Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَـرٰ ى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِاٰ يٰتِهٖ ۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُوْنَ
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan beruntung.” (QS. Yunus 10: Ayat 17)
Zalim, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan perbuatan orang yang paling zalim di sisi Allah ialah:
Mendustakan ayat-ayat Allah berarti menolak, mengingkari, atau tidak mempercayai kebenaran wahyu yang telah diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an serta menolak petunjuk dan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Mengakui bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah tetapi menolak atau mengabaikan ayat-ayatnya karena bertentangan dengan kebiasaannya, kepentingannya, atau hawa nafsunya, maka hal itu bisa termasuk dalam kategori mendustakan ayat-ayat Allah. Sebab, mendustakan bukan hanya berarti menolak secara lisan, tetapi juga bisa dalam bentuk tidak mau menerima dan mengamalkan petunjuk-Nya meskipun telah mengetahuinya.
Contoh contoh kongkrit yang mendustakan ayat ayat Allah;
Dalam semua contoh ini, seseorang tidak secara lisan menyangkal ayat-ayat Allah tetapi menolak untuk menerapkannya karena alasan kebiasaan, kepentingan, atau hawa nafsu. Ini bisa masuk dalam kategori mendustakan ayat-ayat Allah secara perbuatan.
Samina wa atho’na, kami dengar dan kami laksanakan.
Semoga kita termasuk orang yang mudah menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi apa yang dilarang Nya.