Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Setiap hari di sekolah, siswa mempelajari berbagai materi baru. Ada materi yang terasa mudah karena berhubungan dengan sesuatu yang sudah pernah diketahui, tetapi ada juga materi yang terasa sulit karena siswa belum menemukan kaitannya dengan pengalaman atau pengetahuan sebelumnya. Salah satu cara yang dapat membantu proses belajar adalah menghubungkan informasi baru dengan hal-hal yang sudah dikenal.
Pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebenarnya dapat menjadi dasar untuk memahami konsep berikutnya. Ketika sebuah informasi baru memiliki hubungan dengan pengalaman, pelajaran, atau kejadian yang pernah ditemui, siswa memiliki titik awal untuk memahaminya. Karena itu, belajar tidak selalu berarti memulai dari sesuatu yang benar-benar baru. Banyak pemahaman berkembang dengan cara menghubungkan pengetahuan lama dan informasi baru.
Ketika siswa mendapatkan materi baru, mereka tidak datang dengan pikiran yang kosong. Mereka sudah memiliki pengalaman dari rumah, lingkungan sekolah, percakapan dengan orang lain, buku yang pernah dibaca, maupun pembelajaran sebelumnya. Pengalaman tersebut dapat digunakan untuk membangun pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari.
Misalnya, siswa sudah mengetahui bahwa es dapat berubah menjadi air ketika berada di tempat yang lebih hangat. Pengetahuan sederhana tersebut dapat menjadi dasar ketika mereka mempelajari perubahan wujud benda secara lebih mendalam dalam pelajaran sains.
Dengan menghubungkan dua pengetahuan tersebut, materi baru terasa lebih familiar. Siswa tidak hanya menerima istilah baru, tetapi dapat mengaitkannya dengan sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri.
Dalam proses belajar, hubungan antara materi lama dan materi baru tidak selalu berarti keduanya memiliki isi yang sama. Terkadang pengetahuan sebelumnya hanya menjadi gambaran awal untuk memahami konsep yang lebih kompleks.
Contohnya, siswa mungkin sudah memahami bahwa kendaraan dapat bergerak ketika didorong atau diberi tenaga. Pengetahuan tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk memahami pembahasan yang lebih rinci mengenai gaya dan gerak.
Guru dapat membantu siswa menemukan hubungan tersebut dengan memberikan pertanyaan sederhana. “Pernahkah kalian melihat hal seperti ini?” atau “Apa yang kalian ketahui tentang hal ini sebelumnya?” Pertanyaan seperti itu dapat membuat siswa mulai mengingat pengetahuan yang relevan.
Salah satu cara membuat materi baru lebih mudah dipahami adalah memulai pembahasan dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa. Sebelum menjelaskan teori, guru dapat mengajak siswa membicarakan situasi yang pernah mereka alami.
Misalnya, sebelum membahas konsep kapasitas, siswa dapat diajak membandingkan botol minum, gelas, dan wadah lain yang biasa digunakan. Sebelum membahas energi, siswa dapat diajak mengamati penggunaan listrik di kelas.
Pengalaman sederhana tersebut dapat menjadi jembatan menuju materi yang lebih akademis. Siswa memiliki sesuatu yang dapat dibayangkan terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan istilah atau penjelasan yang lebih formal.
Siswa terkadang sebenarnya sudah memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan materi baru, tetapi belum menyadarinya. Pertanyaan pembuka dapat membantu mereka mengingat kembali informasi tersebut.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:
Pertanyaan tersebut dapat digunakan sebelum pembelajaran dimulai. Dengan begitu, siswa mempunyai kesempatan untuk mengaktifkan pengetahuan yang sudah tersimpan dalam ingatan.
Materi dari satu pelajaran terkadang memiliki hubungan dengan pelajaran lainnya. Kemampuan melihat hubungan tersebut dapat membuat pengetahuan siswa menjadi lebih terintegrasi.
Matematika, misalnya, dapat digunakan ketika siswa mempelajari data dalam sains. Bahasa digunakan ketika siswa perlu membaca dan menjelaskan hasil pengamatan. Pengetahuan sosial dapat membantu ketika siswa mempelajari perkembangan suatu masyarakat dalam konteks sejarah.
Hubungan seperti ini menunjukkan bahwa mata pelajaran tidak selalu berdiri sendiri. Dalam kehidupan nyata, berbagai jenis pengetahuan sering digunakan secara bersamaan untuk memahami sebuah persoalan.
Siswa juga dapat melatih kemampuan menghubungkan pengetahuan melalui catatan. Daripada hanya menyalin semua informasi dari papan tulis atau buku, siswa dapat menambahkan hubungan dengan materi yang sudah pernah dipelajari.
Misalnya, ketika mendapatkan konsep baru, siswa dapat menuliskan catatan kecil seperti “berhubungan dengan materi sebelumnya tentang…” atau “contohnya pernah ditemukan saat…”. Catatan semacam itu dapat membantu siswa mengingat konteks ketika membuka kembali materi tersebut.
