Business email

Mengapa Siswa Perlu Belajar Menulis Surat atau Pesan Resmi?

Kemampuan berkomunikasi tidak hanya berkaitan dengan cara berbicara. Siswa juga perlu memahami bagaimana menyampaikan informasi melalui tulisan dengan bahasa yang jelas dan sesuai situasi. Salah satu keterampilan yang dapat dikenalkan sejak sekolah adalah menulis surat atau pesan resmi.

Dalam kehidupan sehari-hari, siswa mungkin lebih sering berkomunikasi melalui pesan singkat dengan teman. Bahasa yang digunakan biasanya santai dan tidak membutuhkan struktur tertentu. Namun, ketika berkomunikasi dengan guru, pihak sekolah, organisasi, atau orang lain dalam situasi tertentu, cara menyampaikan pesan perlu disesuaikan.

Pembelajaran menulis surat atau pesan resmi dapat menjadi latihan sederhana untuk mengenalkan perbedaan antara komunikasi informal dan formal. Siswa belajar memilih kata, menyusun informasi, serta menyampaikan tujuan tanpa membuat pesan menjadi berbelit-belit. Keterampilan ini juga dapat digunakan dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk ketika siswa mengikuti organisasi, kepanitiaan, maupun kegiatan lain di lingkungan Al Ma’soem Bandung.

Memahami Perbedaan Bahasa Formal dan Informal

Hal pertama yang dapat dipelajari siswa adalah bahwa setiap situasi komunikasi memiliki gaya bahasa yang berbeda. Pesan kepada teman dekat tentu tidak harus menggunakan susunan kalimat yang sama dengan pesan kepada guru atau pihak sekolah.

Bahasa formal umumnya membutuhkan pilihan kata yang lebih sopan dan jelas. Siswa juga perlu memperhatikan bagaimana mereka membuka pesan, menjelaskan maksud, serta menutup komunikasi.

Pembelajaran ini tidak berarti siswa harus selalu menggunakan bahasa yang kaku. Justru siswa belajar menyesuaikan bahasa dengan siapa penerima pesan, tujuan komunikasi, dan situasi yang sedang dihadapi.

Belajar Menyampaikan Tujuan dengan Jelas

Pesan resmi sebaiknya memiliki tujuan yang mudah dipahami. Karena itu, siswa perlu belajar menjawab pertanyaan sederhana seperti siapa dirinya, mengapa menghubungi penerima, apa yang ingin disampaikan, dan apakah ada hal yang perlu ditindaklanjuti.

Misalnya, ketika seorang siswa ingin meminta izin karena tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah, informasi yang disampaikan perlu cukup jelas. Penerima pesan tidak seharusnya harus menebak-nebak maksud dari pesan tersebut.

Latihan seperti ini membantu siswa mengurangi kebiasaan menulis pesan yang terlalu singkat tetapi tidak memberikan informasi penting. Mereka belajar bahwa komunikasi yang baik bukan hanya tentang banyaknya kata, melainkan kelengkapan informasi yang relevan.

Mengenal Struktur Surat

Surat resmi memiliki bagian-bagian tertentu yang dapat dipelajari siswa. Struktur tersebut dapat berbeda tergantung jenis surat, tetapi secara umum siswa dapat dikenalkan pada bagian seperti tujuan surat, salam pembuka, isi, dan penutup.

Pembelajaran struktur membuat siswa memahami bahwa tulisan resmi memiliki susunan yang membantu pembaca mengikuti informasi. Mereka tidak perlu menghafal berbagai format sekaligus.

Guru dapat memberikan contoh sederhana dan meminta siswa mencoba membuat surat berdasarkan situasi tertentu. Misalnya, membuat surat permohonan izin mengikuti kegiatan atau surat undangan untuk kegiatan kelas.

Melatih Ketelitian dalam Menulis

Komunikasi resmi membutuhkan ketelitian. Nama penerima, tanggal, waktu, tempat, serta informasi lain perlu diperiksa sebelum pesan dikirim atau surat diberikan.

Kesalahan kecil pada informasi dapat membuat pesan menjadi membingungkan. Karena itu, siswa dapat dibiasakan membaca kembali tulisan sebelum dikirim.

Kebiasaan memeriksa ulang juga dapat diterapkan pada tugas sekolah lainnya. Siswa belajar bahwa proses menulis tidak selalu berhenti setelah kalimat terakhir selesai dibuat. Ada tahap pengecekan yang penting dilakukan sebelum tulisan digunakan.

Mengajarkan Etika Menghubungi Guru

Siswa juga perlu memahami bahwa menghubungi guru melalui pesan memiliki etika tertentu. Waktu mengirim pesan, salam pembuka, cara memperkenalkan diri, dan penyampaian maksud merupakan bagian yang perlu diperhatikan.

Misalnya, siswa dapat belajar untuk tidak langsung mengirimkan permintaan tanpa menjelaskan identitas dan tujuan. Mereka juga dapat memahami bahwa guru mungkin membutuhkan waktu untuk membaca dan memberikan respons.

