Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَا نُوْا شِيَـعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ ۗ اِنَّمَاۤ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَـبِّـئُـهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 159)
Larangan bagi umat Islam untuk bersikap fanatik berlebihan hingga menyalahkan dan mengafirkan yang lain
Tafsir Kementerian Agama menerangkan, ayat ini menjelaskan tentang adanya kelompok-kelompok sesat. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya padahal agama pada awalnya hanya satu, yaitu agama Tauhid. Ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Kami, para Nabi, bagaikan anak-anak satu ayah dari ibu yang berbeda, agama kami satu.”
Namun agama yang satu ini menjadi terpecah dalam golongan-golongan, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sendiri-sendiri, sesuai dengan kepentingan masing-masing di mana setiap golongan berbangga dengan golongannya sendiri. Ini semua sedikit pun bukan tanggung jawab Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad telah melaksanakan tugas kerasulan, sementara mereka memilih jalan kekafiran. Hati mereka telah terkunci untuk menerima kebenaran. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah. Allah yang akan memutuskan nasib mereka, maka janganlah Nabi Muhammad bersedih atas kekafiran mereka. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. Tentang dosa-dosa mereka dan balasan terhadap mereka pada hari Kiamat nanti.
Ayat ini dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama Arab Saudi, mengandung arti, sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka setelah sebelumnya berkumpul di atas Tauhidullah dan mengamalkan syariat-Nya, lalu mereka terbagi-bagi ke dalam golongan-golongan dan kelompok-kelompok.
Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) berlepas diri dari mereka. Urusan mereka tergantung pada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan-perbuatan yang telah mereka perbuat, lalu memberikan balasan orang-orang yang bertaubat di antara mereka dan berbuat baik atas kebaikan mereka, dan menghukum orang-orang yang berbuat buruk atas keburukan-keburukan mereka.
Asbabun nuzul ayat tersebut dirujuk dari hadis riwayat Ibnu Abbas yang ditakhrij oleh At-Tirmidzi yaitu berkenaan dengan kerasulan Nabi Muhammad. Pada waktu Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang rasul dan dibekali hujjah kalam Allah, umat yahudi dan nasrani berpecah belah dalam agama mereka. Lalu ayat ini turun sebagai petunjuk dari Allah bahwa Rasulullah tak usah mengurusi mereka, karena Allah sendiri nantinya yang akan menentukan nasib mereka kelak.
Fanatisme agama dalam konteks Surah Al-An’am ayat 159
Sebelum lebih lanjut membahas fanatisme agama, akan lebih baik jika menyepakati definisi tersebut, baik secara baku mufrodat Arab, maupun istilah yang digunakan dalam surah Al-An’am ayat 159. Dalam kamus Arab versi Almaany, kata fanatik diistilahkan pada beberapa kata yaitu pada lafadz mutahammis, mas’uur, dan ta’asshub. Namun, Al-Qur’an tidak menggunakan kata-kata tersebut untuk merujuk makna fanatik sebagaimana dalam surah Al-An’am 159 yang justru menggunakan lafazd syiya’an.
Lafadz syiya’an merupakan bentuk lain dari lafadz syi’ah yang berarti pengikut. Pada surah Al-Al-An’am ayat 159, Tafsir Kemenag memaknai kata syiya’an dengan berkelompok atau bergolong-golong, karena setiap anggotanya akan saling menguatkan. Orang-orang yang berkelompok-kelompok cenderung mengikuti kelompoknya dan di sinilah lafadz syiya’an atau syi’ah tersebut bisa selaras dengan makna fanatik. Tentu definisi istilah tersebut hanya pada berfungsi di kisaran ulumul qur’an, dan tidak bisa digunakan dalam ranah madzhab atau teologi aliran seperti Suni dan Syiah.
