peringatan maulid nabi Muhammad SAW 1444H

Pentingkah Pengabdian bagi Santri?

Beberapa pondok pesantren salaf menjadikan pengabdian sebagai program bagi santri setelah lulus dari pondok pesantren. Pengabdian sendiri biasanya dilaksanakan selama 1 sampai 2 tahun ada beberapa pesantren juga yang menjadikan pengabdian sebagai sarana bagi santri untuk memaksimalkan ilmunya di pondok pesantren sebelum mereka dilepas ke masyarakat luas. Pengabdian sendiri bisa disebut sebagai pematangan dan ujian bagi santri karena dalam selang waktu 1 sampai 2 tahun ini santri yang sudah lulus diharuskan untuk bisa melayani kyai dan santri lainnya sebagai “ujian” bagi mereka, karena setiap pengabdian ini tentu saja memiliki penilaian penilaian tertentu dari kyai sebelum santri yang mengikutinya di lepas dan dinyatakan lulus.

Bagi beberapa orang tua pengabdian menjadi sebuah hal yang biasa, terutama orang tua lulusan pesantren yang pernah mengalami hal seperti ini akan menganggap bahwa pengabdian di pondok pesantren merupakan hal yang lumrah, namun dibalik semua itu ada beberapa orang tua yang menganggap bahwa pengabdian merupakan hal yang membuang waktu anak, disaat anak lain seumuran mereka sudah melanjutkan untuk kuliah atau lanjut ke perguruan tinggi negeri atau merintis sebuah usaha atau bahkan melanjutkan usaha orang tuanya, anak anak yang nyantri sedang melaksanakan pengabdian. Lantas apakah pengabdian itu penting?

Jika kita melihat dalam kacamata berbeda sebenarnya pengabdian itu merupakan hal yang penting, terutama bagi mereka yang ingin “nyantri” di pondok pesantren. Karena ketika seorang anak ingin nyantri artinya orang tua sudah paham dan harus paham bahwa dalam dunia pendidikan pesantren normal harus ada waktu yang digunakan santri untuk mengikuti pengabdian. ADapun tujuan dari pengabdian itu sendiri adalah untuk mematangkan santri terutama dalam metode mengajar agama dan skill lainnya sesuai dengan minat dan bakat mereka sebelum mereka dilepaskan ke masyarakat.

Namun di kacamata orang tua jaman sekarang tentu saja beberapa orang tua akan keberatan dengan yang namanya pengabdian. Karena di masa modern saat ini pengabdian seperti dianggap sebuah beban, yang dapat menghambat karir santri meskipun kenyataannya pengabdian dilaksanakan sebagai bahan pengembangan santri sebelum mereka menjadi seorang ustadz.

Di Al Masoem kami tidak ada yang namanya pengabdian. Kami mengadakan pendidikan formal dan pesantren dengan waktu hanya 3 tahun saja tidak kurang dan tidak lebih. Alasannya karena kami pesantren modern dimana kami menggunakan kurikulum merdeka belajar untuk sekolah formal dan kurikulum dari kemenag untuk pesantrennya dimana kedua kurikulum ini di mix atau disempurnakan dengan kurikulum Al Masoem yang lebih mengedepankan pendidikan karakter siswa dan santrinya.

Lantas kenapa Al Masoem tidak melaksanakan pengabdian? Karena bagi kami sekolah fullday dan pesantren di malam hari sudah dirasa cukup untuk membuat santri kami memiliki softskill yang berguna bagi masa depan mereka. Selain itu juga setiap potensi siswa kami poles dengan kegiatan yang menunjang dan fasilitas yang mempunyai apapun minat dan bakat siswa kami, kami usahakan untuk bentuk dan kembangkan menjadi prestasi. Ini yang membuat kami merasa bahwa pengabdian di Al Masoem itu sudah tidak perlu, nyatanya lulusan SMP dan SMA Al Ma’soem baik yang Fullday dan yang Boarding School setelah lulus bisa berhasil seperti apa yang mereka inginkan.

Contoh paling mudah lulusan SMP Al Masoem banyak yang melanjutkan ke SMA Al Ma’soem karena memang beberapa orang tua mendapatkan experience yang luar biasa selama putra putrinya di SMP Al Masoem. Seperti softskill yang memang diasah setiap waktu, beasiswa yang banyak dari Gratis SPP dari 1 hingga 6 bulan, Peraturan sekolah yang tidak memberikan sanksi secara fisik yang membuat santri merasa aman dan nyaman di sekolah, Tidak ada jam kosong, jauh dari pembullyan, dan yang paling penting adalah siswa dan santri bebas menggunakan fasilitas sekolah secara percuma. Jadi mereka dapat memaksimalkan potensi mereka (di luar jam olahraga dan ekstrakurikuler) dari waktu ke waktu tanpa harus ada tambahan “tahun” untuk pengabdian kepada lembaga pendidikan seperti pesantren.

Di balik itu juga Al Masoem berkembang karena sekolah full day, bukan karena pondok pesantren sehingga konsep kepesantrenan seperti itu tidak berlaku di Al Masoem, karena kami menganggap bahwa konsep seperti itu bisa diganti dengan konsep lainnya di waktu atau di tahun tahun sekolah. Ditambah lagi, konsep pengabdian itu membuka peluang besar untuk terjadinya intimidasi dari senior yang melakukan pengabdian kepada junior junior di pondok pesantren, sehingga kami menganggap bahwa ada pengabdian bisa diminimalisir dengan konsep pendidikan selama 3 tahun yang maksimal. Ujian sekolah yang akan menjadi penentu bahwa siswa layak lulus atau tidak, bukan hanya pengabdian kepada pesantren. Meskipun tujuan dari pengabdian itu bagus terutama untuk santri yang akan lulus tapi kami menganggap bahwa sekolah 3 tahun seperti sekolah formal merupakan hal yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan tambahan waktu 1 sampai 2 tahun untuk pengabdian kepada pondok pesantren. lagi pula jika 3 tahun saja soft skill siswa sudah bisa didapatkan untuk apa harus ada pengabdian lagi?