Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

menghormati bukan berarti menuruti semua perintah orang tua
Ada beberapa jenis orang tua didunia ini, ada orang tua bijaksana yang mampu memberi anda kehangatan, selalu memberi semangat bagi anda untuk menggapai apa yang anda mau, ada juga orang tua yang mendukung setiap pilihan anaknya, apapun tergantung anaknya, karena mereka tahu betul anak adalah titipan dari Allah SWT yang memang sudah seharusnya kita jaga dan kita bahagiakan. Namun ada beberapa orang tua yang malah bersifat TOXIC dan mengintimidasi anak. Saya secara pribadi pernah bertemu dengan orang tua jenis ini dan memang saya terlahir dari orang tua yang “kurang” mendukung saya dengan apa yang saya impikan dan lebih mengintimidasi saya dengan apa yang saya lakukan. Apakah itu bagus? Jelas tidak, itu yang membuat saya melakukan hal hal ini agar terhindar dari toxicnya orang tua saya. Namun sebelum kita masuk ke cara mengatasi orang tua yang toxic, berikut adalah ciri ciri orang tua yang toxic. Disclaimer : saya mohon maaf jika pikiran ini tidak sama dengan pendapat anda sebagai orang tua
Beberapa orang tua memiliki sifat perfeksionis, menuntut anak dan mendominasi anak agar mampu menjadi yang orang tua inginkan. Sebagai contoh, kalau saya jadi pengacara anak saya harus jadi seperti saya. Atau kalau saya seorang pemain sepak bola profesional maka anak saya harus bisa berkiprah seperti saya. Memang ada beberapa anak yang akhirnya mengikuti jejak orang tuanya karena kemauannya sendiri, namun ada beberapa anak yang memang tidak berbakat dibidang yang orang tuanya geluti. Hal seperti ini yang kadang membuat miris, menurut anak dan mengontrol anak agar mampu menjadi yang orang tua inginkan, padahal pada dasarnya anak kita adalah anak kita, bukan kita. Mereka memiliki jalan hidup mereka sendiri, yang seharusnya orang tua lakukan adalah memonitoring anak agar berada di jalan yang benar, bukan mengontrol apa lagi mendominasi. Justru dengan mengontrol dan mendominasi anak akan takut untuk menjadi dirinya sendiri, yang berakibat fatal kepada masa depan anaknya. Rata Rata anak yang memang memiliki orang tua jenis ini akan terpenjara dalam kegagalan dan penyesalan dimasa depan.
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Begitu juga proteksi yang terlalu over dari orang tua kepada anaknya. Seperti mengobservasi setiap gerakan anak, memang alasannya bagus takut anak saya terjebak dalam pergaulan bebas atau apapun itu. Namun terkadang orang tua jenis ini tidak pernah memperhatikan batasan pribadi dan privasi anak. Padahal setiap orang membutuhkan ruang, meskipun hanya kamar untuk tidur, atau smartphone untuk hal yang berbau privasi seperti catatan untuk curhat atau lain sebagainya.
Pada dasarnya membatasi anak itu baik, tapi perlu diketahui juga oleh orang tua jangan terlalu berlebihan dalam memberikan batasan, anda juga kan tidak suka jika dikekang? Begitu juga anak. Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk merdeka.
Hypersensitive atau gejala orang tua yang lebih mudah marah, emosi, menangis. Oke setiap orang memiliki tingkat emosi yang berbeda beda namun jika mudah marah, mudah emosi dan mudah banget untuk menangis ini terlalu keterlaluan juga karena akan berakibat anak akan takut berbuat salah baik itu pada kesalahan yang sepele ataupun kesalahan yang berat.
Ini merupakan hal yang paling parah dan saya berharap tidak ada orang tua macam ini di negara kita. Dismissive parent merupakan orang tua yang menganggap bahwa anak adalah beban. Padahal orang tua tidak pernah berpikir, bahwa melahirkan anak adalah pilihan, anak itu tidak punya pilihan untuk dilahirkan atau tidak tapi semua adalah pilihan dari orang tua untuk melahirkan anaknya. Lantas mengapa harus menjadi orang tua yang menganggap bahwa anak anaknya adalah beban bagi mereka? Seharusnya orang tua sudah paham konsekuensi dan apa yang akan dihadapi jika memiliki anak jadi jangan pernah menganggap anak adalah beban.
Orang tua jenis ini adalah orang tua yang merasa takut apabila anak mereka tumbuh mandiri dan independent. Memang ada orang tua jenis ini? Pasti ada tapi bukan di negara kita, biasanya dari orang tua yang memang memiliki kesehatan mental yang kurang.
Lantas bagaimana cara menanggulangi orang tua yang toxic? Berikut adalah tipsnya :
Buatlah batasan sendiri kepada orang tua anda yang melakukan tindakan yang tidak wajar.
Jaga jarak terhadap orang tua yang memang toxic jika batasan tidak membuat orang tua anda paham dengan perlakuan kepada anda salah. Jarak ini bisa anda memang menjaga jarak secara fisik maupun jarak untuk berkomunikasi. Biasanya orang tua akan menyadari jika anda mulai menjaga jarak, karena mau bagaimana juga feeling orang tua tidak pernah salah.
Hentikan segala bentuk argumen yang anda kumandangkan. Tidak akan pernah ada hasilnya malah membuat anda capek secara batin dan malah membuat mental anda down. Apalagi jika argumen anda muncul drama drama yang tidak diperlukan, lebih baik berhenti saja tidak akan ada ujungnya.
Hal terakhir, stop atau berhenti mencari pembenaran. Orang tua adalah orang tua, orang yang merasa mereka paling benar karena mereka lebih lama hidup daripada anda. Jadi lebih baik diam dan anggap anda memang benar secara batin
Anak melakukan hal pemberontakan, bukan karena tidak dapat lagi menghormati orang tua, karena pada dasarnya menghormati bukan berarti menuruti semua perintah orang tua. Anak adalah anak, mereka makhluk yang memiliki pemikiran sendiri. Mungkin ada istilah buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, tapi secara fisik mungkin bisa jadi tapi secara minat dan bakat terkadang berbeda jauh. Jadi stop mengintimidasi anak apalagi mengontrol anak agar mampu menjadi yang orang tua mau. Jika anda takut anak jatuh,cara bijaksana adalah biarkan mereka jatuh, ketika mereka terjatuh anda angkat kembali dia agar kembali bersemangat menjalani hidup. Anak juga butuh menyehatkan mental mereka, maka dari itu hargai kesehatan mental anda cari segala sesuatu yang bisa membuat anda bahagia.
Pena : Mohamad Ramdan