Kebenaran akan Memusnahkan Kepalsuan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاَ وْحَيْنَاۤ  اِلٰى  مُوْسٰۤى  اَنْ  اَلْقِ  عَصَا كَ  ۚ فَاِ ذَا  هِيَ  تَلْقَفُ  مَا  يَأْفِكُوْنَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa, Lemparkanlah tongkatmu! Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 117)

Kebenaran akan memusnahkan kepalsuan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah Allah menenangkan Nabi Musa, Allah berfirman kepadanya, “Jatuhkanlah tongkatmu itu (ke tanah).” Maka sekonyong-konyong tongkat itu berubah menjadi ular yang sebenarnya, dan menelan semua ular hasil sihir mereka. Karena mukjizat tongkat Nabi Musa menjadi ular yang sebenarnya, dan kemudian makan tali dan tongkat kecil yang disihir menjadi ular, maka hal ini menjadi peristiwa luar biasa yang pantas menjadi mukjizat Nabi utusan Allah…

Allah SWT memberikan wahyu kepada hamba dan rasul-Nya —yaitu Musa a.s.— dalam situasi yang kritis itu. Saat itulah Allah akan membedakan antara perkara yang hak dan yang batil, hendaknyalah Musa melemparkan tongkat yang ada di tangan kanannya. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan, yakni menelan bulat-bulat apa yang mereka sulapkan.

Maksudnya, semua yang mereka lemparkan dan mereka sulapkan itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilemparkan oleh Musa a.s. adalah hak (benar), sedangkan yang mereka lemparkan adalah batil.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ular Nabi Musa itu tidak sekali-kali melewati sesuatu dari tali dan tongkat mereka melainkan ia menelannya bulat-bulat. Sejak itulah para ahli sihir mengetahui bahwa apa yang didatangkan oleh Musa adalah dari langit, bukan sihir.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, ular Nabi Musa terus mengejar semua tali dan tongkat mereka satu demi satu hingga tidak ada sedikit pun —apalagi banyak— melainkan semuanya ditelan bulat-bulat olehnya. Apa yang mereka lemparkan di lembah itu tiada sedikit pun kelihatan masih tersisa. Kemudian Nabi Musa memegangnya, maka ular tersebut kembali ke ujud yang semula, yaitu tongkat,”

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan seolah menjadi rumus kehidupan yg akan selalu muncul dalam sejarah manusia. Di antara ayat al-Qur’an yg menegaskan demikian adalah Q.S. al-Isra’ [17]:81

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“(Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap).

Perhatikanlah, ayat di atas menggunakan kata kerja (fi`il) madhi, yaitu kata “ja`a” (datang) “zahaqa” (lenyap), dan “kana” (ada). Dalam bahasa Arab, kata ini salah satu fungsinya adalah menunjukkan arti “tahaqquq/tawaqqu`” (kehadirannya dapat dipastikan). Contoh yg lebih jelas adalah ungkapan “ata amrullah”. Menurut ahli tafsir, “amrullah” artinya hari kiamat. Penggunaan kata kerja “ata” (datang) untuk menunjukkan bahwa hari itu pasti akan datang.

Pemahaman yg sama dapat dialamatkan dengan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Bedanya, pertarungan ini di samping akan terus terjadi, tetapi juga sudah dan bahkan sedang terjadi hari ini.

Dalam urutannya, ayat di atas mendahulukan penyebutan kebenaran daripada kebatilan. Ini menunjukkan bahwa kebatilan muncul belakangan untuk menghalangi, menantang, dan melawan kebenaran. Atau, kebatilan ada karena ada kebenaran. Formulanya, di mana ada kebenaran, di situ pula ada kebatilan yg melawannya.

Perhatikan pula, ayat ini menggunakan kata “zahaqa” sebagai antonim kata “ja’a” (datang). Kenapa tdk menggunakan kata “dzahaba” (pergi)? Ada mufasir menjelaskan bahwa kata “zahaqa” lebih mendatangkan arti kekalahan kebatilan dari kebenaran daripada kata “dzahaba”. Dzahaba dapat diartikan pergi tetapi belum menunjukkan kekalahannya, tetapi “zahaqa” dapat diartikan pergi, kalah, dan lenyap.

Apa yg dijelaskan ayat di atas benar-benar terekam dlm sejarah. Setiap ada kebenaran, di sana pula pasti ada kebatilan yg menghalanginya. Setiap pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, pemenangnya selalu kebenaran. Dengan demikian, jangan pernah lelah memperjuangkan kebenaran, sebab pada saatnya nanti kebenaran yg diperjuangkan pasti akan menang. Dan itu pasti terjadi. Itulah rumus kehidupan, rumus al-Qur’an.
Walaupun proses, kadang kebatilan yang menang, kadang kebenaran yang menang, tapi yakin kebenaran akan menang.

اِذَا  جَآءَ  نَصْرُ  اللّٰهِ  وَا لْفَتْحُ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,” (QS. An-Nasr 110: Ayat 1)

وَرَاَ يْتَ  النَّا سَ  يَدْخُلُوْنَ  فِيْ  دِيْنِ  اللّٰهِ  اَفْوَا جًا
“dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,” (QS. An-Nasr 110: Ayat 2)

“Ya Allah bimbinglah kami dalam menegakkan keadilan dan kebenaran,hingga cahaya kebenaran memancar dan mengalahkan segala kebatilan.