أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ثُمَّ يَتُوْبُ اللّٰهُ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَلٰى مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Setelah itu Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 27)
Mendapatkan ampunan dan diterima tobatnya bilamana telah mendapat petunjuk dari Allah untuk memeluk Islam
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan bahwa terhadap orang-orang yang sudah mendapat azab dari Allah di dunia ini, karena kekafiran, mereka dapat diberi ampunan dan diterima tobatnya bilamana mereka telah mendapat petunjuk dari Allah untuk memeluk Islam. Bilamana mereka telah menjadi muslim dan tidak lagi mempersekutukan Allah, maka kesalahannya diampuni oleh Allah dan segala dosanya dihapus, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Seseorang yang masuk Islam diampuni dosa-dosa masa lalunya, amal baik seseorang setelah bertaubat atau memeluk Islam dapat menghapus dosa-dosa masa lalunya:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا**
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Al-Furqan: 70)
Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang benar dan amal shalih dapat menghapus dosa-dosa sebelumnya.
Rasulullah ﷺ secara spesifik menyebutkan bahwa seseorang yang masuk Islam diampuni semua dosa-dosanya yang lalu. Berikut adalah hadisnya:
“Amma ‘alimta anna al-islama yahdimu ma kana qablahu.”
“Tidakkah kamu tahu bahwa Islam menghapus semua dosa yang dilakukan sebelumnya?” (HR. Muslim, no. 121)
“Al-Islamu yajubbu ma qablahu.”
“Islam menghapus dosa-dosa yang terjadi sebelumnya.”(HR. Ahmad, no. 21998 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Allah SWT memberikan kesempatan bagi setiap orang yang memeluk Islam untuk memulai hidup baru seperti bayi yang baru lahir, bersih dari dosa-dosa masa lalunya. Namun, ini juga menjadi motivasi untuk terus menjaga iman, beramal shalih, dan menjauhi dosa setelahnya.
Meremehkan kesempatan bertaubat dengan terus-menerus berbuat dosa dan beranggapan bahwa taubat bisa dilakukan kapan saja adalah sikap yang sangat berbahaya dalam pandangan Islam.
Hati Menjadi Keras dan Tertutup
Jika seseorang terus-menerus berbuat dosa tanpa niat sungguh-sungguh untuk berhenti, hatinya akan menjadi keras dan tertutup dari hidayah.
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14)
“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka dititikkan di hatinya sebuah titik hitam. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa, dan memohon ampun, hatinya menjadi bersih kembali. Tetapi jika ia mengulangi dosa itu, titik hitam itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah yang dimaksud ‘ran’ yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.” (HR. Tirmidzi, no. 3334)
Dosa yang Berulang Menjadi Kebiasaan
Jika seseorang terus-menerus melakukan dosa dengan sengaja dan meremehkan taubat, dosa tersebut bisa menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil, karena dosa kecil itu jika terus dilakukan akan menjadi besar seperti halnya sekumpulan kayu yang menyala menjadi api besar.”
(HR. Ahmad, no. 22302)
Risiko Mati dalam Keadaan Belum Bertaubat
Tidak ada yang menjamin umur seseorang. Jika seseorang terus menunda taubat dengan berbuat dosa, ia berisiko meninggal dalam keadaan belum bertaubat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal.”
(HR. Muslim, no. 2878)
Meninggal dalam keadaan berbuat dosa tanpa taubat adalah nasib yang sangat buruk.
•Taubat harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak diulang kembali.
•Meremehkan dosa dan taubat adalah tanda hati yang lalai.
•Bisa jadi Allah mencabut kesempatan untuk bertaubat jika seseorang terus meremehkan dosa.
Karena itu, setiap Muslim harus senantiasa berhati-hati, memohon ampunan dengan ikhlas, dan berusaha keras untuk tidak kembali melakukan dosa yang sama. Jangan tunggu waktu, karena ajal bisa datang kapan saja.
Doa Memohon Taubat yang Tulus
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ
“Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)