Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Siswa SMP menjalani berbagai aktivitas dalam satu hari. Selain mengikuti pembelajaran di sekolah, mereka mungkin memiliki tugas, kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan rumah, waktu bersama keluarga, hobi, dan aktivitas lainnya. Banyaknya kegiatan tersebut terkadang membuat siswa merasa semua hal harus dikerjakan sekaligus. Akibatnya, mereka dapat merasa terburu-buru, lupa menyelesaikan tugas, atau justru menghabiskan terlalu banyak waktu pada kegiatan yang sebenarnya tidak mendesak.
Di sinilah kemampuan menetapkan prioritas menjadi penting. Menentukan prioritas berarti belajar mengenali kegiatan mana yang perlu didahulukan berdasarkan tingkat kepentingan dan waktunya. Kemampuan ini bukan sekadar tentang menjadi lebih sibuk atau menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan, tetapi tentang menggunakan waktu dan tenaga untuk hal-hal yang memang perlu diperhatikan terlebih dahulu.
Kebiasaan menetapkan prioritas dapat membantu siswa menjadi lebih teratur dalam menjalani aktivitas. Kemampuan ini juga dapat berkembang sejak hal-hal sederhana, seperti menentukan tugas yang harus diselesaikan lebih dulu hingga membedakan antara sesuatu yang penting dan sesuatu yang hanya menarik untuk dilakukan.
Prioritas dapat dipahami sebagai urutan kepentingan. Ketika memiliki beberapa kegiatan, siswa perlu melihat mana yang harus dilakukan terlebih dahulu dan mana yang masih dapat dilakukan setelahnya. Tidak semua aktivitas memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Misalnya, seorang siswa memiliki tugas yang harus dikumpulkan besok, latihan ekstrakurikuler sore ini, dan keinginan untuk bermain gim. Ketiganya sama-sama merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari, tetapi tingkat urgensinya berbeda. Tugas yang memiliki batas pengumpulan dekat tentu perlu mendapat perhatian lebih awal dibandingkan kegiatan yang masih bisa dilakukan kapan saja.
Belajar menetapkan prioritas bukan berarti siswa harus meninggalkan semua kegiatan yang menyenangkan. Justru dengan mengetahui urutan kegiatan, siswa dapat menemukan waktu yang tepat untuk belajar sekaligus beristirahat dan menikmati hobinya.
Salah satu tantangan bagi siswa adalah membedakan kegiatan yang benar-benar penting dengan kegiatan yang terasa menarik pada saat itu. Sesuatu yang menyenangkan belum tentu harus dilakukan terlebih dahulu.
Media sosial, video, gim, atau aktivitas hiburan lainnya dapat memberikan kesenangan secara cepat. Karena itu, siswa mungkin lebih tertarik melakukan kegiatan tersebut dibandingkan menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Jika tidak memiliki prioritas yang jelas, pekerjaan yang penting dapat terus ditunda.
Siswa dapat mulai membiasakan diri bertanya sebelum melakukan sesuatu: “Apakah ini harus dilakukan sekarang?” dan “Apa akibatnya jika saya menundanya?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mereka melihat sebuah kegiatan dengan lebih objektif.
Batas waktu atau deadline merupakan salah satu hal yang dapat membantu siswa menentukan prioritas. Tugas yang harus dikumpulkan besok tentu membutuhkan perhatian lebih cepat daripada tugas yang baru harus diselesaikan minggu depan.
Namun, siswa sebaiknya tidak selalu menunggu hingga mendekati batas waktu. Jika sebuah tugas membutuhkan proses panjang, pekerjaan tersebut dapat mulai dikerjakan lebih awal meskipun deadline masih jauh. Dengan begitu, siswa memiliki waktu untuk memeriksa kembali hasil pekerjaannya.
Kebiasaan memperhatikan tenggat waktu juga dapat mengurangi kemungkinan siswa lupa terhadap tanggung jawab. Mereka menjadi lebih terbiasa melihat aktivitas bukan hanya berdasarkan keinginan, tetapi juga berdasarkan kewajiban yang harus diselesaikan.
Ketika melihat banyak tugas sekaligus, siswa mungkin merasa harus menyelesaikan semuanya dalam waktu yang sama. Padahal, mengerjakan terlalu banyak hal secara bersamaan dapat membuat perhatian terbagi.
Lebih baik siswa menentukan satu pekerjaan yang menjadi fokus, menyelesaikannya sesuai kemampuan, kemudian melanjutkan ke pekerjaan berikutnya. Jika terdapat tugas yang sangat besar, tugas tersebut dapat dibagi menjadi beberapa bagian kecil.
Misalnya, daripada berpikir “Aku harus menyelesaikan seluruh laporan hari ini,” siswa dapat membaginya menjadi beberapa tahap: mencari informasi, membuat kerangka, menulis bagian pertama, memeriksa isi, dan menyelesaikan bagian akhir. Cara tersebut membuat pekerjaan terasa lebih teratur dan lebih mudah dimulai.
Menetapkan prioritas bukan berarti membuat urutan yang tidak boleh berubah. Situasi dapat berubah sehingga siswa perlu menyesuaikan kembali urutannya.
Misalnya, siswa sudah berencana mengerjakan tugas pada sore hari, tetapi guru tiba-tiba memberikan tugas lain yang harus dikumpulkan keesokan pagi. Dalam kondisi tersebut, siswa perlu melihat kembali pekerjaan mana yang lebih mendesak.
Kemampuan menyesuaikan prioritas menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mengikuti jadwal secara kaku. Mereka belajar mempertimbangkan keadaan dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan. Keterampilan seperti ini akan semakin berguna ketika menghadapi tanggung jawab yang lebih banyak.