Kebiasaan tersebut membantu siswa memahami bahwa komunikasi digital tetap membutuhkan sopan santun. Walaupun pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, penerimanya tetap merupakan orang lain yang perlu dihargai.

Menulis Pesan Singkat tetapi Lengkap

Pesan resmi tidak selalu harus panjang. Dalam beberapa situasi, pesan yang singkat justru lebih efektif selama informasi penting sudah disampaikan.

Siswa dapat berlatih mengurangi kalimat yang tidak diperlukan tanpa menghilangkan informasi utama. Mereka dapat belajar membedakan bagian yang penting dan bagian yang hanya menjadi tambahan.

Contohnya, sebuah pesan mengenai perubahan jadwal kegiatan sebaiknya mencantumkan informasi mengenai kegiatan apa yang berubah, jadwal sebelumnya, jadwal baru, serta informasi lain yang memang diperlukan.

Menghindari Bahasa yang Membingungkan

Salah satu tujuan komunikasi tertulis adalah memastikan pembaca memahami pesan dengan benar. Karena itu, siswa dapat belajar menghindari penggunaan singkatan yang tidak umum, kalimat terlalu panjang, atau susunan informasi yang tidak beraturan.

Penggunaan tanda baca juga dapat diperkenalkan melalui latihan sederhana. Siswa dapat melihat bagaimana tanda koma, titik, atau tanda tanya dapat memengaruhi kejelasan tulisan.

Latihan semacam ini membantu siswa melihat bahwa kemampuan menulis bukan hanya mengenai penggunaan kata yang bagus, tetapi juga tentang membuat informasi mudah dipahami.

Berguna untuk Kegiatan Organisasi dan Kepanitiaan

Keterampilan menulis pesan resmi dapat digunakan ketika siswa mengikuti organisasi atau menjadi bagian dari kepanitiaan. Mereka mungkin perlu menghubungi guru pembina, menyampaikan informasi kegiatan, atau berkomunikasi dengan pihak lain.

Dalam situasi tersebut, pesan yang jelas dapat membantu koordinasi berjalan lebih teratur. Siswa juga dapat belajar bahwa komunikasi menjadi bagian penting dalam menjalankan sebuah kegiatan.

Pengalaman ini dapat semakin berkembang ketika siswa diberi kesempatan membuat undangan, pengumuman, permohonan izin, atau bentuk komunikasi tertulis lainnya.

Mengenalkan Email kepada Siswa

Selain surat, siswa juga dapat diperkenalkan pada komunikasi resmi melalui email. Email memiliki beberapa bagian yang perlu diperhatikan, seperti alamat penerima, subjek, salam pembuka, isi pesan, dan penutup.

Bagian subjek, misalnya, membantu penerima mengetahui topik pesan sebelum membuka isinya. Siswa dapat belajar membuat subjek yang singkat tetapi menggambarkan isi email.

Mereka juga perlu memahami bahwa email yang dikirim kepada guru atau pihak sekolah sebaiknya menggunakan bahasa yang sesuai dan menyertakan identitas apabila diperlukan.

Belajar Bertanggung Jawab atas Pesan yang Dikirim

Pesan tertulis dapat menjadi bagian dari komunikasi resmi. Karena itu, siswa perlu memahami bahwa sebelum mengirim pesan, mereka sebaiknya membaca kembali apa yang sudah ditulis.

Mereka dapat memeriksa apakah penerima sudah benar, informasi yang disampaikan sudah lengkap, serta bahasa yang digunakan sudah sesuai. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan sederhana.

Siswa juga dapat belajar bahwa pesan yang sudah dikirim mungkin sulit ditarik kembali. Oleh sebab itu, berpikir sebelum mengirim merupakan bagian dari keterampilan komunikasi yang perlu dibangun.

Menjadi Bekal untuk Kehidupan Setelah Sekolah

Keterampilan menulis secara formal tidak hanya berguna selama siswa berada di sekolah. Setelah lulus, mereka akan menemukan berbagai situasi yang membutuhkan komunikasi tertulis dengan bahasa yang lebih terstruktur.

Saat mendaftar kegiatan, mengikuti organisasi, berkomunikasi dalam lingkungan kerja, mengirim permohonan, atau menyampaikan informasi kepada pihak tertentu, kemampuan menulis dengan jelas akan menjadi keterampilan yang berguna.

Karena itu, latihan sederhana di sekolah dapat menjadi dasar bagi kebiasaan komunikasi yang lebih baik. Siswa tidak hanya belajar bagaimana membuat surat atau pesan, tetapi juga belajar mempertimbangkan penerima, tujuan, konteks, serta dampak dari informasi yang mereka sampaikan.

Kegiatan menulis surat dan pesan resmi dapat dilakukan melalui latihan yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan contoh yang konkret dan kesempatan untuk memperbaiki tulisan, siswa dapat memahami bahwa komunikasi formal bukan sesuatu yang rumit, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari secara bertahap.