Beruntunglah Orang yang Bisa Melihat Kebenaran dari Allah dengan Mata Hatinya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَدْ  جَآءَكُمْ  بَصَآئِرُ  مِنْ  رَّبِّكُمْ  ۚ فَمَنْ  اَبْصَرَ  فَلِنَفْسِهٖ  ۚ وَمَنْ  عَمِيَ  فَعَلَيْهَا  ۗ وَمَاۤ  اَنَاۡ  عَلَيْكُمْ  بِحَفِيْظٍ

“Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga(mu).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 104)

Barang siapa melihat kebenaran itu dengan mata hatinya, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri, dan barang siapa buta mata batinnya dan tidak melihat kebenaran itu, maka dia sendiri-lah yang akan rugi

Dalam tafsir ringkas, Kementrian Agama RI; Kemampuan penglihatan manusia amat terbatas seperti diisyaratkan oleh ayat sebelum ini. Namun demikian, manusia dianugerahi oleh Allah dengan mata batin. Ayat ini menegaskan bahwa sungguh, bukti-bukti yang nyata dan sangat jelas telah datang dari Tuhanmu yang disampaikan melalui wahyu. Barang siapa melihat kebenaran itu dengan mata hatinya, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, dan barang siapa buta mata batinnya dan tidak melihat kebenaran itu, maka dia sendiri-lah yang akan rugi, bukan orang lain.

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwasanya tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat telah datang kepada mereka dari-Nya. Tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat itu dapat diketahui oleh mereka baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya maupun petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Nabi Muhammad berupa wahyu. Kedua bukti itu dapat memperkuat keyakinan mereka tentang adanya Allah. Sesudah itu Allah menandaskan bahwa barang siapa yang dapat melihat kebenaran dengan jalan memperhatikan kedua bukti itu, dan meyakini adanya Allah serta melakukan amal yang baik, maka manfaat dari semuanya itu adalah untuk dirinya sendiri. Akan tetapi sebaliknya barang siapa yang tidak mau melihat kebenaran atau berpura-pura tidak mengerti, maka akibat buruk dari sikapnya itu akan menimpa dirinya sendiri.

مَنْ  عَمِلَ  صَا لِحًـا  فَلِنَفْسِهٖ  وَمَنْ  اَسَآءَ  فَعَلَيْهَا  ۗ وَمَا  رَبُّكَ  بِظَلَّا مٍ  لِّلْعَبِيْدِ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya).” (QS. Fussilat 41: Ayat 46)

اِنْ  اَحْسَنْتُمْ  اَحْسَنْتُمْ  لِاَ نْفُسِكُمْ  ۗ وَاِ نْ  اَسَأْتُمْ  فَلَهَا  ۗ

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 7)

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa Muhammad sekali-kali bukanlah pemelihara mereka, yakni Nabi Muhammad sekali-kali tidak ditugaskan mengawasi amal-amal mereka dan tidak dapat membuat mereka menjadi mukmin. Dia hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang telah diterimanya. Sebenarnya yang mengawasi amal mereka ialah Allah. Dia mempunyai pengawasan yang tak terbatas terhadap semua amal mereka baik yang mereka lakukan secara terang-terangan ataupun yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Semua amal itu akan diberi balasan yang setimpal.

Teruslah beramal atau berbuat baik, manusia akan selamat di dunia dan di akhirat, kalau melakukan tiga kebaikan, baik kepada Allah SWT, baik kepada manusia dan baik kepada alam(lingkungan).

Berbuat baik kepada Allah SWT merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan ketaatan dan penghormatan terhadap ajaran agama, dengan potensi mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Berbuat baik kepada sesama manusia memperkuat hubungan sosial, menciptakan keadilan, dan membangun masyarakat yang berempati. Berbuat baik kepada alam, seperti menjaga lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam, bertujuan untuk memelihara ekosistem dan mewujudkan kehidupan yang seimbang.

Dengan berbuat baik kepada Allah, sesama manusia, dan alam, seseorang dapat mencapai keseimbangan spiritual, sosial, dan ekologis dalam kehidupannya.

Semoga kita istiqomah berbuat baik, baik kepada Allah SWT, baik kepada manusia dan baik kepada alam (lingkungan).