Lima Bahaya dari Perbuatan Zalim

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَوْ  تَقُوْلُوْا  لَوْ  اَنَّاۤ  اُنْزِلَ  عَلَيْنَا  الْـكِتٰبُ  لَـكُنَّاۤ  اَهْدٰى  مِنْهُمْ  ۚ فَقَدْ  جَآءَكُمْ  بَيِّنَةٌ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  وَهُدًى  وَّرَحْمَةٌ  ۚ فَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنْ كَذَّبَ  بِاٰ يٰتِ  اللّٰهِ  وَصَدَفَ  عَنْهَا  ۗ سَنَجْزِ ى  الَّذِيْنَ  يَصْدِفُوْنَ  عَنْ  اٰيٰتِنَا  سُوْٓءَ  الْعَذَا بِ  بِمَا  كَا نُوْا  يَصْدِفُوْنَ

“atau agar kamu (tidak) mengatakan, Jikalau Kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka. Sungguh, telah datang kepadamu penjelasan yang nyata, petunjuk dan rahmat dari Tuhanmu. Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan azab yang keras, karena mereka selalu berpaling.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 157)

Zalim adalah mendustakan ayat ayat Allah dan berpaling dari Allah SWT

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Permulaan ayat ini adalah kelanjutan dari ayat 156 yang menerangkan sebab-sebab diturunkannya Al-Qur’an agar kaum musyrikin Mekah tidak mengatakan, “andaikata diturunkan kepada kami kitab sebagaimana diturunkan kepada kedua golongan (Yahudi dan Nasrani) sebelum kami, dan kami diperintahkan ataupun kami dilarang menuruti isinya serta dijelaskan kesalahan-kesalahan kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebab kami lebih cerdas dan lebih sungguh-sungguh dalam melaksanakan hukum-hukum Allah ini.” Perkataan serupa itu selalu diucapkan oleh orang-orang Arab jahiliah sebagaimana dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an antara lain dalam Surah Fathir/35 ayat 42.

Tetapi orang yang mengatakan demikian, setelah petunjuk atau peringatan datang sebagaimana mereka minta, mereka tidak mempedulikannya bahkan mereka tambah ingkar dan sesat. Oleh karena itu, pada ayat ini Allah menyudutkan mereka dengan pernyataan, “Kalau benar apa yang kamu katakan, maka sesungguhnya telah datang kepadamu kitab dari Tuhanmu yang membawa kebenaran dengan keterangan yang lengkap dan dengan dalil-dalil yang kuat, tentang akidah, ibadah, muamalah, fadhilah, akhlak, dan hukum syariat yang diperlukan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Khalik dan hubungan manusia dengan sesama manusia, sehingga apabila manusia mematuhinya ia akan hidup aman dan damai bahagia dunia akhirat.”

Setelah Allah menjelaskan bagaimana besarnya petunjuk yang dibawa oleh Al-Qur’an, maka Allah memperingatkan akibat mendustakan Al-Qur’an dengan firman-Nya yang berbentuk pertanyaan, “… maka siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari padanya? ¦”

Selanjutnya akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah akan memberikan siksa yang bertubi-tubi kepada orang yang berpaling dari ayat-ayat-Nya dan menyelewengkan maknanya.

Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (an-Nahl/16: 88)

Akibat melakukan perbuatan zalim;

Pertama, kezaliman akan mengakibatkan berlakunya azab yang besar bagi pelakunya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Furqan ayat 19 bahwa “barangsiapa yang berbuat zalim, niscaya akan merasakan azab yang sangat besar.”

Kedua, kezaliman akan mendapatkan laknat berupa dijauhkannya dari kenikmatan-kenikmatan dan rahmat Allah Swt baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Ghafir ayat 52 bahwa “(yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.”

Ketiga, kezaliman akan mendapatkan ancaman doa dari orang yang dizaliminya dan doa orang yang terzalimi akan dikabulkan oleh Allah Swt, sekalipun doa keburukan. Rasulullah Saw pernah bersabda: ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, kezaliman akan mengalami kebangkrutan di hari kiamat kelak, bila tidak bertaubat kepada Allah Swt dan memohon maaf kepada orang yang dizalimi ketika di dunia. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham” (HR. Al-Bukhari).

Kelima, kezaliman akan mendatangkan bencana dan malapetaka. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 45 bahwa “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).”

Harus menjauhi perbuatan zalim yang ancamannya begitu dahsyat. Terutama zalim kepada Allah dalam bentuk mendustakan ayat ayatnya dan berpaling dari Allah SWT.

Berpaling dari Allah SWT dapat merujuk pada keadaan seseorang yang menjauhi ketaatan dan ketundukan kepada-Nya, serta tidak memperhatikan ajaran Islam. Ini dapat mencakup sikap lalai terhadap kewajiban, masih melakukan dosa terhadap Allah SWT dan dosa terhadap sesama manusia dan terfokus pada hal-hal duniawi tanpa memperhatikan nilai-nilai akherat. Lebih mengutamakan kesenangan duniawi, tidak peduli terhadap sesama, tidak peduli terhadap perkembangan Islam dan tidak menjalankan amar maruf nahi munkar.

Doa supaya selalu mendapat petunjuk dari Allah;

اِذْ  اَوَى  الْفِتْيَةُ  اِلَى  الْـكَهْفِ  فَقَا لُوْا  رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  وَّهَيِّئْ  لَـنَا  مِنْ  اَمْرِنَا  رَشَدًا

“Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 10)