Konsekuensi dari Keyakinan bahwa Semua Milik Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَهٗ  مَا  سَكَنَ  فِى  الَّيْلِ  وَا لنَّهَا رِ  ۗ وَهُوَ  السَّمِيْعُ  الْعَلِيْمُ

“Dan milik-Nyalah segala apa yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 13)

Semua milik Allah, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Harus punya keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kepunyaan Allah, Allah Yang Maha Mendengar (Mendengarkan segala doa dan permohonan) dan Maha Mengetahui (Mengetahui segala hal yang terjadi dan yang dirahasiakan). Ini mencerminkan keyakinan akan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah SWT dalam mengatur alam semesta dan kehidupan manusia.

Keyakinan bahwa semua milik Allah dapat memiliki konsekuensi dalam pemahaman dan perilaku seseorang. Beberapa konsekuensi mungkin meliputi:

1. Rendah Hati

Keyakinan ini dapat mendorong seseorang untuk menjadi rendah hati dan menghindari sifat sombong atau angkuh. Karena mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki berasal dari Allah, hal ini dapat membantu dalam menjaga sikap yang rendah hati. Segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan.

Kesehatan, kekayaan, dan orang-orang yang kita cintai adalah berkah yang dipinjamkan Allah SWT, namun tak jarang manusia lupa berkah tersebut hanyalah titipan yang dapat diambil kapan pun. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya semua urusannya baik dan ini bukan untuk siapa pun kecuali orang beriman. Jika sesuatu kebaikan/kebahagiaan menimpanya, dan dia bersyukur maka itu baik untuknya. Jika sesuatu yang merugikan menimpanya, dan dia sabar maka itu baik untuknya,” (HR. Muslim).

2. Tanggung Jawab

Keyakinan ini dapat mendorong seseorang untuk menganggap diri mereka sebagai penjaga atau pengelola sementara atas segala sesuatu yang diberikan oleh Allah. Ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, hewan, dan manusia. Ada amanah yang harus dipikul setiap muslim, hartanya dipergunakan di jalan yang benar atau jalan yang salah.

“Tidak akan bergeser seorang manusia di hadapan Allah pada hari kiamat nanti, sebelum ditanyakan kepadanya empat hal: umurnya digunakan untuk apa, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan, dan ilmunya digunakan untuk apa.”

3. Berbagi dan Kepedulian

Keyakinan bahwa semua milik Allah dapat mendorong perilaku berbagi dan memberi kepada yang membutuhkan. Sebuah pandangan bahwa semua harta dan keberhasilan berasal dari Tuhan dapat mendorong seseorang untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Berbagi dan kepedulian, membuat kita tidak mencintai dunia secara berlebihan…
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengatakan, “Cintailah apa atau siapa saja, tapi sadarilah bahwa anda akan berpisah dengan semuanya itu, hiduplah sesuka Anda, tapi yakinlah bahwa Anda pasti mati. Dan berbuatlah sesuka Anda, tapi ingatlah bahwa Anda akan dapat balasan atas perbuatan Anda itu.” (H.R. Al-Thabrani).

4. Ketidakkekangan Material

Keyakinan ini bisa membantu mengurangi obsesi terhadap benda material dan pencapaian duniawi. Seseorang yang benar-benar memahami bahwa segala sesuatu adalah milik Allah mungkin lebih fokus pada nilai-nilai spiritual dan mempersiapkan bekal menghadapi kampung akhirat.

Innalillaahi wa inna ilaihi rojiun” “Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padaNya”.

5. Kesabaran dan Penerimaan

Keyakinan ini bisa membantu seseorang untuk lebih bersabar dan menerima apa yang terjadi dalam hidup, baik suka maupun duka. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi telah direncanakan oleh Allah.

وَعِنْدَهٗ  مَفَا تِحُ  الْغَيْبِ  لَا  يَعْلَمُهَاۤ  اِلَّا  هُوَ  ۗ وَيَعْلَمُ  مَا  فِى  الْبَرِّ  وَا لْبَحْرِ  ۗ وَمَا  تَسْقُطُ  مِنْ  وَّرَقَةٍ  اِلَّا  يَعْلَمُهَا  وَلَا  حَبَّةٍ  فِيْ  ظُلُمٰتِ  الْاَ رْضِ  وَلَا  رَطْبٍ  وَّلَا  يَا بِسٍ  اِلَّا  فِيْ  كِتٰبٍ  مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 59).

Semoga kita semua senantiasa berada dalam hidayah Allâh Azza wa Jalla dan senantiasa mendapatkan taufiq dari Allâh Azza wa Jalla untuk beramal sesuai dengan aturan Allâh Azza wa Jalla.