8 Syarat yang Harus Dipenuhi dalam Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِتَّبِعْ  مَاۤ  اُوْحِيَ  اِلَيْكَ  مِنْ  رَّبِّكَ  ۚ لَاۤ  اِلٰهَ  اِلَّا  هُوَ  ۚ وَاَ عْرِضْ  عَنِ  الْمُشْرِكِيْنَ

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad); tidak ada tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 106)

Tidak ada tuhan selain Dia

Tidak ada tuhan selain Dia = لَا إِلَهَ إِلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang agung. Kalimat tersebut merupakan kalimat tauhid yang menjadi pondasi utama agama Islam. Selain itu, kalimat tersebut juga merupakan wujud persaksian yang diucapkan bersanding dengan kalimat muhammadur rasulullah. Persaksian tersebut merupakan rukun yang pertama dari rukun Islam. Dengan kalimat tersebut, Allah menciptakan makhluk, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab. Dengan kalimat tersebut pula manusia dapat dibedakan menjadi mukmin atau kafir, menjadi ahli surga atau menjadi ahli neraka.

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Allah mempersaksikan bahwa Dia satu-satunya Zat yang berhak diibadahi, dan menyandingkan persaksian-Nya dengan persaksian para malaikat, para ahli ilmu dalam perkara paling Agung yang dipersaksikan, yaitu keesaan Allah dan tegaknya Allah dalam menegakkan keadilan, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia.

Perlu kita ketahui bahwasannya kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله memiliki dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Kalimat لَا إِلَهَ bermakna menafikan segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Dengan kalimat tersebut, kita meyakini bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil. Kita meniadakan segala bentuk penghambaan dan peribadatan kepada selain Allah, baik penyembahan kepada malaikat, nabi, jin, berhala, dan sebagainya.

Rukun yang kedua terdapat dalam kalimat إِلاَّ الله. Kalimat tersebut adalah suatu bentuk penisbatan bahwasannya hanya kepada Allah Ta’ala saja kita menyembah. Allah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tiada pantas sekutu bagi-Nya. Sebagai hamba yang beriman, kita perlu mengetahui makna kalimat tauhid yang sebenarnya.

Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله bermakna لآ معبود بحق إِلاَّ اللهُ yaitu tidak ada sesembahan yang berhak dan wajib disembah melainkan Allah saja.

Sebagai seorang yang beriman kepada Allah, kita mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengimplementasikannya dalam perbuatan.

Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله harus kita pahami maknanya. Jangan sampai kalimat tersebut hanya ada sebatas di lisan saja, namun hatinya tidak meyakini sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Meskipun mereka mengucapkan kalimat tauhid, mereka tetap akan menjadi penghuni neraka karena hati mereka mengingkarinya. Jangan sampai pula kita mengucapkan kalimat tauhid, akan tetapi masih beribadah kepada selain Allah, meminta kepada jin, menyembah kuburan, dan sebagainya.

Jangan pula kita menjadi orang yang setelah mengucapkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله lantas diam saja dan tidak mau mengerjakan amal saleh. Amal saleh adalah wujud dan bukti benarnya tauhid kita. Kita masih harus mengerjakan salat, puasa, membayar zakat, dan mengerjakan berbagai amal kebajikan yang lainnya.

Kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله tersebut memiliki beberapa syarat. Ulama menjelaskan setidaknya ada delapan syarat yang harus dipenuhi:

1. Ilmu
Ilmu berarti seorang muslim harus memahami makna yang benar yang terkandung di dalam kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله.

2. Yakin
Seorang mukmin harus yakin dan tidak boleh sedikitpun merasa ragu bahwasannya Allah Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib untuk disembah.

3. Ikhlas
Ikhlas berarti seorang hamba memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah saja, bukan kepada nabi, malaikat, jin, atau selain-Nya.

4. Jujur
Hal ini berarti seorang hamba harus menyelaraskan antara lisan dan hatinya. Lisannya mengikrarkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله dan hatinya membenarkan apa yang diucapkan lisannya.

5. Cinta
Seorang hamba yang mengucapkan kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلاَّ الله haruslah mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai agama Islam dan cinta kepada orang-orang yang menegakkan kalimat لَا إِلَهَ إِلاَّ الله.

6. Patuh
Orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid kemudian meyakininya maka ia harus patuh dan tunduk terhadap syariat yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.

7. Menerima
Hal ini maknanya adalah seorang hamba menerima tauhid ini dengan lisan dan hatinya tanpa ada penolakan sedikitpun. Ia rida dan berkomitmen di dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja.

8. Berlepas diri dari syirik
Hal ini berarti seorang yang mengucapkan kalimat tauhid harus mengingkari serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.

Sudah sepantasnya kita menjadikan kalimat tauhid menjadi pegangan kita, menjadi kebiasaan zikir kita karena ia adalah zikir yang paling utama,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu, kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلاَّ الله adalah kalimat yang dapat menghantarkan seorang hamba masuk ke surga. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Semoga kita dan keluarga kita menjadi hamba yang terus istikamah di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjadi hamba-Nya yang senantiasa bertauhid hingga akhir hayat. Amin.