Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَا دَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗ شَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗ وَاُ وْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْـقُرْاٰ نُ لِاُ نْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَئِنَّكُمْ لَـتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰ ى ۗ قُلْ لَّاۤ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِ يْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? Katakanlah, Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah? Katakanlah, Aku tidak dapat bersaksi. Katakanlah, Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 19)
Asmaul Husna “Asy-Syahid,” Allah Yang Maha Menyaksikan atau Yang Maha Bersaksi atas segala sesuatu
Asmaul Husna adalah serangkaian nama-nama atau sifat-sifat Allah dalam Islam yang indah dan sempurna. Istilah “maha bersaksi” tidak termasuk dalam Asmaul Husna yang umumnya dikenal, tetapi salah satu sifat Allah yang penting dalam Islam adalah “Asy-Syahid,” yang berarti Allah adalah Yang Maha Menyaksikan atau Yang Maha Bersaksi atas segala sesuatu. Allah dikatakan Maha Menyaksikan segala yang terjadi di alam semesta dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.
ASY SYAHID (Yang Maha Menyaksikan)
Disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 18 kali.
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.(QS. Al Hajj: 17.)
Asy Syahid berarti yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatupun. Allah menyaksikan perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh, hamba-hamba-Nya, mengetahui yang ghaib dan yang nyata, melihat apa yang tidak diketahui oleh manusia kecuali dengan adanya saksi-saksi.
Perbedaan antara Al alim, Asy syahid dan Al khabir adalah:
Al-Alim, Asy-Syahid, dan Al-Khabir adalah tiga dari Asmaul Husna, yaitu nama-nama atau sifat-sifat Allah yang indah dan sempurna. Meskipun semuanya berkaitan dengan pengetahuan Allah, mereka memiliki makna dan nuansa yang berbeda :
1. Al-Alim (العليم): Ini adalah salah satu sifat Allah yang berarti “Yang Maha Mengetahui” atau “Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” Allah adalah pengetahuan yang mutlak, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Al-Alim menunjukkan bahwa Allah memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masa lalu, sekarang, dan masa depan, serta pengetahuan tentang setiap detail dalam penciptaan-Nya.
2. Asy-Syahid (الشَّهِيد): Sifat ini mengacu pada Allah sebagai “Yang Maha Menyaksikan” atau “Yang Maha Bersaksi.” Allah adalah saksi atas semua perbuatan manusia, baik yang tersembunyi maupun yang terlihat. Dia menyaksikan segala yang terjadi dalam alam semesta dan akan menjadi saksi atas perbuatan manusia saat hari penghakiman tiba.
3. Al-Khabir (الخَبِير): Ini adalah sifat Allah yang berarti “Yang Maha Mengetahui dengan Mendalam” atau “Yang Maha Mengetahui dengan Penuh Pengetahuan.” Al-Khabir menunjukkan bahwa Allah memiliki pemahaman mendalam tentang segala hal, termasuk motivasi dan niat di balik perbuatan manusia. Ini adalah pengetahuan yang dalam dan rinci.
Jadi, perbedaan utama antara ketiga sifat ini adalah fokus pada jenis pengetahuan Allah dan bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam hubungannya dengan penciptaan-Nya. Al-Alim menekankan pengetahuan-Nya yang mutlak, Asy-Syahid menyoroti peran-Nya sebagai saksi, dan Al-Khabir menunjukkan pemahaman mendalam-Nya tentang segala hal. Semua sifat ini bersifat mutlak dan mencerminkan sifat-sifat yang sempurna dari Allah dalam agama Islam.
Kesaksian Allah Ta’ala sangatlah agung, karena kesaksiannya tidak pernah salah.
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ
Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. (Qs. Al Anam: 19.)
Allah bersaksi atas diri-Nya dengan ketauhidan dalam sebuah ayat yang mengandung kesaksian paling agung dari saksi yang Maha Agung.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),(Qs. Ali Imran: 18.)
Allah Ta’ala mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ
maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).(Qs. Al araf: 7.)
Allah Ta’ala adalah saksi bagi orang-orang yang terdzalimi dimana tidak ada saksi dan penolong bagi mereka dari orang-orang yang dzalim, agar Allah membela mereka.
اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ
Dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan. (Qs. Yunus: 46.)
Hari kiamat dinamakan juga dengan hari disaksikan (Yaumun Masyhud), karena ia merupakan hari yang disaksikan oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya.
ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ
Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). (Qs. Hud: 103.)
Allah maha menyaksikan, kalau di dunia berbuat jahat dan lolos dari pengadilan dunia, tapi dijamin tidak lolos dengan pengadilan akhirat.
Allah Yang Maha Menyaksikan dan Yang Maha Mengetahui atas segala perbuatan manusia. Jika seseorang melakukan perbuatan jahat di dunia dan lolos dari pengadilan manusia atau tidak mendapatkan hukuman di dunia, itu tidak berarti bahwa mereka akan lolos dari pengadilan akhirat.
Dalam akhirat, semua individu akan dihisab atas perbuatan mereka selama hidup mereka. Tidak akan ada yang dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban akhirat di hadapan Allah. Harus tertanam keyakinan akan hari penghakiman sangat kuat, dan setiap perbuatan, baik baik maupun buruk, akan dihitung dan dihakimi dengan adil oleh Allah SWT.
Jadi, meskipun seseorang mungkin lolos dari hukuman manusia di dunia, mereka tidak akan lolos dari penghakiman Allah di akhirat. Keyakinan ini mendalam memengaruhi tindakan orang-orang dalam menjalani kehidupan mereka, karena mereka percaya bahwa akhirat adalah tempat pertanggungjawaban sejati.
Ya Allah ampuni dosa dosa baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja, baik dilakukan secara terang terangan maupun yang dilakukan secara sembunyi sembunyi.