Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Mulai tahun ajaran baru 2025/2026, siswa di Jawa Barat (Jabar) akan mengalami perubahan signifikan dalam proses pembelajaran mereka: belajar tanpa pekerjaan rumah (PR). Kebijakan ini, yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, bertujuan untuk mengurangi beban psikologis siswa, meningkatkan kesejahteraan emosional, dan mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna. Dengan menghapus PR, fokus pendidikan dialihkan dari tugas rutin ke penguatan pemahaman di kelas, pengembangan keterampilan praktis, dan pembinaan karakter.
Kebijakan belajar tanpa PR di Jabar didorong oleh evaluasi terhadap dampak PR terhadap kesejahteraan siswa. Penelitian global, seperti yang dilakukan oleh Harris Cooper (2006), menunjukkan bahwa PR dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan stres, kelelahan, dan penurunan motivasi belajar, terutama pada siswa usia dini. Di Indonesia, survei oleh Lembaga Penelitian Pendidikan Indonesia (2023) mengungkapkan bahwa 72% siswa SMP dan SMA merasa terbebani oleh PR, yang sering kali menghabiskan waktu hingga 3-4 jam per hari. Hal ini mengurangi waktu untuk aktivitas lain, seperti olahraga, interaksi keluarga, atau pengembangan bakat.
Dinas Pendidikan Jabar, bekerja sama dengan pakar pendidikan dan psikolog, memutuskan untuk menghapus PR sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang berfokus pada kesejahteraan siswa. Kebijakan ini sejalan dengan visi Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis proyek, keterampilan abad 21, dan pendekatan yang lebih fleksibel. Dengan menghilangkan PR, sekolah diharapkan dapat memaksimalkan waktu di kelas untuk pembelajaran yang mendalam, sementara siswa memiliki lebih banyak waktu untuk eksplorasi diri dan kegiatan ekstrakurikuler.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Dedi Supandi, “Kebijakan tanpa PR bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kami ingin siswa belajar karena rasa ingin tahu, bukan karena tekanan tugas.” Langkah ini juga didukung oleh rekomendasi UNESCO (2024) yang mendorong pengurangan beban tugas rumah untuk mendukung keseimbangan hidup siswa.
Kebijakan ini menawarkan sejumlah manfaat bagi siswa, guru, dan sistem pendidikan secara keseluruhan:
Meskipun menjanjikan, kebijakan tanpa PR menghadapi sejumlah tantangan yang memerlukan strategi terpadu:
Kebijakan belajar tanpa PR memiliki potensi untuk mentransformasi pendidikan di Jabar menjadi lebih holistik dan berpusat pada siswa. Dengan mengurangi beban akademik, siswa dapat mengembangkan keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas, yang semakin relevan di era global. Kebijakan ini juga mendukung pemerataan pendidikan, karena siswa dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tanpa tergantung pada sumber daya tambahan di rumah.
Namun, keberhasilan kebijakan ini bergantung pada komitmen semua pemangku kepentingan. Guru harus meningkatkan kompetensi pedagogis, sekolah perlu berinvestasi dalam fasilitas pendukung, dan orang tua harus mendukung perubahan paradigma belajar. Jika diimplementasikan dengan baik, Jabar dapat menjadi model nasional untuk pendidikan yang menyenangkan dan efektif.
Pesantren Siswa Al Ma’soem, yang berlokasi di Jalan Raya Cipacing No. 22, Jatinangor, Sumedang, telah menerapkan konsep sekolah tanpa PR sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum kebijakan resmi diberlakukan di Jabar. Pendekatan ini merupakan bagian dari visi pendidikan holistik Al Ma’soem, yang bertujuan mencetak siswa yang Cageur, Bageur, Pinter (sehat, berakhlak mulia, cerdas) tanpa mengorbankan kesejahteraan mereka.
Banyak sekali alasan strategis kenapa Al Ma’soem menghapus PR bahkan sudah dari sekian lama, alasannya seperti :
Kebijakan belajar tanpa PR di Jabar mulai tahun ajaran 2025/2026 adalah langkah progresif menuju pendidikan yang lebih holistik, berfokus pada kesejahteraan siswa dan pengembangan keterampilan yang relevan. Meskipun menghadapi tantangan, seperti kesiapan guru dan infrastruktur sekolah, kebijakan ini memiliki potensi untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan inklusif. Dengan pendekatan yang tepat, Jabar dapat menjadi pelopor pendidikan modern di Indonesia.
Pesantren Siswa Al Ma’soem telah menunjukkan keberhasilan dalam menerapkan konsep sekolah tanpa PR, dengan alasan yang berpijak pada kesejahteraan siswa, inklusivitas, dan efisiensi pembelajaran. Melalui pembelajaran aktif, asesmen formatif, dan pembinaan karakter di asrama, Al Ma’soem memastikan siswa menguasai materi tanpa tekanan PR, sekaligus berkembang menjadi individu yang sehat, berakhlak mulia, dan cerdas. Pengalaman ini, yang didukung oleh fasilitas modern dan lingkungan belajar yang aman, menjadikan Al Ma’soem sebagai teladan dalam pendidikan tanpa PR.