Peringatan untuk Hanya Menyembah Allah Agar Tidak Diazab seperti Umat Terdahulu

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَا تْلُ  عَلَيْهِمْ  نَبَاَ  نُوْحٍ  ۘ اِذْ  قَا لَ  لِقَوْمِهٖ  يٰقَوْمِ  اِنْ كَا نَ  كَبُرَ  عَلَيْكُمْ  مَّقَا مِيْ  وَتَذْكِيْرِ يْ  بِاٰ يٰتِ  اللّٰهِ  فَعَلَى  اللّٰهِ  تَوَكَّلْتُ  فَاَ جْمِعُوْۤا  اَمْرَكُمْ  وَشُرَكَآءَكُمْ  ثُمَّ  لَا  يَكُنْ  اَمْرُكُمْ  عَلَيْكُمْ  غُمَّةً  ثُمَّ  اقْضُوْۤا  اِلَيَّ  وَ  لَا  تُنْظِرُوْنِ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita penting (tentang) Nuh ketika (dia) berkata kepada kaumnya, Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku) dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian, bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kamu tunda lagi.”(QS. Yunus 10: 71)

Peringatan untuk hanya menyembah Allah agar tidak diazab seperti umat terdahulu

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menceritakan kepada kaum musyrikin Mekah tentang peristiwa penting dalam kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya. Nabi Nuh a.s. menyatakan kepada kaumnya tentang kebulatan tekadnya untuk terus menyebarkan agama Allah seraya menyerah-kan sepenuhnya segala keputusan kepada Allah. Tidak memperdulikan apakah kaumnya itu keberatan akan kehadirannya di tengah-tengah mereka untuk menyeru mereka menyembah Allah, ataukah mereka keberatan terhadap peringatan yang disampaikannya tentang bukti-bukti keesaan Allah.

Berkat kebulatan tekad dan ketawakkalannya itu, Nabi Nuh a.s. tidak ragu-ragu menentang kaumnya supaya mereka membulatkan keputusan mereka dengan mengikutsertakan sembahan-sembahan mereka untuk membinasakan beliau. Bahkan dia menganjurkan kepada mereka agar dalam menetapkan rencana itu terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi. Kemudian bilamana rencana itu sudah matang dengan pemufakatan yang terbuka, Nabi Nuh menyerukan supaya mereka segera melaksanakan rencana pembunuhan terhadap dirinya itu dan tidak menunda-nundanya.

Berikut beberapa poin tadabur yang dapat diambil dari ayat dan tafsir tersebut:

1. Keteguhan Nabi Nuh dalam Menyampaikan Dakwah; Dalam menyampaikan kebenaran, seorang harus memiliki keteguhan hati dan keikhlasan seperti Nabi Nuh, meskipun menghadapi penolakan dan ancaman.

2. Ketawakkalan kepada Allah; Nabi Nuh menunjukkan bahwa seorang hamba yang benar-benar yakin kepada Allah tidak takut pada makar manusia, karena ia menyerahkan seluruh hasil usahanya kepada Allah.

3. Keterbukaan dalam Berdakwah; Keberanian Nabi Nuh menantang kaumnya secara terbuka menunjukkan bahwa dakwah tidak seharusnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi apabila kebenaran sudah nyata.

4. Ancaman Azab bagi yang Menolak Kebenaran; Kaum yang menolak ajakan kepada tauhid dan justru bersekongkol untuk membinasakan rasul, akhirnya mendapat azab dari Allah. Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang menolak kebenaran.

5. Keberanian Menghadapi Penolakan; Nabi Nuh tidak hanya pasif menghadapi ancaman, tetapi justru menantang kaumnya untuk melaksanakan makar mereka. Ini menunjukkan kekuatan hati yang bersumber dari keimanan yang kokoh.

Jadi, Yunus ayat 71 bukan hanya berisi kisah sejarah, tetapi juga pelajaran hidup dan nilai spiritual bagi siapa pun yang ingin menegakkan kebenaran. Ayat ini memperingatkan untuk menyembah Allah semata dan memberi teladan tentang keberanian dalam menyampaikan kebenaran.

Doa agar ditunjukkan kebenaran;

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tibaa’ahu, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinaabahu. Wa laa taj’alhu multabisan ‘alayna fanadlilla, waj’al a lilmuttaqiina imaama.

“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”