Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ ذَا صُرِفَتْ اَبْصَا رُهُمْ تِلْقَآءَ اَصْحٰبِ النَّا رِ ۙ قَا لُوْا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 47)
Penghuni neraka adalah orang orang zalim
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan, bila penghuni A’raf ini mengalihkan pandangannya ke arah penghuni neraka, timbullah ketakutan mereka, lalu memohon kepada Allah agar mereka jangan dimasukkan bersama orang-orang yang zalim itu ke dalam neraka. Sedangkan melihat penghuni surga adalah kesenangan dan kesukaan mereka. Karena itu ketika mereka melihat surga mengucapkan salam sejahtera, karena kerinduan hati mereka melihat kesenangan yang ada di dalamnya. Jadi maksud ayat ini adalah menumbuhkan rasa takut dan gentar kepada penghuni A’raf itu, agar dapat dijadikan pelajaran bagi manusia untuk berhati-hati agar jangan mengerjakan perbuatan dosa.
Kemaksiatan ada dimana mana, kebohongan sudah dianggap biasa, supaya tidak mengerjakan dosa rassul pernah memberi nasehat, boleh berbuat sesukanya tapi jangan berbohong
Diriwayatkan ada seorang pemuda yang gemar berbuat maksiat pada zaman Nabi. Pemuda itu ingin bertaubat dan ingin masuk Islam. Ia datang menemui Rasulullah. Pemuda itu mengutarakan niatnya dan menceritakan tabiatnya yang gemar bermaksiat. Rasulullah mengizinkan sang pemuda memeluk Islam. Sang pemuda mengajukan permintaan kepada Rasulullah.
Ia meminta untuk tetap diizinkan berbuat maksiat walau ia telah masuk Islam. Rasulullah hanya tersenyum. Lalu beliau mengizinkan. Namun beliau meminta satu syarat kepada sang pemuda.
“Apa gerangan syarat tersebut wahai Rasulullah?” Tanya sang pemuda.
“Syaratnya, jangan berbohong!” Jawab Rasulullah.
Singkat cerita, sang pemuda pulang dengan perasaan lega. Ia sangat gembira masih diizinkan bermaksiat oleh Rasulullah. Mudah sekali syaratnya, hanya jangan berbohong.
Suatu saat sang pemuda tergoda melakukan maksiat. Ia berniat melakukan maksiat sebagaimana yang sering ia lakukan. Namun sebelum ia melakukan maksiat, ia berpikir sejenak. Wah, bagaimana jika nanti aku ketemu Rasulullah. Jika beliau bertanya tentang kebiasaanku. Jika aku jawab jujur, aku malu telah melakukan maksiat. Jika aku bohong, aku melanggar janjiku. Sang pemuda kini sadar. Pesan singkat Rasulullah yang terkesan ringan, sungguh sangat berat dan bermakna. Dan mampu merubah tabiatnya.
Dari kisah singkat di atas, bohong mendapat perhatian yang sangat serius oleh Nabi. Ia adalah sesuatu yang sangat prinsip dalam hidup. Sampai-sampai Rasulullah hanya berpesan kepada pemuda di atas untuk berjanji tidak akan berbohong. Sang pemuda pun dengan gembira menerima syarat itu. Bahkan itu terdengar remeh dan mudah. Namun ia salah. Justru dengan satu kata singkat itu akhirnya mampu merubah perilakunya.
Berbohong adalah awal keburukan, ingin menghindari perbuatan dosa, lakukan dengan niat untuk tidak berbohong. Nasihat rassul yang kelihatan sederhana ternyata kalau diamalkan bisa merubah perilaku dan tabiat seseorang.
Mencoba untuk tidak berbuat dosa dengan tidak berbohong.
Orang baik bukan orang tidak pernah berbuat dosa, tapi pada saat khilaf berbuat dosa segera tobat dan Allah menyukai orang bertobat dan mensucikan diri. Allah SWT tidak menyebutkan menyukai orang tidak pernah berbuat dosa tapi menyukai orang yang bertobat dan mensucikan diri, menghindar dari perbuatan maksiat.
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِ يْنَ
Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222).
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.