalat berjamaah, puasa, atau menghadiri kajian keagamaan. Pertemanan sering menjadi motivasi untuk meningkatkan iman (taqwa) dan amal, sesuai dengan firman Allah: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Doa Mohon Ampunan atas Tindakan yg Berlebihan dan Ditetapkan Pendirian

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِ سْرَا فَنَا فِيْۤ اَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ اَقْدَا مَنَا وَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
“robbanaghfir lanaa zunuubanaa wa isroofanaa fiii amrinaa wa sabbit aqdaamanaa wangshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 147)