5 Faktor yang Menyebabkan Susahnya Manusia tidak Terpengaruh dengan Al Qur’an

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

مَنْ  يُّضْلِلِ  اللّٰهُ  فَلَا  هَا دِيَ  لَهٗ  ۗ وَ  يَذَرُهُمْ  فِيْ  طُغْيَا نِهِمْ  يَعْمَهُوْنَ

“Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 186)

Al-Quran tidak berpengaruh pada jiwa orang yang disesatkan Allah SWT

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kemudian Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa orang yang disesatkan oleh Allah, tidak ada baginya yang memberi petunjuk. Seorang menjadi sesat karena dia telah kehilangan potensi dalam dirinya (fitrah) untuk menerima petunjuk. Kehilangan potensi itu disebabkan kelengahan dirinya sendiri dalam memeliharanya dari pengaruh dan godaan setan dan hawa nafsu. Karena tidak adanya potensi itu, maka jiwanya tidak menanggapi isi Al-Quran sewaktu datang kepadanya. Bahkan dia mengadakan reaksi yang negatif, yakni menolak, tidak menerima Al-Quran. Meskipun Rasul yang datang membawa Al-Quran itu kepadanya mempunyai akhlak yang mulia, akal yang sempurna, tetapi karena dia telah kehilangan kesediaan itu, maka Al-Quran tetap tidak berpengaruh pada jiwa orang yang disesatkan Allah itu. Jiwanya telah gelap, tidak menerima ajaran Al-Quran. Karena itu tak ada cahaya petunjuk baginya.

Hatinya gelap bertambah gelap akibat perbuatan yang mungkar serta kelaliman yang melampaui batas. Keraguan semakin mencekam hati manusia yang demikian, dan akhirnya sulitlah baginya untuk memperoleh jalan keluar dari kesesatan itu. “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (al-Muthaffifin/83: 14)

Setiap perbuatan yang jahat menambah gelap hati manusia. Hati yang gelap menimbulkan perbuatan-perbuatan yang jahat kembali. Demikianlah akhirnya manusia yang sesat itu berputar-putar dalam lingkaran kesesatan. Mereka bergelimang dalam lumpur dosa dan kesesatan. Dia dapat lepas dan tertolong dari lingkaran kesesatan ini bilamana dia memiliki kemauan yang keras untuk kembali ke jalan Allah dan Nur Ilahi.

صُمٌّۢ  بُكْمٌ  عُمْيٌ  فَهُمْ  لَا  يَرْجِعُوْنَ

“Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”(QS. Al-Baqarah 2: 18)

وَا لَّذِيْنَ  كَذَّبُوْا  بِاٰ يٰتِنَا  صُمٌّ  وَّبُكْمٌ  فِى  الظُّلُمٰتِ  ۗ مَنْ  يَّشَاِ  اللّٰهُ  يُضْلِلْهُ  ۗ وَمَنْ  يَّشَأْ  يَجْعَلْهُ  عَلٰى  صِرَا طٍ  مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”(QS. Al-An’am 6: 39)

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang tidak terpengaruh oleh Al-Qur’an atau tidak menerima petunjuknya:

  1. Hati yang Tertutup. Hati yang tertutup atau keras bisa membuat seseorang sulit menerima hidayah atau petunjuk dari Allah. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ada orang yang hatinya tertutup dari kebenaran karena keangkuhan atau kesombongan mereka.
  2. Niat dan Keberpihakan. Seseorang yang sudah memiliki niat untuk menolak kebenaran atau berpihak pada kesesatan mungkin tidak akan terpengaruh oleh ajaran Al-Qur’an.
  3. Dosa dan Kebiasaan Buruk. Dosa-dosa berat dan kebiasaan buruk dapat menutupi hati seseorang dari menerima kebenaran. Al-Qur’an mengajarkan bahwa dosa dan maksiat dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk merasakan keindahan iman.
  4. Ketentuan Allah. Allah adalah yang membimbing hamba-Nya. Ada keyakinan bahwa jika Allah telah menetapkan seseorang untuk sesat, maka mereka akan tetap sesat sampai Allah menghendaki sebaliknya.
  5. Pengaruh Lingkungan. Lingkungan dan pendidikan seseorang juga berperan dalam sikap mereka terhadap Al-Qur’an. Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang menolak ajaran Islam, hal ini bisa mempengaruhi penerimaan mereka terhadap wahyu.

Faktor-faktor ini mencerminkan pemahaman dalam konteks spiritual dan religius mengenai bagaimana seseorang berinteraksi dengan ajaran suci Al-Qur’an.

“Ya Allah, cahaya hati kami dengan Nur Al-Qur’an. Bukakanlah hati kami untuk memahami dan menerima petunjuk-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penerang dalam setiap langkah kami dan pembimbing dalam hidup kami. Berikanlah kami kekuatan untuk mengikuti ajaran-Mu dengan tulus dan istiqamah. Lindungilah kami dari kesesatan dan jauhkanlah kami dari segala sesuatu yang menghalangi kami dari hidayah-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aamiin.”