Makna Q.S Al Maidah Ayat 112

‎بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِذْ  قَا لَ  الْحَـوَا رِ يُّوْنَ  يٰعِيْسَى  ابْنَ  مَرْ يَمَ  هَلْ  يَسْتَطِيْعُ  رَبُّكَ  اَنْ  يُّنَزِّلَ  عَلَيْنَا  مَآئِدَةً  مِّنَ  السَّمَآءِ  ۗ قَا لَ  اتَّقُوا  اللّٰهَ  اِنْ كُنْتُمْ  مُّؤْمِنِيْنَ

“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami? Isa menjawab, Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 112)

Maidah berarti ‘hidangan’.

Alquran menceritakan perihal suatu mukjizat Nabi Isa yang ditunjukkan kepada al-Hawariyyun. Keajaiban yang dimaksud ialah, turunnya hidangan yang terdiri atas roti, ikan, delima, buah-buahan, serta beragam lainnya dari langit.

Sebelumnya, para al-Hawariyyun mengajukan permohonan kepada sang putra Maryam. “Wahai Isa putra Maryam, dapatkah Tuhanmu mengirimkan kepada kami hidangan dari surga?”
Tentu saja, permintaan tersebut sangat mengejutkan sang nabiyullah. Jika bukan untuk menguji kenabiannya, maka para pengikutnya ingin menguji kebesaran Allah.
“Takutlah kalian kepada Allah jika kalian memang beriman,” jawab Isa.
Sampainya pikiran mereka pada permintaan itu didasari ibadah yang sudah dilakukannya. Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya itu agar mengerjakan puasa selama 30 hari.
Nabi Isa kemudian menyampaikan instruksi itu kepada para muridnya. Maka berpuasalah mereka selama 30 hari. Pada ujung bulan, para pengikut beliau ini pun meminta “hadiah”.
Tak tanggung-tanggung, mereka meminta sesuatu yang sangat besar. Mereka menginginkan sebuah hidangan diturunkan dari langit untuk mereka berbuka puasa.
Mereka menginginkan hidangan diturunkan dari langit untuk mereka berbuka puasa.

Mendengar permintaan pengikutnya, Isa tak habis pikir. Telah banyak mukjizat yang Allah berikan padanya, tapi pengikutnya tak kunjung juga merasa puas.
Putra Maryam pun kemudian takut pengikutnya akan seperti umat terdahulu yang meminta sesuatu kepada Allah tapi berujung pada kekafiran. Dia enggan menyetujui permintaan pengikutnya tersebut.
Namun, para al-Hawariyyun terus membujuk Nabi Isa. Mereka menginginkan hari raya atas puasa yang telah mereka lakukan dengan turunnya hidangan dari langit.
Mereka pun beralasan kepada Isa, “Kami meminta hidangan itu karena kami ingin memakannya dan agar tenteram hati kami, agar keimanan kami menjadi lebih kuat dan supaya kami mengetahui bahwa kau memang menyampaikan hal yang benar dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu,” ujar mereka.
Pengikutnya terus bersikeras, Nabi Isa pun tak sanggup menolak. Dia kemudian bersiap menuju tempat peribadatannya. Mengenakan pakaian bagus, Nabiyullah memohon kepada Allah agar permintaan umatnya dikabulkan.
“Ya Rabb kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. Beri rezekilah kami, dan Engkaulah sang Maha Pemberi rezeki,” pinta Al Masih.
Allah pun kemudian mengabulkan utusan-Nya. Allah kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa yang kafir sesudah turun hidangan itu maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia,” firman Allah.
Maka sebuah meja suci berisi banyak makanan atau disebut dengan al-Maidah turun dari langit. Dua buah awan mengapitnya dan membawanya turun menuju Nabi Isa.
Sementara, al-Hawariyun menyaksikan peristiwa menakjubkan tersebut. Nabi Isa terus berdoa agar hidangan tersebut menjadi rahmat dan bukan azab.

Maka sebuah meja suci berisi banyak makanan atau disebut dengan al-Maidah turun dari langit. Dua buah awan mengapitnya dan membawanya turun menuju Nabi Isa.

Saat menerimanya, Nabi Isa pun membuka kain penutup hidangan tersebut seraya berkata, “Dengan nama Allah sebaik-baik pemberi rezeki,” ujarnya.
Dikabarkan, hidangan tersebut terdiri atas roti, ikan, delima dan buah-buahan, dan beragam lainnya. Aromanya pun sangat harum semerbak.
Menerima kasih sayang Allah, Nabi Isa pun kemudian bersujud yang kemudian diikuti para pengikutnya. Lalu para pengikut Isa bertanya, “Wahai Roh Allah, apakah ini makanan dari dunia ataukah dari surga?”
Nabi Isa dengan sabar menjawab, “Bukankah Allah telah melarang kalian mengajukan pertanyaan macam ini. Hidangan ini dari Ilahi, Allah Maha Berkuasa hanya mengatakan ‘jadilah’, maka jadilah hidangan ini. Ini adalah tanda dari Allah sekaligus peringatan manusia agar beriman,” ujar Nabi Isa.
Tibalah saat menyantap hidangan. Namun, bukan bersegera memakannya, para pengikut Isa menyuruh nabi mereka memakannya terlebih dahulu. “Kami tidak akan makan sebelum engkau memakannya,” ujar mereka.
Nabi Isa pun menjawab, “Bukankah kalian yang meminta ini sejak awal?” ujarnya.
Namun, mereka tetap enggan menyentuh hidangan tersebut. Maka Nabi Isa pun memanggil para fakir miskin dan orang sakit. Mereka diberikan kesempatan menyantap hidangan luar biasa tersebut.
Setelah memakannya, tiba-tiba mereka yang sakit menjadi sembuh, yang cacat menjadi normal, yang sekarat menjadi sehat. Melihatnya, para pengikut Isa yang meminta hidangan sejak awal itu pun menyesal tak menyantapnya pertama kali.
Kisah ihwal hidangan ini terdapat dalam Alquran surah al-Maidah. Bahkan, nama surat itu pun merepresentasikan kejadian yang berlangsung pada zaman Nabi Isa tersebut. Kata maidah berarti ‘hidangan’.

Semoga kita tidak termasuk umat yang banyak menuntut dan bertanya, lebih baik sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami laksanakan.