Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Berbicara merupakan salah satu aktivitas yang hampir selalu dilakukan siswa selama berada di sekolah. Siswa berbicara ketika berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, mengikuti kerja kelompok, menyampaikan pendapat, membeli makanan di kantin, hingga bercanda ketika waktu istirahat. Karena dilakukan setiap hari, cara berbicara sebenarnya menjadi bagian penting dari kebiasaan siswa dalam membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Salah satu hal sederhana yang sering terlupakan adalah mengatur volume suara. Berbicara terlalu pelan dapat membuat lawan bicara kesulitan memahami pembicaraan, sedangkan suara yang terlalu keras dapat mengganggu orang lain yang sedang belajar atau beraktivitas. Siswa tidak harus selalu berbicara dengan suara kecil, tetapi perlu memahami bahwa volume suara sebaiknya disesuaikan dengan tempat, situasi, dan siapa yang sedang diajak berkomunikasi.
Volume suara yang sesuai di satu tempat belum tentu cocok digunakan di tempat lain. Ketika berada di ruang kelas yang sedang digunakan untuk pembelajaran, misalnya, siswa perlu menjaga suara agar tidak mengganggu penjelasan guru atau konsentrasi teman. Sementara itu, ketika berada di lapangan olahraga, suara yang lebih keras mungkin diperlukan karena jarak antara siswa cukup jauh dan suasana lingkungan memang lebih aktif.
Kemampuan menyesuaikan volume suara menunjukkan bahwa siswa mulai memahami situasi sosial di sekitarnya. Mereka tidak hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi orang lain. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi bagian dari pembelajaran karakter karena siswa belajar bahwa berkomunikasi dengan baik bukan hanya tentang berbicara, melainkan juga tentang mengetahui kapan dan bagaimana pembicaraan tersebut dilakukan.
Suara yang keras tidak selalu berarti seseorang sedang marah. Dalam banyak situasi, siswa bisa berbicara keras karena terlalu bersemangat, terbiasa berbicara dengan volume tinggi, atau tidak menyadari bahwa suaranya terdengar sampai ke area lain. Namun, jika dilakukan di tempat yang membutuhkan ketenangan, suara tersebut dapat mengganggu aktivitas orang lain.
Contohnya dapat ditemukan ketika beberapa siswa berbicara cukup keras saat teman lainnya sedang membaca atau mengerjakan tugas. Siswa yang sedang berkonsentrasi mungkin membutuhkan suasana yang lebih tenang agar dapat memahami materi. Gangguan suara yang terjadi berulang kali dapat membuat suasana kelas menjadi kurang kondusif, sehingga penting bagi siswa untuk belajar mengenali kapan suara perlu dikecilkan.
Siswa dapat belajar membedakan volume suara berdasarkan tempat dan kegiatan yang sedang dilakukan. Beberapa contoh situasinya antara lain:
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu ukuran volume suara yang berlaku untuk semua keadaan. Siswa justru perlu mengembangkan kemampuan membaca situasi. Semakin sering siswa memperhatikan kondisi lingkungan, semakin mudah bagi mereka untuk menentukan apakah harus berbicara lebih pelan, lebih jelas, atau sedikit lebih kuat.
Kemampuan berkomunikasi tidak hanya berkaitan dengan pilihan kata. Intonasi, ekspresi, kecepatan berbicara, dan volume suara juga memengaruhi bagaimana pesan diterima oleh orang lain. Siswa yang mampu mengatur volume suaranya dapat menyampaikan informasi dengan lebih nyaman bagi lawan bicara karena pembicaraan tidak terlalu sulit didengar maupun terlalu mengganggu.
Dalam kegiatan diskusi kelompok, misalnya, siswa perlu menggunakan suara yang cukup terdengar oleh anggota kelompoknya. Jika suara terlalu pelan, teman mungkin harus terus meminta pengulangan. Sebaliknya, jika suara terlalu keras, kelompok lain yang sedang berdiskusi dapat ikut terganggu. Kemampuan menemukan titik tengah seperti ini dapat membantu kegiatan kelompok berjalan lebih efektif.
Mengatur volume suara juga berkaitan dengan kemampuan mendengarkan. Siswa yang terbiasa memperhatikan orang lain berbicara biasanya lebih mudah mengetahui kapan waktunya memberikan respons dan seberapa keras suara yang dibutuhkan. Mereka juga dapat memahami kondisi ruangan sebelum mulai berbicara.
