Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لَّـكُمْ مِّنْهُ شَرَا بٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 10)
Allah Menurunkan Air, Manusia Menikmati Kehidupan
Di dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa Allah menyebutkan nikmat yang diperoleh manusia dari langit secara langsung atau tidak langsung. Nikmat Allah yang mereka peroleh secara langsung adalah air hujan yang dapat dijadikan air minum dan keperluan lainnya dalam kehidupan mereka sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, dan lain sebagainya. Turunnya air hujan juga membuat udara yang panas menjadi sejuk dan menyegarkan badan.
Sedang nikmat Allah yang diperoleh secara tidak langsung dari air hujan adalah air itu dapat mengairi sawah dan menghidupkan segala macam tumbuh-tumbuhan. Segala tumbuhan itu sangat bermanfaat bagi manusia dan makhluk lain, seperti manusia dapat menggembalakan binatang ternak mereka di padang rumput.
Ayat ini merupakan salah satu dari sekian banyak ayat yang berbicara mengenai hujan dan kesuburan yang diakibatkannya. Untuk rincian mengenai hujan lihat Surah an-Nur/24: 43 dan ar-Rum/30: 48-49. Sedangkan uraian mengenai bagaimana hujan sangat berperan untuk kesuburan dapat dilihat pada Surah Qaf/50: 9-11.
QS An-Nahl ayat 10 sangat kuat kalau ditadabburi sebagai kelanjutan dari ayat 7–9. Ada benang merah yang menarik: Allah terlebih dahulu menunjukkan sarana yang memudahkan perjalanan dan kehidupan manusia, kemudian menunjukkan sumber kehidupan yang Allah turunkan dari langit.
1. Ayat 7: Allah memberi sarana untuk membawa beban
Pada ayat 7, Allah menyebut hewan ternak yang mengangkut beban manusia ke tempat yang sulit dicapai.
“…Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Artinya, Allah bukan hanya menciptakan manusia, tetapi juga menyediakan sarana untuk meringankan beban hidup manusia.
2. Ayat 8: Allah memberi sarana transportasi
Ayat 8 melanjutkan dengan kuda, bagal, dan keledai:
“…dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
Seolah-olah manusia diberi pesan: nikmat Allah tidak berhenti pada apa yang sudah kamu kenal. Allah memberikan sarana, dan manusia diberi akal untuk terus mengembangkan sarana tersebut.
Dulu kuda dan keledai menjadi alat transportasi. Sekarang manusia mempunyai mobil, kereta, pesawat, kapal, dan berbagai teknologi.
3. Ayat 9: Allah menunjukkan jalan
Kemudian ayat 9 membawa pembahasan dari sarana perjalanan kepada arah perjalanan:
وَعَلَى اللّٰهِ قَصْدُ السَّبِيْلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ
“Dan hak Allah menerangkan jalan yang lurus, dan di antaranya ada jalan yang menyimpang.”
Ini sangat menarik. Ayat 7–8 berbicara tentang sarana untuk bergerak. Ayat 9 berbicara tentang ke mana kita bergerak.
Jadi, manusia bukan hanya membutuhkan kendaraan, tetapi membutuhkan petunjuk jalan.
4. Kemudian ayat 10: Allah menunjukkan sumber yang menghidupkan perjalanan
Setelah berbicara tentang perjalanan manusia, Allah beralih kepada air hujan:
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu.”
Di sini ada hubungan yang sangat indah.
Allah memberikan sarana untuk perjalanan, kemudian Allah memberikan sarana untuk mempertahankan kehidupan selama perjalanan itu.
Dengan kata lain:
5. “Allah memberi” dan “Allah menurunkan”
Ada satu kata yang menurut saya sangat menarik untuk dijadikan bahan tadabbur:
Pada ayat-ayat sebelumnya Allah banyak berbicara tentang sesuatu yang Dia ciptakan. Pada ayat 10 Allah menyebut sesuatu yang Dia turunkan.
Hewan diciptakan.
Kendaraan dan berbagai sarana dikembangkan manusia dari apa yang Allah ciptakan.
