5 Contoh Kongkrit yang Mendustakan Ayat-ayat Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنِ  افْتَـرٰ ى  عَلَى  اللّٰهِ  كَذِبًا  اَوْ  كَذَّبَ  بِاٰ يٰتِهٖ  ۗ اِنَّهٗ  لَا  يُفْلِحُ  الْمُجْرِمُوْنَ

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan beruntung.” (QS. Yunus 10: Ayat 17)

Zalim, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan perbuatan orang yang paling zalim di sisi Allah ialah:

  1. Orang yang berbuat dusta terhadap Allah, seperti yang telah dilakukan orang-orang musyrik karena keingkaran mereka, yaitu meminta Rasulullah menukar ayat-ayat Al-Qur’an dengan perkataan yang lain yang tidak bertentangan dengan kepercayaan mereka.
  2. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Ayat ini memberi peringatan bahwa orang yang melakukan salah satu dari perbuatan yang paling zalim itu adalah orang yang pantas mendapat kemurkaan Allah dan siksa-Nya. Mereka telah berbuat dosa, mereka tidak akan memperoleh keberuntungan dengan perbuatan-perbuatan itu. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang beriman menjaga dirinya agar jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

Mendustakan ayat-ayat Allah berarti menolak, mengingkari, atau tidak mempercayai kebenaran wahyu yang telah diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an serta menolak petunjuk dan ajaran yang terkandung di dalamnya.

Mengakui bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah tetapi menolak atau mengabaikan ayat-ayatnya karena bertentangan dengan kebiasaannya, kepentingannya, atau hawa nafsunya, maka hal itu bisa termasuk dalam kategori mendustakan ayat-ayat Allah. Sebab, mendustakan bukan hanya berarti menolak secara lisan, tetapi juga bisa dalam bentuk tidak mau menerima dan mengamalkan petunjuk-Nya meskipun telah mengetahuinya.

Contoh contoh kongkrit yang mendustakan ayat ayat Allah;

  1. Riba dalam Ekonomi.
    Seorang Muslim mengakui bahwa Al-Qur’an mengharamkan riba (QS. Al-Baqarah: 275-279), tetapi tetap terlibat dalam sistem riba dengan alasan bahwa praktik tersebut sudah menjadi kebiasaan umum dalam dunia bisnis dan sulit dihindari.
  2. Hukum Warisan.
    Seseorang menerima Al-Qur’an sebagai wahyu Allah tetapi menolak aturan pembagian warisan dalam Islam (QS. An-Nisa: 11-12) karena merasa pembagian tersebut tidak sesuai dengan adat atau kepentingan pribadi.
  3. Menutup Aurat.
    Seorang Muslimah percaya bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran tetapi menolak memakai hijab (QS. An-Nur: 31, QS. Al-Ahzab: 59) karena alasan mode, tren, atau tekanan sosial.
  4. Kejujuran dan Amanah
    Seorang pengusaha Muslim mengakui bahwa kejujuran adalah perintah Allah (QS. Al-Baqarah: 42, QS. Al-Mutaffifin: 1-3), tetapi tetap melakukan penipuan dalam transaksi bisnisnya demi keuntungan lebih besar.
  5. Hukum Hudud (Pidanah Islam).
    Ada yang mengakui bahwa hukum Islam tentang pencurian atau zina (QS. Al-Maidah: 38, QS. An-Nur: 2) adalah dari Allah, tetapi menolaknya dengan alasan tidak sesuai dengan nilai-nilai modern atau HAM.

Dalam semua contoh ini, seseorang tidak secara lisan menyangkal ayat-ayat Allah tetapi menolak untuk menerapkannya karena alasan kebiasaan, kepentingan, atau hawa nafsu. Ini bisa masuk dalam kategori mendustakan ayat-ayat Allah secara perbuatan.

Samina wa atho’na, kami dengar dan kami laksanakan.

Semoga kita termasuk orang yang mudah menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi apa yang dilarang Nya.