Cara lain adalah menggunakan diagram sederhana. Materi baru dapat ditempatkan di tengah, kemudian dihubungkan dengan konsep yang sudah dikenal. Tidak perlu membuat diagram yang rumit. Yang penting adalah hubungan antargagasan dapat terlihat dengan jelas.
Contoh yang familiar dapat menjadi alat bantu untuk memperkenalkan konsep baru. Ketika siswa memahami sebuah contoh, guru dapat secara bertahap mengarahkannya menuju konsep yang lebih luas.
Misalnya, dalam pembelajaran ekonomi, siswa mungkin sudah memiliki pengalaman menggunakan uang saku untuk membeli kebutuhan tertentu. Pengalaman tersebut dapat menjadi titik awal untuk membicarakan kebutuhan, keinginan, prioritas, dan pengelolaan uang.
Dalam pelajaran sains, pengalaman melihat tanaman tumbuh juga dapat menjadi dasar untuk membahas kebutuhan tumbuhan. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya menghafalkan definisi, tetapi memahami bahwa konsep yang dipelajari memiliki bentuk nyata di sekitar mereka.
Ketika memulai materi baru, siswa tidak perlu merasa bahwa mereka harus selalu menunggu penjelasan guru untuk mengetahui sesuatu. Jika mereka sudah memiliki pengalaman atau pengetahuan yang berkaitan, mereka dapat menyampaikannya dalam diskusi.
Namun, siswa juga perlu memahami bahwa pengetahuan sebelumnya mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan terdapat informasi yang kurang tepat atau pemahaman yang perlu diperbaiki.
Hal tersebut bukan masalah. Justru proses pembelajaran dapat digunakan untuk memperbaiki pengetahuan lama berdasarkan informasi yang lebih lengkap. Guru dapat membantu siswa membedakan antara apa yang sudah mereka ketahui, apa yang masih menjadi dugaan, dan apa yang baru mereka pelajari.
Materi yang sulit terkadang terasa lebih ringan jika siswa menemukan titik kait dengan sesuatu yang sudah dipahami. Daripada mencoba menghafalkan seluruh informasi sekaligus, siswa dapat mencari bagian yang familiar terlebih dahulu.
Misalnya, ketika menemukan konsep yang memiliki beberapa tahapan, siswa dapat menghubungkan setiap tahapan dengan proses yang pernah mereka lihat. Jika menemukan istilah baru, mereka dapat mencari konsep lama yang memiliki hubungan.
Strategi ini membuat siswa memiliki pegangan ketika mempelajari informasi yang lebih kompleks. Mereka tidak harus mengingat semuanya dalam satu waktu karena dapat membangun pemahaman secara bertahap.
Teman sekelas juga dapat membantu siswa menemukan hubungan antara materi baru dan pengetahuan yang sudah dimiliki. Setiap siswa memiliki pengalaman yang berbeda sehingga satu siswa mungkin menemukan contoh yang tidak terpikirkan oleh siswa lainnya.
Dalam diskusi kelompok, siswa dapat saling menceritakan apa yang mereka ketahui sebelum mempelajari materi tersebut. Dari percakapan tersebut, mereka dapat menemukan kesamaan maupun perbedaan pemahaman.
Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa belajar dari orang lain tidak selalu berarti menerima jawaban begitu saja. Siswa tetap perlu mendengarkan, membandingkan, dan memastikan apakah informasi yang diperoleh sesuai dengan materi.
Menghubungkan materi baru dengan pengetahuan sebelumnya bukan berarti siswa harus selalu mempertahankan pemahaman lama. Ketika mendapatkan informasi baru yang lebih tepat, siswa perlu bersedia memperbaiki pemahamannya.
Proses tersebut merupakan bagian alami dari belajar. Seseorang dapat memiliki pemahaman sederhana ketika masih kecil, kemudian mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap ketika berada di jenjang pendidikan berikutnya.
Karena itu, siswa dapat membiasakan diri bertanya, “Apa yang berubah dari pemahamanku setelah mempelajari materi ini?” Pertanyaan tersebut membantu mereka melihat perkembangan pengetahuan dari waktu ke waktu.
Ketika informasi baru berhasil dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, siswa dapat melihat materi sebagai bagian dari pengetahuan yang terus berkembang. Satu konsep dapat menjadi dasar untuk memahami konsep lainnya, sementara pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari teori yang lebih mendalam.
Kebiasaan menghubungkan materi juga membuat siswa lebih aktif selama pembelajaran. Mereka dapat mencari kaitan, mengajukan pertanyaan, memberikan contoh, membuat catatan, dan mendiskusikan hubungan antara informasi lama dan baru.
Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berisi kegiatan menerima informasi dari guru atau buku. Siswa juga memiliki peran untuk membangun hubungan antargagasan berdasarkan apa yang sudah mereka ketahui dan apa yang sedang mereka pelajari.