Pada Hari Kiamat Setiap Orang Bertanggung Jawab Terhadap Amalnya Masing-masing

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَقَدْ  جِئْتُمُوْنَا  فُرَا دٰى  كَمَا  خَلَقْنٰكُمْ  اَوَّلَ  مَرَّةٍ  وَّتَرَكْتُمْ  مَّا  خَوَّلْنٰكُمْ  وَرَآءَ  ظُهُوْرِكُمْ  ۚ وَمَا  نَرٰ ى  مَعَكُمْ  شُفَعَآءَكُمُ  الَّذِيْنَ  زَعَمْتُمْ  اَنَّهُمْ  فِيْكُمْ  شُرَكٰٓـؤُا  ۗ لَقَدْ  تَّقَطَّعَ  بَيْنَكُمْ  وَضَلَّ  عَنْكُمْ  مَّا  كُنْتُمْ  تَزْعُمُوْنَ

“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafaat (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 94)

Pada hari kiamat masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri. Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia

Dalam tafsir lengkap Kemenag, Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan nasib orang-orang zalim di hari Kiamat. Mereka datang menghadap Allah sendiri-sendiri dengan tidak membawa harta benda, anak dan pangkat, terlepas dari kebanggaan, dukungan dan kedudukan duniawi. Berhala-berhala yang dikira dapat memberikan syafa’at, tidak ada gunanya sama sekali. Keadaan mereka seperti diciptakan pada pertama kalinya, pada waktu mereka berada dalam kandungan ibu, seperti dijelaskan dalam hadis:
“Wahai manusia, sebenarnya kamu akan dikumpulkan kehadirat Allah di padang Mahsyar dalam keadaan tidak bersepatu, tidak berpakaian dan tidak berkhitan sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama kali, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati, bahwa kami benar-benar akan melaksanakannya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

Mereka meninggalkan di dunia apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, yang menjadi kebanggaan mereka, yaitu harta benda, anak, isteri dan kedudukan yang menyebabkan mereka congkak dan tidak mau beriman kepada Rasul-rasul. Semuanya tidak dapat menolong mereka dari siksa Allah di akhirat.

Allah menjelaskan bahwa Dia tidak akan mempedulikan apa saja yang mereka anggap dapat memberi syafa’at; baik itu berupa berhala-berhala yang mereka persekutukan dengan Allah atau pendeta-pendeta yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menghubungkan doa mereka kepada Allah. Tegasnya pada hari itu tidak dipedulikan syafa’at dan tebusan, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri. Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia. Harapan mereka telah pupus karena apa yang mereka sangka tidak pernah tiba. Syafa’at dan tebusan yang mereka duga akan dapat menolong mereka, sedikit pun tidak memenuhi harapan mereka.

Allah SwT memberikan nikmat kepada para hamba-Nya, maka Dia pun memberikan peringatan akan datangnya hari pembalasan, yang pada waktu itu apa saja yang kita lakukan selama hidup di dunia, akan ditanyakan oleh Allah SWT, tanpa ada yang membantu dan tidak ada pula yang mampu memberi syafaat maupun suap;

وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ.

“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong” (QS. Al-Baqarah: 48).

Oleh karena itu, berbahagialah bagi mereka yang sejak awal mempersiapkan bekal untuk hari kiamat, dengan menabur amal shalih dan berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW menjelaskan tentang perkara-perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat, beliau bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”( HR. Tirmidzi).

Rasulullah bersabda :

إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالاً وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّوْنَ عَلَى وُجُوْهِكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke padang mahsyar) dalam keadaan berjalan kaki, dan ada juga yang naik kendaraan, serta ada juga yang diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. at-Tirmidzi).

Namun demikian dalam sejumlah riwayat dijelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Oleh karena itu hendaknya untuk senantiasa meningkatkan keimanan serta memperbanyak amal saleh. Selain itu berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan keamanan saat hari ancaman yakni hari kiamat. Berikut doanya:

اللَّهُمَّ يَاذَا الْحَبْل اَلشَّدِيدُ وَالْأَمْر الرَّشِيدُ ، أسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيدِ ، وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُودِ ، مَعَ الْمُقَرَّبِينَ الشُّهُودِ ، الرُّكَّع السُّجُودُ ، الْمُوفِّينَ بِالْعُهُودِ ، إنَّكَ رَحِيمٌ وَدُودٌ ، وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالْعِزِّ وَقَالَ بِهِ ، سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ ، سُبْحَانَ الَّذِي لَا يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلَّا لَهُ ، سُبْحَانَ ذِي الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ ، سُبْحَانَ ذِي الْقُدْرَةِ وَالْكَرَمِ ، سُبْحَانَ الَّذِي أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ بِعِلْمِهِ.

Allahumma ya dzal Habil syadid, wal Amri Rosyid, asalukal Amna yauma wa’id, wal jannata yauma khulud, ma’al muqorrobina Syuhud, Ar ruka i sujud, Al mufiyna bil ‘uhud. Innaka rohimul wadud, wa anta tafalu ma turis, Subhana ladzi ta’athofa bil ‘izza wa qola bihi, Subhanaladzi labisal majda watakarroma bihi. Subhana Dil Fadhli wan niam. Subhana dzil qudrati wal karom, Subhana ladzi ahsho kulla syaiin bi’ilmihi.

“Ya Allah, yang memiliki tali yang sangat kuat, dan yang memiliki perkara yang benar, aku memohon keamanan-Mu pada hari adanya ancaman (kiamat), aku memohon pada-Mu surga saat menghadapi hari kelanggengan (mati). Bersama malaikat mukarabin yang menyaksikan kebesaran Allah. Bersama orang-orang yang ahli ruku dan sujud, yang senantiasa memenuhi janji-janjinya. Maha suci Allah yang memiliki sifat kemuliaan. Dan Allah berbuat dengan kemuliaannya itu. Maha suci Allah yang memakai sifat keagungan dan Allah menjadi mulia dengan keagungan itu. Maha suci Allah, yang mana tak patut tasbih kecuali hanya pada Allah. Maha suci Allah Yang mempunyai keutamaan dan kenikmatan. Maha suci Allah dzat yang memiliki sifat kuasa dan sifat dermawan. Maha suci Allah yang menghitung segala sesuatu dengan ilmunya.