Al-Qur’an Mengajak Kita Belajar dari Lebah: Ilham Allah, Ikhtiar Manusia, dan Nikmat Kehidupan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ وْحٰى  رَبُّكَ  اِلَى  النَّحْلِ  اَنِ  اتَّخِذِيْ  مِنَ  الْجِبَا لِ  بُيُوْتًا  وَّمِنَ  الشَّجَرِ  وَمِمَّا  يَعْرِشُوْنَ ۙ

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia,” (QS. An-Nahl Ayat 68).

Al-Qur’an Mengajak Kita Belajar dari Lebah: Ilham Allah, Ikhtiar Manusia, dan Nikmat Kehidupan

Al-Qur’an menyebut lebah membuat sarang di tempat-tempat yang ditunjukkan atau disediakan baginya, termasuk tempat yang dibuat manusia, jauh sebelum ilmu peternakan modern berkembang.

An Nahl 68 ini diturunkan sekitar 1.400 tahun yang lalu. Namun, pertanyaan sejarahnya menarik: sejak kapan manusia mulai memelihara lebah untuk memperoleh madu?
Sejak kapan lebah diternakkan manusia?
Berdasarkan penelitian sejarah dan bukti arkeologi, ada tiga tahap penting.

1. Sekitar 8.000–6.000 SM — mengambil madu dari alam
Manusia prasejarah sudah mengambil madu dari sarang lebah liar. Lukisan gua di Spanyol menggambarkan kegiatan yang ditafsirkan sebagai perburuan madu. Ini belum sama dengan beternak lebah. 

2. Sekitar 2.450 SM — peternakan lebah di Mesir Kuno
Relief di kuil matahari Firaun Nyuserre menggambarkan manusia mengelola sarang, mengambil madu, dan menyimpannya dalam wadah. Inilah salah satu bukti visual paling awal yang jelas tentang peternakan lebah terorganisasi. 

3. Berkembang menjadi usaha peternakan
Manusia menyediakan rongga buatan berupa wadah atau tabung sebagai tempat koloni lebah membangun sisiran, membesarkan keturunan, dan menyimpan madu. Praktik ini berkembang di berbagai wilayah dengan bentuk sarang yang berbeda-beda. 
Apa hubungannya dengan QS. An-Nahl ayat 68?

Hal yang menarik adalah bahwa bukti peternakan lebah di Mesir Kuno sudah ada sekitar 2.450 SM, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada abad ke-7 Masehi. Artinya, ayat tersebut hadir lebih dari 3.000 tahun setelah bukti peternakan lebah Mesir yang terkenal itu.

Al-Qur’an tidak sedang menyebutkan kapan manusia mulai beternak lebah. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah mengilhamkan kepada lebah untuk membuat sarang di gunung, pohon, dan tempat yang dibuat manusia. Sejarah membuktikan bahwa manusia memang telah menyediakan tempat buatan bagi lebah sejak zaman kuno.

Kata ya‘risyūn (يَعْرِشُونَ) berkaitan dengan sesuatu yang dibangun atau ditinggikan manusia, sehingga terjemahan “tempat-tempat yang dibuat manusia” mencakup makna yang relevan dengan praktik tersebut.

Jauh sebelum manusia memahami seluruh rahasia kehidupan lebah melalui ilmu pengetahuan, Allah telah mengarahkan perhatian manusia kepada perilaku lebah dan tempat-tempat yang menjadi sarangnya.

Renungan ; bagaimana lebah memiliki naluri membangun sarang, manusia belajar menyediakan tempat untuknya, dan madu kemudian menjadi salah satu nikmat yang bermanfaat bagi kehidupan.

Lebah membangun sarangnya dengan naluri yang Allah ilhamkan, manusia belajar dengan akal dan ilmunya untuk menyediakan tempat bagi lebah, dan dari proses itu lahirlah madu yang bermanfaat bagi kehidupan. Semua ini mengajarkan kita bahwa ilmu dan ikhtiar manusia akan lebih bermakna ketika digunakan untuk memahami, mengelola, dan mensyukuri nikmat Allah. Semakin kita memahami alam, semestinya semakin kita mengenal kebesaran Allah dan semakin besar rasa syukur kita kepada-Nya.

Doa agar menjadi hamba yang pandai bersyukur
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ

“Rabbi awzi‘nī an asykura ni‘matakallatī an‘amta ‘alayya.

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku.”
(Penggalan QS. An-Naml: 19)