Berbuat Keji dengan Dalih Mengikuti Nenek Moyang

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  فَعَلُوْا  فَا حِشَةً  قَا لُوْا  وَجَدْنَا  عَلَيْهَاۤ  اٰبَآءَنَا  وَا للّٰهُ  اَمَرَنَا  بِهَا  ۗ قُلْ  اِنَّ  اللّٰهَ  لَا  يَأْمُرُ  بِا لْفَحْشَآءِ  ۗ اَتَقُوْلُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  مَا  لَا  تَعْلَمُوْنَ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 28)

Berbuat keji dengan dalih mengikuti nenek moyang

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan orang-orang yang telah menjadikan setan sebagai pemimpinnya, apabila berbuat kejahatan, seperti mengingkari Allah dan menyekutukan-Nya, mereka mengemukakan alasan dan uzur, “Begitulah yang kami ketahui dan kami dapati dari nenek moyang kami. Kami hanya mengikuti apa yang telah dikerjakan mereka, bahkan Allah telah memerintahkan kepada kami yang demikian, dan kami hanya menuruti perintah-Nya.” Pengakuan mereka jelas tidak dapat dibenarkan, karena Allah mempunyai sifat kesempurnaan, tidak mungkin dan tidak masuk akal akan menyuruh dan memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji seperti perbuatan tersebut di atas. Sebenarnya yang memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji tentunya tiada lain melainkan setan sebagaimana firman Allah:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir)… (al-Baqarah/2: 268)

Mereka mengeluarkan perkataan yang dialamatkan kepada Allah, bahwa Dialah yang menyuruh berbuat jahat dan keji. Itu adalah ucapan yang tidak beralasan yang tidak didasarkan atas pengetahuan, padahal yang demikian itu akan mereka pertanggungjawabkan nanti di akhirat sebagaimana firman Allah:

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (al-Isra’/17: 36).

Setiap ibadah/kegiatan seharusnya ada rujukannya, adakah dalam Qurannya ? Adakah dicontohkan rassul ? Adakah jhumhur ulama membolehkannnya ? Momentum di bulan ramadhan memperbaiki kualitas ibadah yangbwajib, memperbanyak yang sunat, memperbaiki habluminanas(hubungan baik dengan sesama), mengurangi perbuatan mubah, meninggalkan subhat, menghindari perbuatan makruh, meninggalkan perbuatan haram dan meninggalkan perbuatan bid’ah.

Semoga apa yang kita lakukan ada nilai ibadahnya dan diridhoi Allah SWT.