Tetapi air hujan tidak kita ciptakan—Allah yang menurunkannya.
Ini mengingatkan manusia bahwa di balik seluruh kemampuan kita mengelola kehidupan, ada kebutuhan yang tidak bisa kita produksi sendiri dari ketiadaan.
Kita bisa membuat bendungan, irigasi, pompa, embung, pipa dan teknologi pengolahan air. Tetapi kita tidak menciptakan hujan.
Kita hanya mengelola apa yang Allah turunkan.
6. Bahkan hujan pun menjadi “rantai kenikmatan”
Perhatikan susunannya:
Allah menurunkan hujan → air menjadi minuman → air menyuburkan tumbuhan → tumbuhan menjadi makanan → ternak dapat digembalakan → ternak memberi manfaat kepada manusia.
Jadi satu nikmat Allah melahirkan nikmat-nikmat berikutnya.
Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Hujan adalah awal dari sebuah rantai kehidupan.
Kalau hujan berhenti, dampaknya bukan hanya manusia kekurangan air. Tumbuhan terganggu, pakan ternak berkurang, peternakan terganggu, pangan terganggu, dan akhirnya kehidupan manusia ikut terganggu.
Benang merah ayat 7–10
Saya kira bisa dirumuskan menjadi satu gagasan besar:
Allah tidak hanya memberikan manusia kehidupan, tetapi juga memberikan sarana untuk menjalani kehidupan, petunjuk untuk menentukan arahnya, dan sumber daya untuk mempertahankan kehidupannya.
Maka pertanyaan tadabburnya menjadi sangat dalam:
Kalau Allah sudah memberikan kendaraan untuk perjalanan, menunjukkan jalan yang lurus, dan menyediakan air untuk mempertahankan kehidupan, lalu ke mana sebenarnya kita sedang melakukan perjalanan?
Sebab perjalanan hidup bukan sekadar soal memiliki kendaraan yang bagus, jalan yang mudah, dan kehidupan yang nyaman. Yang paling penting adalah apakah perjalanan itu menuju jalan yang Allah ridhai.
Ini membuat QS. An-Nahl ayat 9 dan 10 terasa sangat menyatu: Allah memberi kita sarana perjalanan, menunjukkan jalan, lalu memberi bekal kehidupan untuk menempuhnya.
Secara ilmiah, manusia tidak bisa “membuat hujan” dalam arti menciptakan hujan dari tidak ada menjadi ada. Istilah yang lebih tepat adalah modifikasi cuaca atau, dalam operasi tertentu, penyemaian awan (cloud seeding).
Perbedaannya penting:
Jadi, kalau tidak ada awan yang sesuai, penyemaian awan bukan berarti manusia bisa menciptakan awan dan kemudian menurunkan hujan sesuka hati.
Ini justru sangat menarik jika dikaitkan dengan QS An-Nahl ayat 10:
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ…
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu…”
Manusia boleh mengembangkan teknologi untuk memanfaatkan dan mengupayakan sebab-sebab turunnya hujan, tetapi tetap ada batas yang tidak bisa dilampaui.
Manusia dapat memodifikasi kondisi; Allah yang menurunkan air.
Bahkan teknologi modifikasi cuaca semakin menunjukkan betapa bergantungnya manusia kepada sistem alam yang tidak mereka ciptakan. Kita bisa menyemai awan, tetapi kita tidak bisa memerintahkan langit untuk hujan.
Ini bisa menjadi tadabbur yang sangat kuat: “Manusia dapat menyemai awan, tetapi tidak dapat menciptakan hujan. Kita dapat mengusahakan sebab, tetapi Allah-lah yang menentukan hasil.”
Dan ini sangat selaras dengan pesan An-Nahl: semakin manusia memahami teknologi, seharusnya semakin menyadari luasnya nikmat dan kekuasaan Allah.
Doa ketika hujan turun termasuk waktu yang diharapkan mustajab. Salah satu doa yang paling utama ketika hujan turun adalah:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allahumma shayyiban naafi‘an.
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
Dan setelah hujan reda, ada doa:
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Muthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatih.
“Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya.”