Kebiasaan mendengarkan menjadi semakin penting dalam pembelajaran. Ketika guru menjelaskan materi, siswa perlu memberikan kesempatan agar penjelasan dapat didengar dengan baik. Ketika teman sedang presentasi, siswa juga perlu menghargai orang yang sedang berbicara. Menunggu giliran dan menggunakan volume suara yang sesuai merupakan bentuk sederhana dari sikap saling menghargai.
Kemampuan mengatur suara dapat dilatih melalui aktivitas sehari-hari. Siswa tidak perlu melakukan latihan khusus yang rumit. Mereka dapat mulai dengan memperhatikan respons orang lain ketika berbicara. Jika teman sering meminta untuk mengulangi karena suara terlalu pelan, siswa dapat mencoba berbicara sedikit lebih jelas. Jika orang di sekitar terlihat terganggu atau meminta suara dikecilkan, siswa dapat menyesuaikannya.
Beberapa kegiatan sekolah juga dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut. Presentasi, menjadi pembawa acara, berdiskusi, mengikuti organisasi, maupun bermain dalam kegiatan olahraga membuat siswa menghadapi situasi komunikasi yang berbeda. Setiap aktivitas memberikan pengalaman mengenai bagaimana suara perlu digunakan sesuai kebutuhan.
Ada anggapan bahwa siswa yang berbicara keras berarti lebih percaya diri. Padahal, percaya diri tidak ditentukan oleh seberapa tinggi volume suara seseorang. Siswa dapat berbicara dengan suara yang jelas, tenang, dan terkontrol tanpa harus terdengar paling keras di antara orang-orang di sekitarnya.
Ketika melakukan presentasi, misalnya, tujuan utama bukan membuat suara sekeras mungkin, tetapi memastikan pesan dapat diterima oleh pendengar. Siswa perlu memperhatikan artikulasi, kecepatan berbicara, jeda, dan intonasi. Dengan begitu, suara yang digunakan dapat terdengar tegas tanpa harus membuat pendengar merasa tidak nyaman.
Sekolah merupakan tempat dengan berbagai aktivitas yang berlangsung secara bersamaan. Dalam satu area, mungkin ada siswa yang sedang belajar, kelompok lain sedang berdiskusi, guru sedang menjelaskan sesuatu, dan siswa lainnya sedang melakukan aktivitas nonakademik. Kondisi tersebut membuat kesadaran terhadap suara menjadi tanggung jawab bersama.
Lingkungan pendidikan seperti Al Ma’soem Bandung yang memiliki beragam kegiatan siswa juga membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar. Siswa dapat belajar bahwa kebebasan berbicara tetap perlu disertai dengan pertimbangan terhadap orang lain. Ketika semua siswa memiliki kesadaran yang sama, suasana sekolah dapat terasa lebih tertib tanpa harus menghilangkan suasana aktif dan komunikatif.
Kemampuan mengatur volume suara bukan hanya berguna selama siswa berada di sekolah. Kebiasaan tersebut dapat diterapkan ketika berada di kendaraan umum, rumah, tempat ibadah, perpustakaan, pusat perbelanjaan, maupun lingkungan masyarakat. Setiap tempat memiliki suasana dan aturan sosial yang berbeda, sehingga kemampuan menyesuaikan cara berbicara akan membantu siswa berinteraksi dengan lebih baik.
Siswa juga akan menghadapi situasi komunikasi yang semakin beragam ketika bertambah usia. Mereka mungkin harus berbicara dalam wawancara, presentasi, organisasi, kegiatan kampus, atau lingkungan kerja. Pengalaman sederhana yang dibangun sejak sekolah dapat menjadi latihan untuk memahami bahwa komunikasi yang baik membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan sekaligus menghargai ruang dan kenyamanan orang lain.
Belajar mengatur volume suara pada dasarnya merupakan latihan untuk menjadi lebih peka terhadap lingkungan. Siswa diajak memperhatikan siapa yang sedang berada di sekitar mereka, kegiatan apa yang sedang berlangsung, serta apakah suara yang digunakan sudah sesuai dengan keadaan. Kepekaan tersebut tidak muncul dalam satu hari, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ketika siswa mulai terbiasa mengevaluasi cara berbicaranya sendiri, mereka tidak harus selalu menunggu teguran dari guru atau orang lain. Mereka dapat secara mandiri mengetahui kapan harus mengecilkan suara, kapan perlu berbicara lebih jelas, dan kapan suasana memang memungkinkan untuk berbicara lebih bebas. Kebiasaan seperti inilah yang membuat kemampuan komunikasi berkembang bukan hanya dari sisi keberanian berbicara, tetapi juga dari kemampuan menghargai orang lain.