Salah satu pemandangan umum di sekolah ketika memasuki bulan ramadhan adalah hadirnya pesantren kilat. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa muslim dengan menjalani serangkaian kegiatan yang khas keagamaan seperti sholat berjamaah maupun tadarus bersama. Lalu apa sebenarnya pesantren kilat itu?

Pengertian Pesantren Kilat
Pesantren kilat menurut Gramedia adalah sebuah istilah yang berasal dari dua kata, yaitu pesantren dan kilat. Bila diartikan melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata pesantren artinya asrama tempat para santri atau tempat murid-murid untuk belajar yang berhubungan dengan agama. Sedangkan kata kilat artinya sebagai sesuatu yang dikerjakan dalam waktu yang singkat.
Bila disimpulkan, pesantren kilat adalah sebuah kegiatan keagamaan yang dilakukan dalam jangka waktu yang singkat atau terbatas. Jadi para siswa muslim akan merasakan pengalaman bersekolah layaknya seorang santri atau santriwati di pesantren, hanya saja dilakukan di sekolah dan dalam jangka waktu yang tidak lama. Umumnya pihak sekolah mengadakan pesantren kilat pada waktu bulan Ramadhan, sehingga para siswa dapat memperdalam ilmu Agama serta membiasakan diri pada aktivitas yang positif.
Tujuan Pesantren Kilat
Kegiatan pesantren kilat di sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya memiliki tujuan yang bisa diamati. Bila melihat dari penjelasan sebelumnya, salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah memperdalam ilmu agama. Jadi para siswa diharapkan mendapatkan pengalaman belajar yang khusus dalam bidang keagamaan dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti apa ilmu dalam bidang keagamaan? Contohnya seperti materi tauhid, wudhu, sholat, bacaan Al Qur’an, dan lain sebagainya. Ini bisa dilakukan tanpa ataupun dengan praktik, menyesuaikan topik materi yang diajarkan.
Setelah belajar materi dari pesantren kilat, harapannya para siswa bisa mengaplikasikan yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan pesantren kilat mampu menumbuhkan mental spiritual dan religius, membuat diri siswa lebih siap menghadapi berbagai tantangan negatif yang hadir dari diri sendiri mauapun dari luar.
Keuntungan Mengikuti Pesantren Kilat di Sekolah
Mengikuti kegiatan pesantren kilat di sekolah memiliki banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh siswa. Beberapa keuntungan yang bisa didapatkan adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan Pemahaman Agama
Kegiatan pesantren kilat dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam agama Islam. Para peserta akan mendapatkan pembelajaran langsung dari guru dan ustadz atau ustazah yang ahli dalam bidang keagamaan. Mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang ilmu tauhid, Al Qur’an, hadis, fiqih dan lain sebagainya. - Meningkatkan Ketakwaan
Dengan menjalani pesantren kilat, siswa dapat meningkatkan ketakwaan. Hal ini dapat terjadi berkat pembiasaan diri yang dibangun selama kegiatan berlangsung, misalnya seperti sholat berjamaah, membaca al Qur’an, dan berdzikir. - Meningkatkan Kebersamaan dan Toleransi
Kegiatan pesantren kilat juga mampu meningkatkan kebersamaan dan toleransi antar siswa. Selama menjalani kegiatan ini, mereka akan melakukan kegiatan bersama-sama dan bahkan, tinggal bersama. Hal ini mampu membantu siswa untuk bisa bersosialisasi dan lebih memahami dan menghargai perbedaan satu sama lain antar mereka. - Meningkatkan Kepercayaan Diri
Dengan mengikuti pesantren kilat di sekolah, siswa bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dengan lebih baik. Ini dapat diamati korelasinya yakni dengan semakin banyak pemahaman ilmu tentang agama, maka akan semakin meningkat perasaan yakin dan percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini khususnya bisa dirasakan oleh siswa yang mengajarkan ataupun memberikan contoh kepada orang lain dengan niat yang baik.
Itulah pengertian pesantren kilat di sekolah yang bisa kalian ketahui. Pesantren kilat telah menjadi agenda rutin di Yayasan Al Ma’soem selama memasuki bulan Ramadhan yang bernama Ramadhan In Campus (RIC). Di tahun ini (2023/1444 H), tema yang diambil adalah “Membentuk Pribadi yang Berperilaku Ta’alim (Pembelajar), Tad’rib (Pembiasaan) dan Ta’dzim (Santun)”.
Penulis: Gumilar Ganda
