Pandangan Munafiqun; Berinfaq Dianggap Sebagai Kerugian

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمِنَ  الْاَ عْرَا بِ  مَنْ  يَّتَّخِذُ  مَا  يُنْفِقُ  مَغْرَمًا  وَّيَتَرَبَّصُ  بِكُمُ  الدَّوَآئِرَ  ۗ عَلَيْهِمْ  دَآئِرَةُ  السَّوْءِ  ۗ وَا للّٰهُ  سَمِيْعٌ  عَلِيْمٌ

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian; dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 98)

Pandangan munafikun, apa yang diinfakkan sebagai sesuatu kerugian = apa yang diinfakkan pengurang harta

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diterangkan contoh lain dari sifat orang Badui yang munafik, yaitu mereka yang menyumbangkan sebagian dari harta benda mereka untuk berjihad di jalan Allah, akan tetapi dengan jalan riya. Mereka menganggap harta benda yang mereka berikan, baik karena ketaatan mereka maupun karena terpaksa demi menjaga keselamatan diri dan kaum mereka dari hal-hal yang tidak mereka inginkan. Mereka memandang bahwa infak tersebut sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan apapun bagi mereka di akhirat kelak, karena mereka tidak beriman pada adanya hari kebangkitan, di mana setiap orang akan menerima balasan atas segala perbuatan yang telah dilakukannya di dunia ini. Menurut keterangan Ibnu Zaid, orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Bani Â’sad dan Bani Gathafan.

Selain sifat-sifat jelek di atas, orang-orang munafik tersebut selalu mengharapkan dan menanti-nanti datangnya malapetaka yang menimpa kaum Muslimin sehingga kekuatan mereka menjadi lemah. Bila hal itu terjadi, maka orang-orang munafik itu tidak perlu lagi menyumbangkan harta benda mereka untuk kepentingan jihad. Dalam kenyataannya, mereka selalu menunggu-nunggu agar kaum musyrik dan Yahudi dapat mengalahkan kaum Muslimin. Akan tetapi, setelah tipu daya mereka tidak membawa hasil, maka mereka menunggu wafatnya Rasulullah saw, karena mereka menganggap bahwa dengan wafatnya Rasulullah agama Islampun akan sirna dan lenyap dari muka bumi.

Karena sikap dan pandangan mereka yang semacam itu, maka dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa merekalah yang akan ditimpa malapeka itu, sedang kaum Muslimin tidak akan mengalami malapetaka bahkan mereka akan memperoleh pertolongan dari Allah. Di samping itu, musuh-musuh Islam akan menemui kegagalan serta ditimpa azab di dunia ini sebelum mendapat azab yang lebih hebat di akhirat kelak.

Pada akhir ayat ini kembali ditegaskan bahwa Allah Maha Mendengar segala ucapan hamba-Nya, yang mengekpresikan perasaan hatinya dan mengetahui rahasia yang terkandung dalam hati mereka, apakah itu berbentuk keimanan atau kekafiran, keikhlasan atau kemunafikan. Allah akan memberikan balasan kepada mereka akibat ucapan dan perbuatan mereka itu.

Pandangan munafikun, apa yang diinfakkan sebagai sesuatu kerugian = apa yang diinfakkan pengurang harta.

Ayat ini berbicara tentang sebagian orang Arab Badui yang tidak ikhlas dalam berinfak. Mereka menganggap infak sebagai suatu kerugian (مَغْرَمًا maghraman), bukan sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah. Mereka melihat infak sebagai pengurangan harta yang sia-sia, bukan sebagai investasi akhirat atau sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam konteks ayat ini, mereka menganggap infak sebagai kerugian, bukan karena infak itu sendiri merugikan, tetapi karena hati mereka penuh kemunafikan dan kekikiran. Sementara itu, bagi orang yang beriman, infak adalah sumber keberkahan dan pahala, bukan pengurang harta dalam arti negatif.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Jadi, infak sebenarnya menambah pahala dan keberkahan, bukan sekadar mengurangi harta.

Doa yang bisa diamalkan agar dimudahkan dalam berinfak di jalan Allah dengan ikhlas dan penuh keberkahan:

اللهم ارزقني مالًا حلالًا طيبًا، ووفقني لإنفاقه في سبيلك، واجعلني من عبادك المتصدقين المخلصين، وبارك لي في رزقي ومالي، وأعني على فعل الخير، ولا تجعل الدنيا أكبر همي، ووفقني لما تحب وترضى.

Allahumma arzuqni mālan ḥalālan ṭayyiban, wa waffiqni li-infāqihi fī sabīlik, waj‘alni min ‘ibādika al-mutaṣaddiqīn al-mukhlisīn, wa bārik lī fī rizqī wa mālī, wa a‘innī ‘alā fi‘lil-khayr, wa lā taj‘alid-dunyā akbara hammī, wa waffiqnī limā tuḥibbu wa tarḍā.

“Ya Allah, berilah aku rezeki yang halal dan baik, serta bimbinglah aku untuk menginfakkannya di jalan-Mu. Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang gemar bersedekah dengan ikhlas. Berkahilah rezeki dan hartaku, bantulah aku dalam melakukan kebaikan, janganlah jadikan dunia sebagai tujuan utamaku, dan bimbinglah aku kepada hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai.