Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Selama menjalani kegiatan sekolah, siswa SMP tentu dapat menemukan berbagai situasi yang membuat mereka merasa kurang nyaman. Ada kalanya tugas terasa terlalu banyak, jadwal kegiatan berubah, fasilitas yang digunakan mengalami kendala, terjadi kesalahpahaman dengan teman, atau siswa merasa kesulitan mengikuti pembelajaran tertentu. Perasaan tidak nyaman tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi siswa perlu belajar bagaimana menyampaikannya dengan cara yang tepat agar keluhan tidak justru menimbulkan masalah baru.
Menyampaikan keluhan bukan berarti siswa selalu membantah aturan atau tidak menghargai guru. Sebaliknya, kemampuan menyampaikan keluhan secara baik dapat menjadi bagian dari pembelajaran komunikasi. Siswa belajar menjelaskan apa yang terjadi, menyampaikan alasan, memilih orang yang tepat untuk diajak berbicara, serta menerima kemungkinan bahwa tidak semua keinginan dapat langsung dipenuhi. Keterampilan sederhana ini dapat membantu siswa menjadi lebih terbuka sekaligus bertanggung jawab terhadap apa yang mereka rasakan.
Siswa perlu memahami bahwa ada perbedaan antara mengeluh dan menyampaikan keluhan. Mengeluh biasanya hanya berisi rasa tidak suka atau ketidakpuasan tanpa menjelaskan persoalan secara jelas. Sementara itu, keluhan yang disampaikan dengan baik memiliki informasi mengenai masalah yang sedang dihadapi dan, jika memungkinkan, menjelaskan hal yang diharapkan.
Contohnya, ketika merasa kesulitan dengan tugas, siswa dapat mengatakan bahwa bagian tertentu belum dipahami dan meminta penjelasan tambahan. Kalimat tersebut lebih mudah ditanggapi dibandingkan hanya mengatakan bahwa tugas yang diberikan terlalu sulit. Dengan menjelaskan masalah secara spesifik, guru atau pihak sekolah dapat memahami kebutuhan siswa dengan lebih baik.
Kebiasaan tersebut juga mengajarkan siswa untuk tidak langsung melampiaskan rasa kesal. Mereka belajar mengubah perasaan menjadi komunikasi yang lebih terarah.
Sebagian siswa mungkin memilih diam ketika mengalami masalah karena takut dianggap merepotkan. Ada juga yang merasa khawatir akan dimarahi ketika menyampaikan sesuatu yang kurang menyenangkan. Padahal, masalah yang tidak disampaikan belum tentu dapat diperbaiki.
Sekolah merupakan lingkungan belajar. Jika siswa mengalami kesulitan, menyampaikan kondisi tersebut kepada orang yang tepat dapat menjadi langkah untuk mencari solusi. Guru tidak selalu mengetahui semua hal yang dialami siswa jika tidak ada komunikasi.
Keberanian berbicara juga tidak harus dilakukan dengan nada keras. Siswa dapat menyampaikan pendapat dengan suara yang tenang dan bahasa yang sopan. Dengan begitu, keberanian dan sikap hormat dapat berjalan bersama.
Tidak semua masalah perlu disampaikan kepada orang yang sama. Siswa perlu belajar menentukan pihak yang paling sesuai dengan jenis persoalan yang dihadapi.
Beberapa pertimbangan yang dapat digunakan antara lain:
Kemampuan memilih tempat dan orang yang tepat membuat komunikasi menjadi lebih efektif. Keluhan tidak perlu disampaikan kepada banyak orang jika persoalannya sebenarnya dapat diselesaikan melalui satu percakapan.
Ketika menyampaikan keluhan, siswa sebaiknya membedakan antara fakta dan penilaian pribadi. Informasi yang jelas akan membantu orang lain memahami situasi tanpa harus menebak-nebak.
Misalnya, daripada mengatakan “Guru selalu memberikan tugas terlalu banyak,” siswa dapat menjelaskan bahwa dalam satu hari terdapat beberapa tugas dengan batas pengumpulan yang berdekatan sehingga dirinya kesulitan mengatur waktu.
Penyampaian seperti ini membuat masalah lebih mudah dibicarakan. Guru juga memiliki kesempatan untuk menjelaskan alasan pemberian tugas atau mempertimbangkan solusi yang memungkinkan.
Waktu juga menjadi bagian penting dalam komunikasi. Menyampaikan keluhan ketika guru sedang terburu-buru, kelas sedang berlangsung, atau banyak siswa sedang sibuk dapat membuat pembicaraan tidak berjalan maksimal.
Siswa dapat menunggu waktu yang lebih sesuai atau meminta izin untuk berbicara setelah kegiatan selesai. Jika masalah membutuhkan pembahasan lebih panjang, siswa dapat meminta waktu khusus agar percakapan tidak dilakukan secara terburu-buru.
Kebiasaan memilih waktu menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi orang lain.
Isi keluhan yang sebenarnya masuk akal dapat sulit diterima jika disampaikan dengan bahasa yang menyerang. Oleh karena itu, siswa perlu memperhatikan pilihan kata.
Kalimat seperti “Saya masih kesulitan memahami bagian ini, apakah boleh dijelaskan kembali?” akan terdengar berbeda dengan “Saya nggak ngerti karena penjelasannya susah.”
Keduanya mungkin berasal dari kondisi yang sama, tetapi cara penyampaiannya memberikan kesan yang berbeda. Bahasa yang sopan tidak berarti siswa harus menyembunyikan masalah. Siswa tetap dapat menyampaikan ketidaknyamanan dengan jelas tanpa merendahkan orang lain.
Rasa marah dapat membuat seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin disampaikan. Karena itu, siswa perlu belajar memberi jeda sebelum berbicara ketika emosinya sedang tinggi.
Jika persoalan belum mendesak, siswa dapat menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah lebih tenang, mereka dapat menentukan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan.
Langkah tersebut membantu siswa menghindari komunikasi yang bersifat spontan. Mereka juga dapat memikirkan apakah masalah tersebut memang perlu disampaikan dan bagaimana cara paling tepat untuk membicarakannya.
Keluhan yang terlalu umum akan sulit dicari solusinya. Karena itu, siswa dapat belajar menjelaskan tiga hal sederhana: apa yang terjadi, apa dampaknya, dan apa yang dibutuhkan.
Misalnya, ketika siswa kesulitan mengikuti kegiatan karena jadwal yang berdekatan, mereka dapat menjelaskan kegiatan apa saja yang harus diikuti, bagian mana yang membuat kesulitan, serta apakah membutuhkan penyesuaian atau arahan.
Tidak semua masalah harus langsung memiliki solusi dari siswa. Namun, kemampuan menjelaskan kondisi dengan lengkap dapat membantu pihak sekolah menentukan langkah yang sesuai.
Di sekolah, siswa mungkin menemukan aturan atau keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dalam kondisi tersebut, siswa tetap dapat menyampaikan ketidaksetujuan selama dilakukan dengan cara yang tepat.
Ketidaksetujuan dapat disampaikan dengan alasan yang jelas. Siswa dapat bertanya mengapa suatu aturan dibuat atau menyampaikan sudut pandang yang berbeda.
Hal tersebut berbeda dengan menolak aturan secara sembarangan. Melalui komunikasi yang baik, siswa belajar bahwa memiliki pendapat berbeda bukan alasan untuk mengabaikan tata tertib.
Salah satu hal penting yang perlu dipahami siswa adalah bahwa menyampaikan keluhan tidak berarti tuntutan mereka pasti dipenuhi. Pihak sekolah mungkin memiliki pertimbangan lain yang belum diketahui siswa.
Setelah menyampaikan masalah, siswa perlu belajar mendengarkan penjelasan dan mempertimbangkan alasan dari pihak lain. Bisa saja solusi yang diberikan berbeda dari yang mereka bayangkan, tetapi tetap menjadi pilihan yang paling memungkinkan.
Pengalaman tersebut mengajarkan siswa tentang kompromi dan realitas dalam kehidupan bersama. Dalam sebuah lingkungan sekolah, keputusan tidak selalu dapat mengikuti keinginan setiap individu.
Sekolah dapat memiliki berbagai bentuk komunikasi untuk menyampaikan informasi atau menerima masukan. Siswa perlu memahami fungsi masing-masing saluran tersebut dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Jika tersedia wali kelas, guru, konselor, atau pihak administrasi untuk menangani persoalan tertentu, siswa dapat memanfaatkan jalur tersebut. Hal ini lebih baik daripada menyebarkan keluhan melalui grup yang tidak berkaitan dengan masalah.
Penggunaan saluran yang tepat juga membantu menjaga privasi. Persoalan pribadi tidak selalu perlu diketahui oleh seluruh teman sekelas.
Kemampuan menyampaikan keluhan dapat dilatih melalui berbagai aktivitas sekolah. Diskusi kelas, presentasi, kerja kelompok, organisasi siswa, maupun kegiatan kokurikuler memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat dalam situasi yang berbeda.
Dalam kegiatan kelompok, misalnya, siswa mungkin perlu mengatakan bahwa pembagian pekerjaan belum seimbang. Dalam diskusi, mereka mungkin memiliki pendapat berbeda dari anggota lain. Dalam kegiatan sekolah, mereka juga dapat menemukan kendala yang membutuhkan komunikasi dengan guru atau panitia.
Situasi tersebut dapat menjadi latihan nyata bagi siswa untuk menyampaikan sesuatu tanpa langsung menyalahkan orang lain.
Guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana ketika siswa merasa aman untuk menyampaikan kesulitan. Ketika siswa mengetahui bahwa pertanyaan dan masukan dapat disampaikan dengan cara yang sopan, mereka akan lebih mudah belajar terbuka.
Guru juga dapat membantu siswa memperbaiki cara menyampaikan masalah. Jika keluhan masih terlalu umum atau emosional, siswa dapat diarahkan untuk menjelaskan fakta dan kebutuhannya dengan lebih jelas.
Proses seperti ini bukan hanya menyelesaikan satu masalah. Siswa juga mendapatkan keterampilan komunikasi yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.
Setelah menyampaikan keluhan, siswa perlu memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk merespons. Respons tersebut mungkin berupa penjelasan, pertanyaan, saran, atau keputusan yang tidak sesuai harapan.
Siswa dapat belajar tidak langsung menganggap respons berbeda sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya. Bisa saja pihak lain memiliki informasi atau pertimbangan yang belum diketahui.
Dengan membiasakan diri mendengarkan respons, siswa belajar bahwa komunikasi merupakan proses dua arah. Menyampaikan pendapat hanyalah satu bagian dari komunikasi, sedangkan memahami tanggapan orang lain merupakan bagian lainnya.
Jika disampaikan melalui cara yang tepat, keluhan siswa juga dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi sekolah. Siswa merupakan bagian dari lingkungan sekolah dan mengalami berbagai kegiatan secara langsung.
Masukan mengenai kenyamanan belajar, kegiatan, fasilitas, atau proses komunikasi dapat membantu pihak sekolah mengetahui hal-hal yang mungkin belum terlihat dari sudut pandang pengelola.
Namun, masukan akan lebih mudah dipertimbangkan jika disampaikan secara jelas, sopan, dan berdasarkan pengalaman yang nyata. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi penerima aturan, tetapi juga belajar menjadi bagian dari lingkungan sekolah yang komunikatif.
Masalah kecil yang tidak pernah dibicarakan terkadang dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Karena itu, siswa perlu belajar menyampaikan kendala sejak awal dengan cara yang proporsional.
Bukan berarti setiap ketidaknyamanan harus langsung dipermasalahkan. Siswa tetap perlu mempertimbangkan situasi dan menentukan apakah sesuatu memang membutuhkan perhatian.
Jika memang perlu dibicarakan, menyampaikannya lebih awal dapat membuat penyelesaian menjadi lebih mudah. Siswa pun belajar bahwa komunikasi dapat digunakan untuk mencegah masalah, bukan hanya menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur besar.
Kemampuan menyampaikan keluhan sebenarnya berkaitan dengan banyak keterampilan sekaligus. Siswa belajar mengenali masalah, mengatur emosi, memilih kata, menentukan pihak yang tepat, menyampaikan fakta, mendengarkan respons, dan menerima keputusan.
Lingkungan SMP dapat menjadi tempat yang baik untuk melatih semua kemampuan tersebut. Melalui pembelajaran dan interaksi sehari-hari, siswa perlahan memahami bahwa suara mereka memiliki nilai, tetapi cara menyampaikannya juga memiliki tanggung jawab.
Ketika siswa terbiasa menyampaikan masalah secara jelas dan sopan, komunikasi di lingkungan sekolah dapat menjadi lebih terbuka. Mereka tidak harus memendam semua persoalan, tetapi juga tidak perlu melampiaskannya secara sembarangan. Kemampuan menemukan cara yang tepat untuk berbicara menjadi salah satu bekal penting dalam kehidupan sekolah dan hubungan sosial mereka.