Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَا لَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 79)
Kebiasaan selalu mencela orang lain, sedekah dalam jumlah banyak disebut riya dan sedekah jumlah sedikit dihina pula
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sabab Nuzul: Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab turunnya ayat ini, di antaranya ialah seperti yang dinukilkan oleh al-Wahidi dalam kitab Asbab an-Nuzul: diriwiyatkan oleh al-Bazzar dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda, “Bersedekahlah kamu, sesungguhnya aku akan mengirimkan satu pasukan untuk pergi berperang (Perang Tabuk),” maka datanglah Abdurrahman bin Auf menghadap Rasulullah saw lalu berkata, “Ya Rasulullah, saya ada mempunyai 4 ribu dinar, yang dua ribu aku sedekahkan sebagai pinjamanku kepada Tuhan dan dua ribu dinar lagi untuk belanja rumah tanggaku.”
Rasulullah saw menjawab, “Semoga Allah memberimu berkah atas pemberianmu itu, dan memberi berkat pula terhadap yang engkau tinggalkan.” Kemudian datang lagi seorang dari kaum Anshar yang mempunyai dua gantang kurma, seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya ada mempunyai dua gantang kurma, yang satu gantang aku sedekahkan dan satu gantang lagi untuk keluargaku.” Menyaksikan kejadian itu orang-orang munafik mengejek seraya katanya, “Abdurrahman bin Auf hanya mau memberikan sedekahnya karena ria saja.” Sedang yang memberikan satu gantang kurma, mereka mengejek dengan kata, “Allah dan Rasul tidak memerlukan yang segantang ini.” Maka turunlah ayat ini.
Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bagaimana ejekan dan hinaan orang-orang munafik terhadap orang-orang mukmin yang dengan penuh kepatuhan memberikan sedekah mereka kepada Rasulullah untuk dana tentara Islam berperang. Kepada yang memberikan banyak, mereka mengejek dengan perbuatan ria dan kepada yang memberikan sedikit, mereka hina pula, padahal orang-orang mukmin memberikan sedekah itu, adalah dengan hati yang ikhlas semata-mata karena Allah mengharapkan keridaan Allah.
Ejekan dan hinaan orang-orang munafik seperti itu tidak mengurangi semangat orang-orang mukmin untuk berjuang, bahkan mereka sendirilah yang akan dicelakakan. Allah swt akan menghina dan mengejek mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih nanti di akhirat.
Mensedekahkan dalam jumlah banyak disebut riya, sedekah dalam jumlah sedikit mereka hina pula. Perilaku munafikun terlalu ribet memperhatikan orang lain, ngomentarin aib orang lain, akhirnya bisa terjerumus ke dalam ghibah.
Sebagai seorang Muslim, sebaiknya kita lebih fokus pada memperbaiki diri sendiri daripada terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang lain. Jika ingin peduli pada orang lain, lakukanlah dengan tujuan untuk membantu atau menunaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dengan cara yang bijaksana.
Doa Memperbaiki Diri dan Mendapat Petunjuk
“Allahumma aslih li sya’ni kullahu wa la takilni ila nafsi tharfata ‘ain.”
“Ya Allah, perbaikilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)