Kafir Menjauhkan Diri dari Al Qur’an

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَهُمْ  يَنْهَوْنَ  عَنْهُ  وَيَنْـئَوْنَ  عَنْهُ  ۚ وَاِ نْ  يُّهْلِكُوْنَ  اِلَّاۤ  اَنْفُسَهُمْ  وَمَا  يَشْعُرُوْنَ

“Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan (Al-Qur’an) dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.” (QS : Al-An’am 6: Ayat 26)

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan, bahwa mereka tidaklah berhenti mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan memandangnya sebagai sihir, bahkan mereka mencegah orang lain mendengarkan serta menghasutnya, agar orang-orang itu tidak tertarik kepada Al-Qur’an yang indah bahasanya dan maknanya yang padat melebihi bahasa penyair-penyair mereka, sehingga pemimpin kaum musyrik itu merasa khawatir terhadap pengaruh gaya bahasa Al-Qur’an itu kepada pendengarnya. Mereka menyadari bahwa kesempatan untuk memperhatikan ayat Al-Qur’an itu berarti kesempatan untuk menanggapi mukjizatnya, karena itulah mereka menghalangi orang lain.

Di samping mencegah orang lain, mereka sendiri menjauhkan diri dari Al-Qur’an, untuk menunjukkan bahwa mereka sangat menentangnya dan untuk menguatkan larangan mereka.

Meskipun orang-orang musyrik telah berdaya upaya dengan pelbagai cara untuk memadamkan cahaya Islam, mereka tidak akan berhasil. Bahkan Allah menyatakan pada akhir ayat ini, bahwa tindakan mereka bukanlah menghancurkan Islam tetapi menghancurkan mereka sendiri tanpa mereka sadari. Peringatan akan kehancuran mereka ini beberapa tahun kemudian terbukti kebenarannya dalam pelbagai peperangan dan kemenangan di pihak Rasulullah.

Kafir sudah pasti menjauhkan diri dari al Quran, tapi yang Islam sendiri terbagi menjadi 3 bagian dalam menyikapi al Quran;

Allah SWT mengingatkan dalam Alquran tentang terbaginya umat Islam ke dalam tiga golongan dalam menyikapi Alquran (QS. Faathir: 32).

ثُمَّ  اَوْرَثْنَا  الْكِتٰبَ  الَّذِيْنَ  اصْطَفَيْنَا  مِنْ  عِبَا دِنَا   ۚ فَمِنْهُمْ  ظَا لِمٌ  لِّنَفْسِهٖ   ۚ وَمِنْهُمْ  مُّقْتَصِدٌ     ۚ وَمِنْهُمْ  سَا بِقٌ  بِۢا لْخَيْرٰتِ  بِاِ ذْنِ  اللّٰهِ   ۗ ذٰلِكَ  هُوَ  الْفَضْلُ  الْكَبِيْرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

  • Pertama, golongan zhalimu linafsih (menganiaya diri sendiri).
  • Kedua, golongan muqtashid (pertengahan).
  • Ketiga, golongan saabiqun bil-khairi (cepat berbuat kebajikan).

Golongan pertama ; zhalimu linafsih adalah orang yang mengabaikan Alquran dalam hidupnya. Disebut “menganiaya diri sendiri” karena dengan mengabaikan ajaran Allah ia sesat dalam hidupnya. Ia menolak mengikuti aturan yang akan menyelamatkannya dunia-akhirat. Orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya”;

Golongan kedua ; golongan muqtashid dapat dikatakan parsial dalam pengamalan Alquran. Mereka mencampuradukkan antara ibadah dan maksiat, hak dan batil, mereka yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.

Golongan sabiqun bil-khair adalah mereka yang cepat mengamalkan Alquran begitu mereka baca dan pahami. Persis sebagaimana dicontohkan Nabi SAW dan para sahabat, orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan;

Renungan kita berada dimana ?

Semoga kita semakin intensif membaca “Iqra” baik ayat qauliyah (Alquran) maupun ayat kauniyah (fenomena alam) berdasarkan petunjuk Alquran agar kita semua, umat Islam, menjadi umat yang terbaik, menjadi teladan bagi umat-umat lain, dan menjadi rahmat bagi semesta alam