Bertaqwa dan Mengadakan Perbaikan, Maka tidak Ada Rasa Takut dan Bersedih Hati

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

يٰبَنِيْۤ  اٰدَمَ  اِمَّا  يَأْتِيَنَّكُمْ  رُسُلٌ  مِّنْكُمْ  يَقُصُّوْنَ  عَلَيْكُمْ  اٰيٰتِيْ  ۙ فَمَنِ  اتَّقٰى  وَاَ صْلَحَ  فَلَا  خَوْفٌ  عَلَيْهِمْ  وَلَا  هُمْ  يَحْزَنُوْنَ

“Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 35)

Bertaqwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Pada ayat yang lalu Allah menerangkan bahwa tiap-tiap umat atau bangsa ada ajalnya, maka pada ayat-ayat berikut ini diterangkan bahwa Allah mengutus para rasul pada umat manusia. Mereka menyampaikan pokok-pokok syariat sebagai petunjuk kepada manusia ke jalan yang benar. Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu dari Allah rasul-rasul dari kalanganmu sendiri agar kamu lebih mudah berkomunikasi dan akrab dengan mereka, yang membacakan dan menceritakan ayat ayat-Ku kepadamu, dan menerangkan pada kalian bukti-bukti kebenaran risalahnya, maka taatlah kepadanya dan ikutilah ajarannya. Maka barang siapa bertakwa kepada Allah, dengan menaati perintah-Nya dan mengadakan perbaikan, baik dalam arti memperbaiki amalnya, maupun dalam arti memperbaiki diri dan lingkungan, maka tidak ada rasa takut pada diri mereka atas dunia yang harus mereka korbankan, karena tenggelam dalam lezatnya iman yang bersemayam dalam hati mereka. Dan di akhirat, mereka tidak bersedih hati.

Republika co.id. Mengadakan perbaikan, ini menunjukkan
bahwa islam dinamis, ini Atsar bukan hadist riwayat dari sahabat Imam Ali Ibnu Abi Thalib Karramallâhu Wajhah, pernah berkata :
Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Teks di atas bukan hadits. Ada yang mengatakan, perkataan di atas adalah ucapan Ali bin Abi Thalib. Atsar ini konteksnya tidak bertentangan dengan ayat Quran seperti QS Al A’raf 36 dan ayat lain yang berhubungan; “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7).

Membuat besok lebih baik dari hari ini juga ada dalam Quran ayat lain ;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59: 18).

Semangat membuat hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini terbukti universal sebab juga digaungkan di seluruh penjuru dunia. Saat berselancar di internet dan mencari kutipan “better than yesterday” kita bisa menemukan lebih dari 80 kalimat bijak yang mengajak kita lebih baik dari hari kemarin.
Matshona Dhliwayo, penulis, filsuf kelahiran Zimbabwe yang kini berbasis di Kanada, berpesan, “Don’t strive to be superior to others; strive to be better than you were yesterday.”
Pemusik asal Jepang Kaoru mengungkap, “Be your biggest competitor–challenge yourself each day to be better than you were yesterday.”Marcus Harrison Green, penulis dan pembicara asal Amerika yang mendapat penghargaan Rights Commissions’ Individual Human Rights Leader Award for 2020 menyampaikan, “All you can try to do is be better than you were yesterday, everyday.”
Penulis Tina A Morgan menekankan pentingnya menjadi lebih baik hari ini dari kemarin karena tidak ada jaminan apa yang terjadi besok. “Always try and be a better person than you were yesterday, cause we aren’t guaranteed tomorrow.”

Orang yang menganggap kemarin lebih baik dari hari ini berarti merendahkan nilai keberadaan mereka

Perancang busana asal Jerman, Karl Lagerfeld justru mengungkap, orang yang menganggap kemarin lebih baik dari hari ini berarti merendahkan nilai keberadaan mereka. “People who say that yesterday was better than today are ultimately devaluing their own existence.”
Dari semua ungkapan di atas, yang terpenting adalah pertanyaan buat diri kita sendiri. Apakah hari ini kita lebih baik dari kemarin? Bagaimana dengan besok? Apakah kita lebih baik dari hari ini?
Semoga, tekad senantiasa untuk lebih baik itu tak pernah lemah untuk menjadi seseorang yang selalu tak puas untuk menjadi kian baik, tak hanya di mata manusia, melainkan tentunya di hadapan Allah SWT dan tentunya negara kita ke depan supaya menjadi lebih baik.