ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 119)
Hendaknya bersama dengan orang-orang yang benar, jujur dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya
Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI
Allah menunjukkan seruan-Nya dan memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, agar mereka tetap dalam ketakwaan serta mengharapkan rida-Nya, dengan cara menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan-Nya, dan menjauhi segala larangan yang telah ditentukan-Nya, dan hendaklah senantiasa bersama orang-orang yang benar dan jujur, mengikuti ketakwaan, kebenaran dan kejujuran mereka. Dan jangan bergabung kepada kaum munafik, yang selalu menutupi kemunafikan mereka dengan kata-kata dan perbuatan bohong ditambah pula dengan sumpah palsu dan alasan-alasan yang tidak benar.
Al-Baihaqi meriwayatkan suatu hadis Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda:
Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan itu menuntun kepada surga. Sesungguhnya seseorang akan berlaku jujur sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke neraka. Sesungguhnya seseorang itu berlaku dusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta. (Hadis Muttafaq ‘Alaih)
Berdusta selamanya terlarang kecuali bila terpaksa, sebagai tipu muslihat dalam peperangan, atau untuk mendamaikan antara pihak-pihak yang ber-sengketa, atau kebohongan seorang lelaki kepada isterinya yang dimaksud-kan untuk menyenangkan hatinya, misalnya dalam memuji kecantikannya, akan tetapi bukan kebohongan dalam masalah keuangan dan kepentingan kehidupan rumah tangga atau lainnya. Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda:
Setiap kebohongan yang dilakukan oleh seseorang selalu dituliskan sebagai dosanya kecuali bagi seorang yang berbohong sebagai tipu muslihat dalam peperangan, atau kebohongan untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa atau kebohongan yang dilakukan seseorang terhadap isterinya dengan maksud untuk menyenangkan hatinya. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad, dari Asma binti Yazid).
Bersama dengan orang-orang yang benar dan jujur dalam ucapan, perilaku, dan perbuatan adalah agar kita selalu berada di lingkungan yang baik dan mendapatkan pengaruh positif dari orang-orang yang berintegritas.
Orang yang benar dan jujur akan selalu berkata dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, tanpa kepalsuan atau kemunafikan. Jika kita bergaul dengan mereka, kita akan terdorong untuk melakukan hal yang sama, sehingga karakter kita semakin baik dan kehidupan kita lebih berkah.
Selain itu, dalam Islam, berada di lingkungan yang baik sangat dianjurkan karena dapat membantu kita tetap istiqamah dalam kebenaran, menghindarkan dari kebiasaan buruk, serta membangun kepercayaan dalam hubungan sosial.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah menyebutkan tujuh kriteria kebahagiaan (as-sa’adah) yang dapat membawa seseorang kepada kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Salah satu dari tujuh kriteria tersebut adalah selalu berada di lingkungan yang baik atau bergaul dengan orang-orang saleh.
Tujuh kriteria kebahagiaan menurut Ibnu Abbas:
1.Hati yang selalu bersyukur – Mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah, baik kecil maupun besar.
2.Pasangan hidup yang saleh atau salehah – Memiliki pasangan yang mendukung dalam kebaikan dan membantu dalam ketaatan kepada Allah.
3.Anak-anak yang berbakti – Anak yang taat dan menjadi kebanggaan bagi orang tua, serta menjadi investasi akhirat.
4.Lingkungan yang baik – Berada dalam komunitas yang mendukung dalam kebaikan dan menjauhkan dari kemaksiatan.
5.Harta yang halal – Mencari rezeki yang bersih dan berkah, jauh dari riba, korupsi, dan penipuan.
6.Semangat memahami agama – Memiliki ilmu dan pemahaman yang baik tentang agama, sehingga bisa menjalani hidup sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
7.Umur yang diberkahi – Memiliki umur yang panjang dalam ketaatan dan dipenuhi dengan amal kebajikan.
Dengan memenuhi tujuh kriteria ini, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan hakiki, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku teman-teman yang saleh, bimbinglah aku menuju lingkungan yang baik yang membantuku dalam ketaatan kepada-Mu. Tetapkan hatiku di atas agama-Mu, dan jangan biarkan aku bergantung pada diriku sendiri walau sekejap mata.”