أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَهَلْ يَنْتَظِرُوْنَ اِلَّا مِثْلَ اَيَّا مِ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ قُلْ فَا نْتَظِرُوْۤا اِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُنْتَظِرِ يْنَ
“Maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, Maka tunggulah, aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.” (QS. Yunus 10: Ayat 102)
Orang-orang yang mendustakan kebenaran hanya menunggu azab seperti yang menimpa umat-umat terdahulu
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kemudian, dalam ayat-ayat ini, Allah memberi peringatan dan ancaman kepada kaum musyrikin Arab bahwa hukuman akan segera menimpa mereka seperti yang dialami umat sebelum mereka yang juga mendustakan rasul-rasul dan ingkar kepada mereka. Apakah orang musyrikin tersebut menolak kerasulan Muhammad saw, karena mereka ingin lebih dahulu menunggu siksaan Allah itu? Allah menyeru Nabi Muhammad saw, untuk menyatakan kepada mereka supaya menunggu azab itu. Kemurkaan Allah tentu akan datang kepada mereka bilamana mereka terus-menerus mendustakan dan mengingkari kerasulan Muhammad saw. Rasul saw beserta orang-orang beriman akan menunggu pula kehancuran mereka itu. Sesuai dengan janji Allah dan Sunnah-Nya, bahwa orang-orang kafir itu pasti akan binasa.
ۚ فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ…”
“…Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Fungsi kisah dalam Al-Qur’an: bukan hanya sebagai cerita, tapi sebagai peringatan dan cermin hidup. Allah SWT sering mengulang dalam beberapa ayat al Quran untuk menyampaikan kisah kisah supaya menjadi pelajaran, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
Dan ayat seperti Yunus 102 mengingatkan: “Maka tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali (kejadian-kejadian) seperti hari-hari (azab) yang dialami oleh orang-orang sebelum mereka…” Artinya, Allah sedang memperingatkan: “Kalau kamu tidak mau mengambil pelajaran, maka kamu akan mengalami nasib yang sama.”
Lalu kenapa manusia tetap tidak mau belajar?
1. Merasa kebal dari akibat
Manusia sering merasa, “Itu dulu. Kita sekarang beda.” Padahal, hukum Allah berlaku lintas zaman.
“Mereka mendustakan, lalu datanglah kepada mereka azab yang mereka perolok-olokkan.” (Yunus: 50)
2. Ketergantungan pada hawa nafsu dan kesombongan
Sejarah menunjukkan: kesombongan adalah penyebab utama kehancuran kaum terdahulu (seperti kaum ’Ad, Tsamud, Fir’aun).
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan segala sesuatu bagi mereka… lalu Kami siksa mereka secara tiba-tiba.” (QS. Al-An’am: 44)
3. Hati yang tertutup
“Mereka punya hati tapi tidak mereka gunakan untuk memahami…” (QS. Al-A’raf: 179)
Ketika hati tidak digunakan untuk merenung dan jiwa dikuasai nafsu dunia, maka kisah sejelas apapun tidak akan menyentuh mereka.
Pelajaran dari Yunus 102 ;
•Azab itu bukan dongeng, tapi siklus nyata dalam sejarah manusia.
•Allah tidak pernah menzalimi siapa pun. Azab datang karena manusia mengulangi kebodohan yang sama.
•Orang beriman harus menjadikan kisah-kisah itu sebagai peringatan, bukan hanya bahan bacaan.
Yunus 102 adalah peringatan keras:
Jika manusia tidak belajar dari sejarah, maka sejarah akan mengulang dirinya — bukan karena takdir, tapi karena kelalaian.
Doa Memohon Perlindungan dari Azab dan Memohon Petunjuk
اللَّهُمَّ اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، ولا تجعلني من الغافلين، ونجني من عذابك كما نجيت عبادك الصالحين.
Allāhumma aj‘alnī mina alladhīna yastami‘ūna al-qawla fayattabi‘ūna aḥsanah, wa lā taj‘alnī mina al-ghāfilīn, wa najjinī min ‘adhābika kamā najjayta ‘ibādaka al-ṣāliḥīn.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya, dan janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang lalai. Selamatkanlah aku dari azab-Mu sebagaimana Engkau telah menyelamatkan hamba-hamba-Mu yang saleh.”