Membaca Al Quran dengan Tafakkur dan Tadabbur lebih baik daripada sekedar Menghatamkannya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنْ  تُعَذِّبْهُمْ  فَاِ نَّهُمْ  عِبَا دُكَ  ۚ وَاِ نْ  تَغْفِرْ  لَهُمْ  فَاِ نَّكَ  اَنْتَ  الْعَزِ يْزُ  الْحَكِيْمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 118)

Asma’al-husna yang menjadi penutup suatu ayat dalam al-qur’an adalah salah satu kunci untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an dan mentadabburinya

📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia

1 ). Rasulullah pernah mendirikan shalat satu malam penuh dengan bacaan satu ayat yang beliau ulangi sampai masuk waktu subuh, yaitu :

{ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

oleh karena itu Ibnul Qayyim berkata : jika beliau melewati satu ayat dalam al-Qur’an, dan saat itu pun ia butuh untuk kesembuhan dan ketenangan hatinya, beliau membaca ayat itu berulang kali bahkan sampai 100 kali pun ia akan membacanya, atau bahkan sampai menghabiskan satu malam penuh ia akan melakukannya!, karena bacaan qur’an yang disertai dengan tafakkur dan tadabbur, adalah lebih baik daripada bacaan qur’an sampai khatam tanpa disertai dengan tadabbur dan tafakkur, dan dengan cara itu akan lebih bermanfaat dan lebih membekas di hati, serta lebih menjamin untuk kuatnya keimanan seorang muslim.

2 ). Jika hatimu terbuka maka berhentilah, yakni : jika kamu mendapati hatimu tersentuh oleh satu ayat dalam al-Qur’an, maka bukalah untuknya, dan berhentilah beberapa saat untuk kamu mengulanginya dan mentadabburinya, karena Rasulullah pernah melakukan hal itu dengan mengulangi bacaan satu ayat dalam alQur’an satu malam penuh, yaitu :

{ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }

3 ). Pegamatan pada asma’ al-husna yang menjadi penutup suatu ayat dalam al-qur’an adalah salah satu kunci untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an dan mentadabburinya, sebagai contoh : firman Allah :

{ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } ,

ayat ini tidak ditutup dengan firman-Nya : ( الغفور الرحيم ) karena kedudukan ayat ini bertepatan dengan koteks marah dan pembalasan atas perbuatan orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah dalam ibadah, maka lafazh ‘Izzah dan Hikmah lebih sesuai dari kata Rahmah.
Jangan memancing murka Allah dengan perbuatan musryk….

Semoga kita terhindar dari perbuatan perbuatan musryk..

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW supaya terhidar dari musyrik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Allahumma innii a’uudzubika annusyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam”
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).