Salah satu bentuk kemampuan menetapkan prioritas adalah mengetahui kapan harus menunda sesuatu. Tidak semua kegiatan harus langsung dilakukan ketika muncul keinginan untuk melakukannya.
Jika sedang menyelesaikan tugas dan tiba-tiba ingin menonton video, misalnya, siswa dapat menyimpan keinginan tersebut untuk dilakukan setelah tugas selesai. Ini bukan berarti hiburan tidak penting. Siswa hanya belajar memberikan waktu yang tepat untuk setiap aktivitas.
Kebiasaan tersebut membutuhkan latihan karena otak cenderung tertarik pada sesuatu yang memberikan kesenangan secara cepat. Namun, semakin sering siswa mempraktikkannya, semakin mudah mereka mengendalikan dorongan untuk berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain.
Siswa tidak harus menggunakan sistem yang rumit untuk menentukan prioritas. Daftar sederhana dapat menjadi alat yang sangat membantu. Mereka dapat menuliskan beberapa kegiatan yang harus dilakukan kemudian memberikan tanda pada kegiatan yang paling penting atau memiliki batas waktu paling dekat.
Contohnya:
Setelah membuat daftar, siswa dapat mengurutkannya berdasarkan kepentingan. Daftar tersebut juga dapat mengurangi beban pikiran karena siswa tidak perlu terus-menerus mengingat semua tugas di kepala.
Dalam kehidupan siswa, prioritas bukan hanya tentang tugas akademik. Kebutuhan pribadi juga perlu diperhatikan. Makan, tidur, beristirahat, menjaga kebersihan diri, dan meluangkan waktu bersama keluarga merupakan bagian dari kehidupan yang juga memiliki nilai penting.
Siswa yang hanya memprioritaskan tugas tanpa memperhatikan kondisi dirinya dapat merasa kelelahan. Sebaliknya, terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hiburan juga dapat membuat tanggung jawab terabaikan. Karena itu, menentukan prioritas membutuhkan keseimbangan.
Siswa dapat belajar melihat kebutuhan secara menyeluruh. Ketika tubuh membutuhkan istirahat, tidur yang cukup dapat menjadi prioritas. Ketika ada tugas penting yang harus diselesaikan, belajar perlu mendapatkan waktu yang sesuai. Setelah tanggung jawab selesai, waktu untuk hobi dan hiburan tetap dapat diberikan.
Sekolah merupakan tempat yang baik untuk melatih kemampuan ini. Berbagai tugas, proyek kelompok, kegiatan kelas, maupun ekstrakurikuler dapat membuat siswa belajar mengatur urutan tanggung jawab.
Guru dapat memberikan tugas yang memiliki beberapa tahapan sehingga siswa perlu menentukan pekerjaan mana yang harus dilakukan lebih dahulu. Dalam kegiatan kelompok, siswa juga dapat belajar membagi pekerjaan berdasarkan kebutuhan dan tenggat waktu.
Pengalaman tersebut membantu siswa memahami bahwa prioritas tidak hanya digunakan ketika belajar sendiri. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan ketika bekerja bersama orang lain karena keputusan satu anggota dapat memengaruhi pekerjaan anggota lainnya.
Orang tua dapat membantu anak belajar menentukan prioritas dengan memberikan arahan, bukan selalu membuatkan keputusan. Ketika anak memiliki banyak kegiatan, orang tua dapat mengajak mereka membicarakan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Misalnya, orang tua dapat bertanya, “Mana yang deadline-nya paling dekat?” atau “Kalau tugas ini tidak dikerjakan sekarang, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan seperti itu membantu anak belajar berpikir sendiri.
Jika setiap keputusan selalu dibuatkan oleh orang tua, siswa mungkin menjadi kurang terbiasa menentukan pilihan. Sebaliknya, ketika diberikan kesempatan untuk mempertimbangkan sendiri dengan tetap mendapatkan pendampingan, mereka dapat membangun kemandirian secara bertahap.
Banyaknya aktivitas dapat terasa melelahkan ketika semuanya terlihat sama penting. Dengan menentukan prioritas, siswa memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Mereka tidak perlu terus memikirkan seluruh tugas sekaligus. Fokus dapat diarahkan pada satu pekerjaan, kemudian beralih ke pekerjaan berikutnya setelah selesai. Cara ini dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih terkendali.
Kemampuan menentukan prioritas juga mengajarkan siswa bahwa produktif bukan berarti selalu melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Terkadang, menyelesaikan satu hal penting dengan baik jauh lebih bermanfaat daripada mengerjakan banyak hal tetapi tidak ada yang benar-benar selesai.
Kemampuan menentukan prioritas dapat dimulai dari rutinitas sederhana. Setiap pagi atau malam sebelumnya, siswa dapat melihat kegiatan yang akan dilakukan, menentukan mana yang paling penting, kemudian menyesuaikan urutannya berdasarkan waktu yang tersedia.
Seiring berjalannya waktu, siswa akan semakin terbiasa memperhatikan kebutuhan sebelum mengambil keputusan. Mereka dapat memahami kapan harus fokus, kapan dapat beristirahat, dan kapan sebuah kegiatan masih bisa ditunda.
Kebiasaan ini menjadi salah satu bekal penting bagi siswa karena tanggung jawab akan terus bertambah seiring pertumbuhan mereka. Dengan belajar menentukan apa yang harus didahulukan sejak SMP, siswa memiliki dasar yang lebih baik untuk menghadapi kegiatan akademik, organisasi, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari di masa mendatang.