Pada penafsiran surah Al-An’am ayat 159 di atas, bisa digambarkan keadaan dan masalah sosial yang terjadi pada waktu ayat ini diturunkan. Kondisi umat beragama pada waktu itu, dalam artian para ahlul kitab yahudi dan nasrani sebagaimana diungkapkan At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi adalah berpecah belah ketika Rasulullah diutus menjadi rasul. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, yahudi mengafirkan nasrani begitu pula sebaliknya nasrani mengafirkan yahudi.
Surah Al-An’am ayat 159 merekam hiruk pikuk klaim takfiri para ahlul kitab tersebut dengan menyebutkan lafadz syiya’an untuk sikap fanatik mereka yang berlebihan pada golongan. Melalui surah ini, Allah ingin memberi pesan kepada Rasulullah agar tidak perlu mengurusi mereka, dan menegaskan kepada umat islam agar tidak mengikuti sikap fanatisme beragama mereka.
Fanatisme agama hari ini, suatu benang merah
At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi memiliki satu buah pemaknaan yang sepadan tentang khitab surah Al-An’am ayat 159 selain ditujukan kepada ahlul kitab, yahudi dan nasrani. Dalam penafsiran mereka, khitab lain yang dituju oleh ayat tersebut adalah umat Islam yang melakukan bid’ah, dan yang tidak mengamalkan ajaran Islam dengan benar.
Kata ‘bid’ah’ tentu tidak bisa dimaknai secara leksikal. Kata tersebut mengalami pergeseran dan perkembangan makna, bahkan dalam perkembangannya mengalami kategorisasi akibat pergerakan konteks zaman. Sedangkan yang dimaksud ahlul bid’ah oleh para mufassir di atas cenderung merujuk kepada fanatisme beragama yang dilakukan oleh ahlul kitab maupun oleh umat Islam sendiri.
Penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim terhadap surah Al-An’am ayat 159 tersebut selaras dengan pandangan demikian, karena menurutnya secara lahiriyah ayat ini bersifat umum. Ayat ini berlaku bagi setiap orang yang fanatik terhadap agama yaitu pada firqah-firqah dan golongan mereka sendiri tanpa mengindahkan saudara yang lain, mengikuti hawa nafsu dan kesesatan egoisme, maka Allah membebaskan Rasulullah dari tanggung jawab terhadap mereka.
Dari sini kita bisa menarik sebuah benang merah, sebuah keterkaitan sikap yang sama yang terjadi pada umat dahulu maupun umat Islam sendiri hingga hari ini, yaitu fanatisme beragama. Akibat sikap tersebut, jangankan penganut antar kepercayaan, perbedaan aliran dan madzhab seagamapun disalahkan dan dikafirkan oleh mereka sang empunya sikap ini. Umat Islam perlu menyegarkan pemikiran kembali salah satunya dengan mengingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, “mereka yang bukan saudara seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.
Perbedaan sebenarnya memanglah sunatullah yang terjadi pada setiap kepercayaan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memaparkan bahwa sepanjang perbedaan itu tujuannya sama, didasari kaidah kebebasan disiplin ilmu, dan hanya metode dan cara pandangm yang berbeda maka itu tidak jadi persoalan. Sedangkan surah Al-An’am ayat 159 tersebut menyudut pada fanatisme kelompok yang membawa perpecahan. Umat Islam hari ini telah mengalami polarisasi luar biasa akibat fanatisme kelompok maupun kepercayaan. Maka dari itu pesan ayat tersebut adalah larangan bagi umat Islam untuk bersikap fanatik berlebihan hingga menyalahkan dan mengafirkan yang lain sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
Beribadah sebaik baiknya, banyak melakukan amal kebaikan, banyak memberikan mamfaat untuk orang lain, bukan perilaku sebaliknya memecah umat, mengadu domba umat, tidak memberi teladan kebaikan…
Khoiru nass anfa uhum linnas, artinya : Sebaik baik manusia yang paling banyak mamfaatnya untuk orang lain.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah).