Memelihara Perjanjian akan Membawa Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِلَّا  الَّذِيْنَ  عَاهَدْتُّمْ  مِّنَ  الْمُشْرِكِيْنَ  ثُمَّ  لَمْ  يَنْقُصُوْكُمْ  شَيْئًـا  وَّلَمْ  يُظَاهِرُوْا  عَلَيْكُمْ  اَحَدًا  فَاَ تِمُّوْۤا  اِلَيْهِمْ  عَهْدَهُمْ  اِلٰى  مُدَّتِهِمْ  ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  يُحِبُّ  الْمُتَّقِيْنَ
“kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu dan mereka sedikit pun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seorang pun yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 4).
Memelihara perjanjian artinya memelihara pertanggung jawaban terhadap keadilan antara manusia yang membawa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa waktu yang diberikan kaum Muslimin kepada kaum musyrikin untuk menentukan sikap, tidak boleh lebih dari empat bulan, kecuali terhadap mereka yang mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin, dan terhadap mereka yang tidak mengurangi isi perjanjian itu dan tidak membantu orang-orang yang memusuhi kaum Muslimin, maka perjanjian itu harus dipelihara dan disempurnakan sesuai dengan isinya sampai kepada batas waktunya. Ibnu Abi hatim meriwayatkan bahwa Nabi menyempurnakan janjinya dengan suku Bani amrah dan Bani Kinanah.
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya menunjukkan bahwa setiap perjanjian yang masih berlaku, wajib dipenuhi dan disempurnakan sesuai dengan syarat-syarat perjanjian itu, walaupun perjanjian itu dengan kaum musyrikin, selama mereka masih memenuhi semua syarat-syarat perjanjian itu.
Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menyukai orang-orang yang bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa memelihara dan menyempurnakan janji termasuk takwa. Karena memelihara perjanjian artinya memelihara pertanggung jawaban terhadap keadilan antara manusia yang membawa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Memelihara perjanjian dalam Islam adalah hal yang sangat penting dan merupakan bagian dari pertanggungjawaban terhadap Allah SWT dan sesama manusia. Allah memerintahkan untuk memenuhi janji dan perjanjian karena itu adalah wujud dari amanah yang harus dipelihara. Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menekankan pentingnya memenuhi janji dan amanah, termasuk dalam Surah Al-Ma’idah ayat 1:
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad (perjanjian).”
Memenuhi perjanjian adalah salah satu ciri dari orang-orang yang beriman dan bertakwa. Dalam Surah Al-Mu’minun, ayat 8-9, Allah menggambarkan ciri-ciri orang beriman sebagai mereka yang memelihara amanah dan perjanjian serta menjaga shalat. Ini menunjukkan bahwa memelihara perjanjian adalah salah satu kunci yang membawa kepada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Kuatnya perintah untuk memenuhi perjanjian dalam Islam terkait erat dengan keadilan dan hak-hak orang lain. Ketika seseorang menepati janji atau amanah, ia menjaga hubungan baik, melindungi kepercayaan, dan mencegah kerugian yang bisa menimpa pihak lain. Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya sifat ini. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkar; dan jika diberi amanah, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memenuhi janji adalah salah satu aspek yang bisa mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup, baik di dunia maupun akhirat. Dengan memelihara perjanjian, kita menunjukkan komitmen terhadap keadilan dan rasa tanggung jawab, yang merupakan bagian dari akhlak mulia dalam Islam.
Doa Memohon Menjadi Orang yang Amanah
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ الْأُمَنَاءِ وَارْزُقْنِيْ قُوَّةَ لِأَدَاءِ الأَمَانَةِ، وَبَاعِدْنِيْ عَنِ الْخِيَانَةِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
‏”Allahumma ij’alni min al-umana’ wa arzuqni quwwata li-ada’il amanah, wa ba’idni ‘anil khiyanah ya Rabbal ’alamin.”
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang amanah, dan berilah aku kekuatan untuk menunaikan amanah, serta jauhkanlah aku dari pengkhianatan, wahai Tuhan seluruh alam.”